
Dea I Love You - Episode 6 (18+)
Oleh Sept
"Mimpi apa aku? Menikah dengan pria seperti ini?" gumam Dea. Ia tidak habis pikir, perjodohan ini benar-benar membuat Dea rugi besar.
"Ayo pulang, mumpung ayahmu belum datang," ajak Daniel dengan santai.
"Ogah! Pulang sendiri sana, aku mau nginep di sini."
"Ish!" Daniel mendesis kesal, mengapa Dea sulit sekali diatur. Rasanya ia ingin demo dan menuntut pada sang Mama. Mengapa harus Dea? Apa tidak ada wanita lain? Hanya karena pertemanan yang akrab kedua orang tua mereka, Daniel merasa harus mengorbankan perasaannya. Kalau bukan karena mempertimbangkan kesehatan Mama Rosie dan Ayah Dea yang beberapa saat lalu mengalami serangan jantung. Lebih baik ia menyusul Dara.
Ini juga gara-gara Sandara, kekasihnya diajak nikah malah memiliki sejuta alasan. Jadilah ia terjebak pernikahan tanpa cinta dengan gadis tengil yang jauh di bawah standardnya. Kini pria itu malah tiba-tiba kepikiran Dara, ia ingat pertemuan dengan kekasihnya semalam.
Flashbacks On
"Dara?" Daniel menatap sosok wanita yang sedang sibuk bicara dengan seorang gadis jangkung tidak jauh dari tempatnya berdiri. Mungkin itu adalah salah satu model Dara. Ya, wanita karir tersebut merupakan desainer kondang. Semua karya-karyanya banyak dipakai model papan atas. Dari model lokal sampai internasional.
"Sejak kapan dia kembali?" batin Daniel, pria itu lantas melangkah mendekati Dara.
"Dara!" ia menyentuh pundak kekasih hatinya.
"Daniel? Kenapa kamu ada di sini?"
"A ... ku ...!" Daniel tergagap. Dara belum tahu kalau ia sudah menikah, tidak mungkin berterus terang kalau di hotel ini ia melangsungkan pernikahan. Daniel pun berbohong, "Ada jamuan sama relasi," Daniel memutar bola matanya, menunjukkan pria itu sedang berbohong.
"Dan kamu sejak kapan sudah di sini?" tambah Daniel.
"Hanya sehari, makanya aku nggak ngabarin kamu. Aku cuma mau nemuin model-model aku, pekan depan kami ada fashion show, dan aku mau pilih langsung siapa yang jadi model untuk memakai rancangan aku."
"Jadi kapan balik?" Daniel terlihat kecewa.
"Sorry ya ... malam ini aku langsung balik!"
Daniel membuang muka, selalu begitu. Bagi Dara karir nomor satu. Daniel hanya nomor ke sekian.
"Tuh kan ... ayolah. Ini makanya aku nggak kasih tahu kamu kalau aku pulang. Jangan merajuk dong sayang," bujuk Dara. Ia kemudian menyuruh modelnya pergi dengan isyarat tangan.
Setelah hanya berdua saja, Dara pun mulai merayu Daniel yang sedang marah padanya. Dengan lembut ia menyetuh tangan Daniel, meremasnya. Menatap dengan pandangan yang menggoda.
Sebagai pria dewasa, jelas Daniel tak kuasa menahan sajian yang menggoda iman itu.
__ADS_1
Apalagi bibir merah merona itu sepertinya minta dijamah. Melihat lobby yang sepi, keduanya akhirnya menepi. Melepas rindu, pertemuan yang tak sengaja, cukup mengobati kerinduan yang selama ini mereka rasakan. LDR beberapa tahun terakhir, membuat keduanya jarang kontak fisik. Malam ini, Daniel dan Dara melepas hasrat di dada. Meski hanya dengan cium-cium, tapi itu cukup membuat Daniel nggak ngambek lagi.
Dua orang itu tidak menyadari, ada sepasang mata yang melotot tajam ke arah mereka. Tepat saat Daniel mencium Dara.
Flashbacks END
"Nona sama Tuan Daniel, apa mau saya siapin makan siang?"
"Apa sih, Bi? Kok nawarin makan terus, Dea nggak lapar. Dan lagi Mas Daniel mau pulang. Iya, kan?" Dea menatap Daniel.
Kalau ada orang, Dea bersikap baik dan sebisa mungkin sopan pada suaminya.
