Dea I Love You

Dea I Love You
First Love


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 38


Oleh Sept


Rate 18 +


Jangan percaya pria, kebanyakan mereka baik dan manis karena ada maunya. Dea menggeleng pelan, Daniel pasti bohong. Mungkin itu juga akan ia katakan bila di depan kekasihnya. Buktinya kemarin, Daniel pergi begitu saja dan menguncinya di dalam apartment.


"Buaya! Jangan harap aku percaya!" rutuk Dea dalam hati sembari membuka pintu mobil.


Bruakkk


Dea menghentakan pintu dengan keras, sepertinya ia sengaja melakukan itu untuk menunjukkan pada Daniel, bahwa ia masih marah.


Daneil yang bukan perayu ulung, hanya bisa menatap kepergian Dea. Setelah Dea hilang dari ujung mata, pria itu menyalakan mesin mobilnya. Melaju meninggalkan kawasan kampus biru tempat istrinya menempuh pendidikan.


***


Astro Group, Sekretaris Kim langsung menyambut kedatangan Daniel. Pria itu dengan sigap membuka pintu ruang kerja sang atasan. Baru juga duduk, Daniel sudah disuguhi banyak berkas di mejanya.


"Kim! Singkirkan semua ini!"


Dahi sekretaris Kim pun mengerut, "Tapi, Tuan. Ini harus ditandatangani, dan sesuai agenda lusa kita harus terbang ke China, Tuan."


Ada sesuatu yang tidak beres, Kim mengendus kecurangan yang dilakukan rekan bisnis sang atasan.


"Undur lagi!" ujar Daniel dengan mudahnya.


"Tapi, Tuan ...!"


"Kimmm!"


Sekretaris Kim memejamkan mata, menahan kesal.


"Kalau tidak ada hal lain, kamu bisa tinggalkan ruangan ini."


Kim menghela napas panjang, harusnya beberapa minggu lalu mereka pergi ke negeri tirai bambu tersebut. Karena terhalang pernikahan dan banyak hal, semua jadi tertunda.


Meskipun pimpinan perusahaan adalah Daniel, tapi yang sering berpikir keras adalah kaki tangannya. Ya, selama ini sekretarisnya yang melakukan ini itu, melobby banyak rekan bisnis dan menemani negosiasi. Lebih tepatnya yang membuat perhanjian selalu berhasil. Karena bila menelisik sikap Daniel yang seenaknya sendiri, ia pasti kesulitan melakukan perjanjian kerja sama dengan orang lain.


"Kim ... kamu masih di sana?" Daniel menatap Kim dengan wajah heran.


Dilihatnya sang sekretaris malah mengeluarkan ponsel. Dengan wajah serius, Kim memberikan ponsel miliknya.


"Apa ini?"


Daniel menajamkan matanya.


"Ada produk tiruan yang diproduksi dengan skala besar di sana, dan memiliki licence Astro Group, sepertinya ini ada hubungannya dengan Mister Bond. Beliau mungkin sudah melangar perjanjian kerjasama dengan Astro Group, Tuan."


"Maksudmu, Kim?"


"Kita harus ke sana Tuan, kalau dibiarkan terus. Perusahaan akan mengalami kerugian yang besar," terang Kim.

__ADS_1


Daniel meremas kertas di depannya. "Pesan tiket sekarang!"


Kim menghela napas lega, meskipun ini bukan perusahaan miliknya, Kim tetap tidak ingin Astro Group mengalami banyak kerugian. Bagaimana pun juga, selama ini Daniel sudah banyak berjasa kepada dirinya.


***


Malam hari di apartment Daniel, suasana nampak sepi. Dea lebih suka menghabiskan waktu di dalam kamarnya. Sedangkan Daniel, pria itu sedang menyiapkan pakaian. Sebentar lagi ia akan pergi.


Tok tok tok


"Dea ... buka pintunya, aku mau bicara bicara hal penting padamu."


Karena sudah malam, paling juga ngajak ribut. Dea memilih mengabaikan Daniel.


"Besok aja, aku ngantuk!" teriak Dea dari atas ranjang. Ia sedang rebahan sambil mendengarkan musik K-Pop.


"Ini penting."


"Apasih!" gerutu Dea sembari turun dari ranjang.


KLEK


"Apa?" salak Dea dengan galak. Namun, melihat penampilan Daniel dan koper di depannya. Dea jadi binggung.


