Dea I Love You

Dea I Love You
Kabar Buruk


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 55


Oleh Sept


Rate 18 +


Melakukan hal seperti itu ketika sedang hamil memang bagus. Tapi, tidak pada saat trimester pertama atau pada saat awal kehamilan. Sangat tidak dianjurkan oleh dokter lantaran terlalu beresiko. Lalu apa yang harus Daniel lakukan sekarang? Pria itu nyatanya sudah di ubun-ubun ketika fajar menjelang.


Byurr, byurrr, byurrr.


Dea tersenyum di balik selimut, ia menyeringai jahat. Membiarkan Daniel bermain sendiri di dalam kamar mandi. Kapan lagi bisa mengerjai pria itu, siapa suruh membuatnya berbadan dua. Bukannya menolak, hanya saja Dea sedang tidak ingin.


Jengkel, Daniel langsung turun dari ranjang. Mau bagaimana lagi, pria itu pun bermain solo.


Beberapa saat kemudian, Daniel keluar kamar dengan rambut yang sudah basah. Matanya melirik Dea dengan kesal, lebih enak ada temennya. Aduh, sepertinya ia harus membelikan Dea obat lagi. Tergambar jelas dari sorot mata Daniel, ada ide licik yang mendadak muncul di kepalanya.


"Geser, Sayang!"


Daniel berbaring di sisi Dea, padahal masih banyak tempat kosong di sisi lain. Namun, dengan sengaja ia merapat kepada istrinya.


"Jangan deket-deket! Ih ... apa nih?" Dea merasa dingin tepat di punggungnya.


Seketika, ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


"Ya ampun, keringin dulu sana. Ish ... pakai baju sana!" tambah Dea saat berbalik.


Daniel cuma pakai handuk, belum pakai baju apapun.


"Nggak, gini aja. Sapa tau nanti kamunya mau."


"Ish!" Dea langsung mendesis.


"Nggak enak sendirian tuh!"


Dea kembali pura-pura menguap.


"Udah, pakai baju sana. Nanti masuk angin, lagi mual juga," saran Dea.


"Siapa bilang, gerah iya!"


"Itu karena kepalanya yang panas, mikir yang bukan-bukan," sindir Dea.


"Lah! Kalau nggak mikir yang bukan-bukan, kamunya gak bakalan hamil."


"Tuh kan ... kayaknya sengaja deh kemarin-kemarin emang gak pakai pengaman."


Keributan di saat fajar pun kembali berlangsung.


Daniel tak bisa mengelak, ia memang sengaja selalu cari alasan saat waktunya tiba. Entah tanggung atau lupa.


"Emang aku sengaja, tapi maaf Dea. Aku sama sekali nggak menyesal."


Bukkk


Dea bangkit dari ranjang dan memilih duduk menghadap Daniel. Dengan spontan ia memukul pria itu. Akhirnya ngaku juga.


"Ish ... kamu cocok jadi petinju. Main kekerasan terus."


"Biar kapok!"

__ADS_1


"Nggak lah, ngapain kapok. Nggak ya Sayang?" Pria itu langsung menyentuh perut Dea. Seolah sedang bicara pada janin yang baru berusia beberapa minggu tersebut. Masih sebesar kecebong.


Ia belai perut Dea yang masih rata, "Kapan ini besarnya? Cepet besar ya kesayangan Papa," bisiknya kemudian mencium perut istrinya dengan hangat.


Dea sedikit tersentuh, pria yang dulu selalu jutek padanya. Kini sangat jauh berbeda, apalagi saat tahu bahwa ia berbadan dua. Sikapnya jadi lebih hangat, bahkan kadang sangat panas. Terutama menjelang malam dan di kala fajar datang.


***


Pukul 7 pagi. Keduanya sudah duduk di meja makan. Menikmati sarapan, Dea lahap sekali. Seperti tidak makan berhari-hari. Sedangkan Daniel, pria itu hanya memakan sepotong buah. Piring berisi makanan masih utuh. Bahkan ia malah menyodokan pada Dea. Biar istrinya yang menghabiskan.