"Iya, Bi ... kami mau pulang bentar lagi!" tukas Daniel.
"Dea malam ini tidur di sini, kan tadi udah ijin sama Mas Daniel? Mas lupa, ya?" Mata Dea melirik tajam pada Daniel.
Daniel menelan ludah, "Kamu mau main-main ya Dea?" batin Daniel.
"Nggak lupa kok, kita kan pengantin baru. Aku nggak bisa jauh-jauh!" Gantian Daniel yang berakting. Dalam hati ia mau muntah.
Melihat betapa manisnya pengantin baru, Bibi yang merawat Dea sejak kecil pun hanya tersenyum. Kemudian memilih masuk ke dalam lagi, tidak mau menganggu pasangan baru tersebut.
Baru saja Bibi pergi, dua orang itu langsung saling menatap dengan sinis.
"Apa Dea?" tanya Daniel yang mendengar suara Dea seperti tawon, mendengung tak jelas.
"Bukan apa-apa!" ketus gadis tersebut sambil berdiri. Dea memutuskan pergi ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian.
Dea penasaran, kok sepi sekali. Ia pun mengintip. Di ruang tengah tidak ada orang, kebetulan Bibi lewat.
"Bi, Mas Daniel ke mana?"
"Sudah pulang, Non!"
Dea manggut-manggut, kemudian masuk ke dalam kamarnya lagi. Sepertinya ia kecewa, bila dekat selalu ribut, bila jauh ... hemm, entahlah! Cepat-cepat Dea mengeleng kepala. "Amit-amit, jangan sampai kepikiran pria sombong itu!"
Malam harinya.
Dea sedang makan malam bersama ayahnya.
__ADS_1
"Kok nggak sama Daniel nginepnya?" tanya Ayah curiga.
"Em ... Mas Daniel ada urusan."
"Kalian tidak bertengar, kan?" Ayah menatap Dea dengan penuh selidik, barangkali pria paruh baya itu mulai curiga.
"Nggak ... nggak, Yah!" Dea mulai panik.
"Baguslah!"
Mereka kembali makan, tapi Dea masih merasa was-was.
Selesai makan, dua orang itu melanjutkan dengan nonton bola. Dibesarkan oleh seorang Ayah, membuat Dea tumbuh sedikit tomboy. Cuek terhadap penampilan dan sikapnya kadang acuh dan kaku.
"Sudah jam sebelas, tidurlah Dea!" seru Ayah yang melihat Dea terus menguap.
"Nggak, Yah. Tanggung, nunggu pinalti."
Beberapa menit kemudian, Ayah menatap putrinya dengan tersenyum. Dea sudah terbang ke dunia lain. Gadis itu terlelap di atas sofa.
Ting tung
Pria paruh baya tersebut menatap ke arah pintu, malam-malam begini siapa yang datang? pikir Ayah.
"Kok malam sekali, Niel?"
"Ada yang harus Daniel urus, Yah. Apa Dea sudah tidur?"
"Tuh!"
Daniel tersenyum tipis, sebisa mungkin ia harus bersikap baik di depan mertuannya itu.
Melihat Dea yang ketiduran sambil nonton TV, Daniel pun membopong tubuh istrinya masuk ke kamar. Dasar Dea, kalau tidur ngebo banget. Saat tubuhnya diletakkan di atas ranjang pun masih tetap pulas.
Melihat sikap Daniel terhadap putrinya, Ayah merasa puas. Rasanya ia tidak salah menjodohkan Dea dengan putra sahabatnya. Mungkin kecurigaannya tadi salah.
Lain lagi di dalam kamar, begitu tidak ada orang. Daniel pun mengeluarkan wajah aslinya.
Gara-gara mamanya vidio call dan tanya di mana menantu kesayangannya, buru-buru Daniel yang kalah itu bersantai di apartemen langsung mengedara ngebut ke rumah Dea.
Mama Rosie sengaja menghubungi Daniel, sebab ayah Dea menghubunginya terlebih dahulu. Ayah curiga, jangan-jangan anak mereka sedang bertengar. Masa pengantin baru tidur terpisah? Mencurigakan.
__ADS_1
Pagi hari, Dea bangun karena merasa gerah. Matanya mengerjap, menatap langit-langit kamar. Kemudian melotot tajam saat melihat sosok yang terlelap di sampingnya. Bersambung.