Dea I Love You

Dea I Love You
Pria Yang Sudah Menikah


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 46


Oleh Sept


Rate 18 +


Bila Daniel sedang hangat-hangatnya dengan Dea, ada sekeping hati yang tidak sabar untuk pulang ke tanah air. Beberapa saat yang lalu sekretaris Kim menerima vidio call dari sahabat baik Dea, si Metty. Selain menanyakan kondisi terkini Dea, rupanya Metty juga meminta nomor ponsel sekretaris Kim. Dasar Miti, manusia penuh intrik dan modus.


***


Bandara International SOETA


Dea sedang menarik koper, tapi Daniel langsung mengambil alih. Bukan untuk ia bawa sendiri, tapi untuk diberikan pada sekretarisnya. Biarkan Kim yang membawanya, sedangkan ia memilih menggunakan tangannya untuk mengandeng tangan Dea.


"Hati-hati kalau jalan!" salak Daniel pada sosok pria yang berpapasan dengan mereka. Padahal orang tersebut hanya menyenggol bahu Dea.


"Nggak papa, aku nggak papa!"


Sedangkan orang yang menabrak menatap heran, perasaan ia hanya menyenggol sedikit. Mengapa reaksi pria bersama orang yang ia senggol begitu berlebihan?


Sementara Kim, pria itu juga sama tak habis pikirnya. Mengapa Daniel jadi sangat lebay begitu? Gara-gara perempuan bosnya jadi berubah kepribadiannya.


"Tuan tunggu di sini, saya akan ambil mobilnya dulu," sela Kim saat Daniel masih mau ngomel-ngomel.


"Hemmm."


Beberapa menit kemudian, sekretaris Kim datang dengan mengendarai mobil. Ketika Kim akan turun untuk membuka pintu, ia sudah kedahuluan. Karena Daniel dengan sigap membuka pintu untuk Dea. Pria itu kini memperlakukan Dea bagai ratu. Sebelum ia masuk, ia membuka pintu untuk wanitanya. Padahal dulu, mana mau Daniel membuka pintu untuk Dea?


Kim sampai heran, dengan apa sang Nona muda itu menaklukkan Daniel. Mengapa pria yang biasanya dingin dan katanya tidak menyukai sang istri, sekarang terlihat begitu hangat dan perhatian. Daniel seperti kena ajian semar mesem, jaran goyang dan sebagainya.


"Ayo jalan, Kim!" titah Daniel karena Kim tak kunjung menyalakan mesin mobil.


"Baik, Tuan."


Mobil pun melaju meninggalkan kawasan Bandara. Dea yang lelah, memilih menyandarkan kepala di bahu suaminya. Bagai obat nyamuk, Kim melirik lewat spion. Sepertinya ia juga butuh pasangan. Jomblo terlalu lama, membuat ia tambah gegana.


***


"Sayang, bangun," bisik Daniel dengan lembut.


Kim melirik, apa telinganya tidak salah dengar? Sepertinya ia dengar kata sayang barusan.


Dea yang pipinya dibelai lembut, akhirnya membuka mata karena geli.


"Apa sudah sampai?"

__ADS_1


Daniel mengangguk, "Ayo masuk."


Mereka berdua turun dari mobil, Daniel berbalik sebentar menghampiri sang sekretaris dan mengatakan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Dea saat Daniel sudah berdiri sejajar di sampingnya.


"Bukan apa-apa."


Dea tidak bertanya lagi, rasa lelah setelah mengudara membuat ia tidak penasaran. Mereka pun masuk ke apartment bersama-sama.


"Mulai sekarang, kamar Kita di sini." Begitu masuk apartment, Daniel langsung membopong tubuh istrinya. Membawa masuk Dea ke kamar utama. Kamar yang selama ini menjadi kamar pribadi Daniel.


Dea tidak bisa menyembunyikan rasa malunya. Bila boleh jujur, dulu ia benci sekali jika mengingat mau tidur bersama Daniel. Tapi, sekarang. Ah, Dea merasa sudah ketularan sama mesumnya dengan sang suami. Pikirannya jadi keruh, melihat ranjang membuat otaknya seketika memikirkan yang bukan-bukan. Daniel sudah berhasil membuat Dea terkontaminasi.


***


Esok harinya, mereka berdua sedang sarapan. Seperti biasa, Dea memesan lewat aplikasi. Masuk kuliah pagi, membuat ia tidak sempat bila harus memasak.


"Mobilnya sudah selesai diservis, tapi tetep aku anterin ya?"


Dea mengangguk, Danile pun tersenyum puas. Kalau nurut begini kan manis banget istrinya itu.


***


Kampus Biru


"Lepasin dong, nanti aku telat."


"Bentar! Sebentar lagi," ucap Daniel yang tidak mau melepas pelukannya.


"Ish ... jam berapa ini?"


Daniel pun melepas Dea, tapi kemudian mengecup bibir munggil itu. Rasanya ia ingin mengantongi Dea dan membawanya ke kantor.


"Udah ya, aku keluar dulu."


KLEK


Suara pintu terbuka.


"Daaa!" Daniel melempar senyum sebelum Dea berbalik dan menuju ke dalam halaman kampus biru.


Astro Group


Sekretaris Kim terlihat mondar-mandir di depan ruang kerja Daniel. Wajahnya terlihat cemas menunggu kedatangan sang atasan.


Dari ujung lorong terlihat Daniel berjalan tegap, penuh kharismatik dan rasa percaya diri. Pria tampan itu terlihat lebih bersinar, mungkin karena hatinya yang sedang berbunga-bunga.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan!" sapa Kim saat Daniel sudah mendekat.


Daniel mengangguk.


"Tuan ..." cegah Kim saat melihat Daniel akan membuka pintu.


"Ada apa?" Alis Daniel mengerut.


KLEK


Daniel kaget karena pintu belum ia buka tapi ada yang membukanya dari dalam.


"Sayang."


Dara langsung menempel bagai cicak pada tubuh Daniel. Wanita cantik itu mengelayut manja.


"Kamu ke mana aja, aku kangen banget."


Daniel dan Kim saling menatap, bencana sepertinya akan dimulai.


"Ayo masuk, aku bawa sesuatu untuk kamu." Dara menyeret lengan Daniel dengan paksa.


Pria itu mencoba menepis, tapi Dara tidak menyerah. Ia seperti permen karet, menempel dengan lengket.


"Aku sudah bawa makanan kesukaanmu, dan aku juga belum makan. Kita makan bareng ya?" Dara menatap penuh harap. Tanpa menunggu respons Daniel, Dara langsung membuka kotak makan yang ada di atas meja.


"Coba buka!" Dara sudah siap dengan sendok makan di tangan. Ia akan menyuapi kekasihnya. Ya, mereka masih sepasang kekasih. Dara masih menganggap Daniel adalah miliknya.


"Dara."


"Jangan katakan apapun, aku hanya ingin Kita makan bersama."


"Ra ..."


"Aku bilang jangan katakan apapun!"


Suasana hening sesaat.


"Aku sudah menikah!"


PRANGGG


Sendok di tangan Dara jatuh ke lantai, tanpa sengaja tangan Dara juga menyenggol wadah makanan di sampingnya. Membuat semua dalam wadah itu tumpah dan mengotori lantai.


"Maaf, Ra."


Dara menggeleng kepalanya pelan, ia tidak mau menerima kenyataan. Daniel hanya miliknya seorang. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2