"Kenapa nggak makan? Apa masih terasa tidak nyaman perutnya?" tanya Dea sembari terus mengunyah.


"Melihat kamu makan, akunya udah kenyang."


Dea langsung manyut, "Pretttttt!"


Daniel hanya tersenyum melihat istrinya.


"Makan ini juga." Pria tersebut menyodokan sepotong kue dengan full cream di atasnya.


"Nah ... ini kesukaanku!"


Dea langsung mengambil garpu, memakan kue itu sampai tak bersisa. Entah lapar apa doyan. Tapi Daniel malah senang, gak apa deh. ***** makan dia yang hilang, demi calon Baby mereka. Asal Dea sehat-sehat saja.


"Kenyang?" tanya Daniel yang melihat Dea seperti orang yang kekenyangan.


"Enak kuenya."


"Kamu mah apa saja enak!"


"Ish!"


"Nanti aku suruh Kim beli yang banyak."


"Hanya makasih?"


"Lah? Mau apa? Lagian yang beli juga sekretaris Kim."


"Tapi kan aku yang minta!"


"Tetep aja yang beli dia."


"Nanti, bakal aku beliin sendiri. Tapi nggak mau makasih doang!"


"Perhitungan banget."


"Harus! Iya kan, sayang?" Lagi-lagi Daniel mengelus perut Dea. Ia senang sekali menyentuh perut itu. Seperti sedang bicara pada calon bayi mereka.


"Udah ah, geli."


"Nggak sabar nunggu perutnya buncit."


"Nanti telat, sana siap-siap."


"Iya ... bawel!"


Daniel lantas masuk ke ruang kerjanya, mengambil tas.


Hari ini mereka berangkat terpisah, kelas Dea agak siangan.


"Nanti naik taksi saja, ya."

__ADS_1


"Hemm."


"Ya udah, aku berangkat dulu."


Cup


Dea melambaikan tangan pada suaminya.


***


Kampus biru.


Nampak seorang pria sedang duduk di atas motornya. Vino terlihat sedang menanti seseorang.


"Itu dia," batin cowok tersebut saat melihat Dea turun dari taksi.


"Dea!" panggil Vino.


"Aduh!" gumam istri Daniel tersebut.


Vino langsung menyalakan motor, ia mendekati Dea.


"Ayo naik! Gue mau ngomong."


"Apa sih? Di sini aja."


"Gue mau ngomong serius!"


"Sorry, Vin." Dea menggeleng.


"Anggap ini permintaan terakhir gue."


Dengan berat, Dea pun akhirnya mau naik motor tersebut.


"Mau ke mana?" tanya Dea saat Vino memakaikan helm.


"Tempat nongkrong biasanya."


Dea pun mengangguk. "Bentar aja, ya?" tambah Dea.


"Hemm."


Mbremm


Motor itu langsung meninggalkan kampus, menuju jalan besar. Karena ada perbaikan jalan, sebagian jalan pun akhirnya banyak yang ditutup.


"Kita putar arah, jalannya buntu! Padahal pagi masih buka," ucap Vino di balik helm teropong yang dipakainya.


"Apa?"


"Putar arah. Jalannya lagi diperbaiki."


"Ngomong apa sih? Kaya orang kumur-kumur," teriak Dea yang tidak bisa mendengar suara Vino.


"Kita putar ...!" Sambil bicara, Vino menoleh sebentar ke belakang. Hanya hitungan detik, tiba-tiba motor yang ia kendarai hilang keseimbangan.


BRUAKKK


Bersambung.


Wiu, wiu, wiu.

__ADS_1


Terdengar suara ambulan, korban kecelakaan adalah dua remaja. Dua-duanya luka parah. Sama-sama bersimbah darah.


__ADS_2