
Dea I Love You
Bagian 37
Oleh Sept
Rate 18 +
Kebanyakan pria memakai logika dari pada perasaan, jadi wajar bila banyak pria yang kurang peka - Daniel -
Dimulai dari pertemuan pertama, kesan gadis di bawah standard sudah ia cap ke pada gadis yang akan ia nikahi. Dea Kanaya, gadis jorok dan tidak ada indah-indahnya. Bukan selera Daniel, jauh dari kriteria pria tersebut.
Tapi, karena selalu bersama. Lambat laut waktu merubah semuanya. Daniel yang suka menyumpahi Dea, Daneil yang melarang Dea jatuh cinta pada dirinya, kini pria itu terkena karma yang dibayar cash. Tidak dikredit atau dicicil. Semua terbayar kontan pasca penyatuan dua tubuh mereka.
Bagai candu, sekali mencoba Daniel ingin lagi. Tapi terhalang gengsi, dan hati yang kurang pendirian. Pria dengan ego yang setinggi langit itu malah terus saja menyakiti hati sang istri. Seperti malam ini, ia kembali menyakiti Dea dengan kata-kata yang ia lontarkan.
"Aku rasa, kau berhasil merusak standardku."
Sakit hati mendengar celetukan Daniel, wanita muda itu menatap benci kepada suaminya. Tangannya ingin *******-***** wajah pria itu, bisa-bisanya ia masih membicarakan tipe setelah mereka sudah tidur bersama. Gunung merapi dalam hati Dea sudah meletup-letup, laharnya ingin keluar dan membakar Daniel sampai menjadi abu.
"Sana! Temui lagi perempuan yang sesuai tipemu!" sentak Dea.
Kali ini Daniel yang membuang muka, "Jangan bahas itu lagi," ucapnya kemudian dengan lirih. Mana mungkin ia menemui Dara, sedang hatinya ada di sini? Tapi pria itu tak kunjung menyatakan cinta. Mungkin lidahnya sudah keluh. Atau Daniel butuh kursus untuk menyatakan kata cinta.
"Enak saja, nggak boleh dibahas!" batin Dea menolak. Capek ribut-ribut, Dea memilih mendiamkan Daniel. Hingga tidak terasa waktu berjalan, Dea yang kecapekan malah ketiduran di atas sofa.
Sedangkan Daniel, pria itu memperhatikan Dea yang sudah lelap. Dengan lembut ia mengangkat tubuh istrinya, meletakkan di atas ranjang dengan pelan agar singa itu tidak terbangun. Bibir Daniel melengkung, ia tersenyum dalam hati, bila cemburu Dea akan jadi garang. Persis seperti singa, marah-marah dan siap menerkam dirinya.
__ADS_1
***
Kring kring kring
Alaram ponsel Dea berdering sangat nyaring, membuat Dea yang tertidur langsung bangun. Wanita muda itu langsung duduk sambil mengosok mata, "Jam berapa ini?" batinnya.
Tangannya merabah nakas, ia meraih ponsel yang semula sangat berisik.
"Masih jam enam," gumam Dea. Matanya mengerjap menatap sekeliling. Ia kemudian teringat pertengkaran semalam, kemudian mendesis kesal. Daniel pasti sudah mengendongnya, sampai ia ada di atas ranjang. Ia merutuk, mengapa tidurnya ngebo sekali. Bumi berguncang pun pasti ia tidak bangun. Ish, Dea kesal pada dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Dea sudah rapi dan siap untuk ke kampus. Saat akan keluar kamar, ia clingak-clinguk seperti pencuri di rumahnya sendiri. Dea sengaja menghindar dari suaminya.
"Aku antar!"
"Astaga!" Dea tersentak kaget saat suara itu tiba-tiba muncul di belakangnya.
"Tidak usah terkejut seperti itu, aku bukan hantu."
"Aku mau berangkat sendiri!"
"Mobilmu nanti akan diservis, lebih baik aku antar." Padahal mobil baru Dea tidak apa-apa, Daniel hanya mencari alasan untuk lebih dekat dengan Dea. Tapi ia bingung dimulai dari mana.
"Aku naik taksi saja, urus urusanmu sendiri. Tidak usah bersikap manis, bersikap seperti dulu saja, aku lebih nyaman seperti itu," terang Dea tanpa menatap lawan bicaranya.
"Mau sampai kapan kamu bersikap dingin padaku?" Daniel memegang pundak Dea, ia ingin Dea menatapnya saat berbicara. Bukan membuang muka seperti sekarang.
"Sampai kau tinggalkan wanita itu," ujar Dea tapi hanya dalam hati.
__ADS_1
"Jangan diamkan aku seperti ini, Dea."
Dea memilih mengunci rapat mulutnya. Membuat Daniel tambah kelimpungan. Pria dengan hati yang tidak peka itu bingung harus bersikap bagaimana, agar hubungan mereka membaik dan tidak perang dingin seperti ini.
"Aku sudah terlambat!" Dea menyingkirkan tangan Daniel dari pundaknya.
"Aku belum selesai bicara."
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan!"
"DEA!"
Dea melengos, setiap menatap wajah itu hanya ingin emosi saja.
Sedangkan Daniel, pria tersebut menghela napas dalam-dalam, kemudian menarik tangan Dea keluar dari apartment. Lebih baik langsung antar saja istrinya itu ke kampus. Bila diteruskan, perdebatan mereka tidak akan ada ujungnya.
Sepanjang jalan, baik Dea maupun Daniel sama-sama terdiam. Tengelam dalam pikiran masing-masing. Mereka baru bersuara ketika sampai di halaman kampus biru.
Ketika Dea akan melepaskan seatbelt, Daniel terlebih dahulu meraih sabuk tersebut. Sedangkan Dea, ia sedikit mundur untuk menjaga jarak. Tidak mau terlalu dekat dengan suaminya.
Klek
pengait seatbelt sudah terlepas, tapi Daniel tidak kembali duduk di tempatnya semula. Tubuhnya masih condong ke arah Dea.
"Apa yang kamu lakukan! Sana!" Dea memasang muka masam.
"Lihat wajah jelekmu, sudah seperti cucian yang kusut." Sebenarnya Daniel hanya ingin mencairkan suasana. Eh, sepertinya Dea malah tersinggung.
__ADS_1
Dea mendesis dengan muka yang tambah masam, "Bukan urusanmu! Kenapa tidak pergi ke pacarmu yang cantik itu!"
"Ada apa denganmu, suka sekali menyuruhku pergi! Ketika aku bersamamu, itu artinya aku pilih kamu!" sentak Daniel. bersambung.