"Mau ke mana?" sambung Dea.


"Ada hal yang harus aku urus, baik-baik di rumah."


Dea terlihat kecewa, mengapa Daniel tidak memberi tahu sebelumnya kalau mau pergi? Pakai bawa-bawa koper segala, artinya Daniel akan menginap.


"Bagus! Jangan pulang sekalian!"


Bruakkk


Dea membanting pintu kamarnya.


Daniel benggong bagai sapi ompong, ia heran dengan sikap Dea.


Tok tok tok


"Dea! Aku mau ke China tapi kamu malah begini. Dea!" teriak Daniel.


KLEK


"China?"


Daniel mengangguk pelan.


"Berapa hari?" tanya Dea kemudian.


"Langsung pulang bila urusannya beres."


Dea manggut-manggut, "Aku mau pulang ke rumah Ayah."


"Tidak boleh!"

__ADS_1


Larangan Daniel dibalas tatapan tajam oleh Dea.


"Ayah kurang sehat, Bibi tadi siang telpon. Ayah kurang enak badan. Boleh atau tidak, pokoknya aku pulang." Dea menjadikan kesehatan sang Ayah untuk alasan.


Daniel tak bisa menolak kalau berurusan dengan orang tua, mau bagaimana lagi. Ia pun mengijinkan Dea kembali pada orang tuanya. Tapi hanya sementara, begitu ia balik, Dea juga harus sudah ada di tempat.


Setelah melepas kepergian Daniel, Dea langsung berkemas. Masih belum larut malam, sekalian melepas rindu pada ayahnya, Dea pun mengendarai mobil sendiri ke rumah masa kecilnya.


***


Kediaman Rudi Askoro, rumah masa kecil Dea. Baru juga sampai depan rumah, Dea langsung berteriak-teriak memanggil ayahnya.


"Yah ... Yah!"


Bibi muncul dengan wajah sayu, ada rona sendu yang tersembunyi di balik kulitnya yang keriput.


"Bibi, Bibi kenapa? Ayah mana?"


Bukannya menjawab, Bibi yang mengasuh Dea sejak kecil malah menangis.


"Bik ....!" Dea langsung lari ke kamar ayahnya.


Kakinya lemas seketika, melihat pemandangan yang menyayat hati. Sama seperti Bibi, Dea juga ikut menangis. Ia tidak tahan melihat kondisi ayahnya.


"Kenapa Bibi nggak bilang terus terang?" tangis Dea sembari menoleh ke arah Bibi yang mematung di belakangnya.


Dea menyentuh tangan yang keriput itu, lemas dan tidak berdaya. Ada selang infus dan oksigen yang melekat pada ayahnya.


"Apa yang terjadi sama Ayah, Bik?"


"Tuan besar jatuh ketika baru sampai pabrik di ruang kerjanya, sampai siang tidak ada yang tahu."


Dea semakin larut dalam kesedihan, dipeluknya sang ayah yang tubuhnya kaku. Ayah kembali terserang stroke, bila beberapa bulan lalu hanya stroke ringan, kali ini sepertinya lebih parah.


Ayah bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Hanya mampu mengedipkan mata, membuat hati Dea makin teriris.


"Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit?"


"Tuan tidak mau, Non!"


Mendengar jawaban Bibi, Dea tidak bisa menyalahkan Bibi. Ditambah sang ayah sedang susah payah mencoba bicara kepadanya.


Dea pun menyeka pipinya, berusaha tegar di depan orang tuan satu-satunya itu.


"De ... a!" Ayah terlihat kesusahan memanggil nama putrinya sendiri.


Dea mengangguk dengan bibir yang menahan tangis.


"De ... a, ha ... rus ... ba ... ha ... gia," ucap Ayah dengan sepotong-sepotong. Napasnya terasa berat, Ayah nampak kesulitan dalam berbicara.


Dea mengangguk dengan bulir bening yang sudah tumpah menyebrangi pipinya.


"Yah ... AYAHHHH!" jerit Dea yang terdengar menyayat hati. Bersambung.


_____

__ADS_1


Kehilangan cinta pertama memang mengiris hati. Dan sosok Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuanya. Cinta pertama yang tidak akan pernah berdusta. Cinta pertama yang akan selalu setia.


__ADS_2