Dea I Love You

Dea I Love You
Bunga Di Musim Semi


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 45


Oleh Sept


Rate 18 +


Ternyata bunga sakura tidak hanya mekar di negara Jepang, sakura kini juga bermekaran di hati Daniel dan juga istrinya, Dea. Sebuah misi sudah dijalankan, tinggal menunggu dan lihat hasilnya.


Di dalam sebuah kamar hotel yang besar, dengan segala furniture mewah serta mahal. Daniel setengah duduk sambil bersandar di ranjang. Tangannya membelai rambut Dea yang tidur di pangkuannya. Memainkan rambut istrinya, dan sesekali mencubit gemas hidung Dea.


"Dea."


"Hem."


"Luv Yu."


Kini Daniel tak lagi malu mengungkapkan perasaannya pada Dea, tidak gengsi lagi. Rasa gensinya sudah pergi terbawa angin.


"Hemm ...!"


"Kok cuma hem?"


"Terus?" tanya Dea, masih dengan nada datar. Karena capek setelah perang dunia ketiga, Dea jadi kurang bersemangat menangapi kebucinan sang suami. Sudah lelah sekali tubuhnya, Daniel membuat wanita itu bermandikan keringat malam-malam. Membolak-balik tubuhnya, Dea kini sudah merasa lemah tak berdaya.


"Jawab dong! Sayang."


Dea terkekeh, telinganya mendadak jadi geli ketika Daniel memanggil dirinya dengan embel-embel sayang. Sejak kapan Daniel jadi sangat manis? Mencurigakan!


"Iya ... iya."


"Iya apanya?" tuntut Daniel. Pokoknya ia juga mau Dea mengatakan perasaannya.


"Sama!" Dea malu mau mengatakan kalau ia juga suka dengan suaminya.


"Ish ... apanya yang sama?"


"I love you too."


Setelah mengatakan itu, Dea langsung membuang muka. Kenapa wajahnya terasa panas begini? pikir Dea. Wanita itu jadi sangat malu.


Lain dengan Daniel, wajahnya seketika sumringah. Matanya berbinar-binar ketika mendengar kata cinta dari istrinya sendiri. Sepertinya saat ini ia sudah benar-benar lupa pada Dara, kekasihnya yang belum sempat ia putuskan.


"Katakan sekali lagi," pintanya belum puas.


"Apasih!"

__ADS_1


"Ayolah." Daniel masih saja menuntut, pasalnya ia sangat senang mendengar Dea bilang cinta padanya.


"Udah ah, aku capek. Mau tidur." Dea langsung menarik selimut, bersiap mau ke pulau kapuk.


***


Pagi harinya, cuaca hari itu kurang bersahabat, badai salju kembali menerpa wilayah di sekitar sana. Padahal Dea sudah bersiap, wanita tersebut sudah memakai baju hangat dan mantel dengan bulu-bulu yang lebat.


"Gimana dong?" Dea nampak kecewa ketika melihat suasana di luar lewat jendela. Ditatapnya jalanan dan pepohonan yang ditutupi salju yang tebal.


"Ya udah, bagaimana lagi. Sepertinya kita tidak bisa ke mana-mana." Daniel melirik sedikit ke arah Dea yang terlihat kecewa.


Seperti didukung oleh cuaca, Daniel merasa diuntungkan. Asik! Sepertinya mereka bakal tempur lagi. Tanpa sadar bibirnya melengkung, pria itu tersenyum jahil.


Sedangkan Dea, setelah menghela napas panjang. Ia memilih untuk duduk dan melepas mantel serta boot yang semula ia kenakan, meletakkan di tempanya kembali. Jelas sekali wajahnya sangat kecewa, padahal Daniel janji akan mengajak jalan-jalan hari ini.


Mau bagaimana lagi? Sepertinya mereka harus tetap di dalam ruangan. Terlalu ekstrem bila mereka memutuskan untuk tetap pergi dan sangat bahaya. Kekuatan alam kadang kala tidak bisa diprediksi.


"Rebahan aja nih ceritanya?"


"Mau ngapain lagi." Dea yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang, merentangkan tangan. Matanya menatap langit-langit hotel. Siapa yang mendesain hotel ini? Bahkan platfomnya saja terlalu memanjakan mata. Ukiran-ukiran yang mengandung seni dengan nilai jual tinggi, Dea kini malah ngelantur, memikirkan hal yang bukan-bukan. Gara-gara nggak ada kerjaan sama sekali.


"Kapan kita pulang?" Ia langsung melihat suaminya. Daniel malah serius dengan ponsel pintarnya.


"Mungkin lusa!" Pria itu meletakkan ponsel di atas nakas. Kemudian merayap mendekati Dea yang sudah menunggu di atas ranjang.


"Emm ... tumben sekretaris Kim tidak ke sini? Biasanya pagi-pagi sudah datang menjemput."


"Enggak, itu loh. Emm ... dapat salam dari Metty."


"Oh, si jutek itu."


"Jutek? Metty orangnya baek kok!"


"Ish ... kamu nggak lihat cara dia menatapku pas aku pergokin kalian mau kabur dari apartemen waktu itu?"


BUKKK


Dea memukul lengan suaminya.


"Itu kamunya yang jahat banget! Masa mau penjarain si Metty? Jadi pantes aja Metty marah."


"Lah, siapa suruh main bawa kabur istri orang?" Daniel tak mau kalah.


"Siapa suruh juga kunciin aku di dalam apartment?" balas Dea.


"Itu ..." Daniel sudah tidak bisa lagi ngeles.

__ADS_1


"Itu salahku!" sambung Daniel. Takut tidak dapat jatah, tiba-tiba pria tersebut menekan egonya.


"Hemm ... dan aku nggak mau kamu nemuin dia lagi."


Daniel terdiam sesaat, kemudian mengangguk.


"Awas kalau ketemu dengannya lagi."


Mendengar ancaman Dea, Daniel malah tersenyum. Artinya istrinya sudah cemburu. Pria itu malah senang, kemudian memeluk tubuh Dea sambil berbisik.


"Kamu tenang saja."


"Aku pegang ya omonga kamu."


"Iya, tapi sakarang sedikitlah hormati aku. Usia kita bedah jauh, aku bahkan suamimu. Masa manggil kamu, diganti ya sayang!" pinta Daniel.


"Apa? Mau aku panggil Om?"


Pletak!


Daniel menyentil dahi Dea.


"Aduh!" Dea mengaduh kesakitan. "Mesti deh!" ucapnya sambil mengosok dahinya.


"Makanya, jangan bandel!"


"Ish!"


"Sakit ya?" Daniel tersenyum jahil.


Sedangkan Dea, wanita muda itu hanya bisa menahan sebal sambil mengerucut bibir.


"Sini!"


Daniel langsung mendekatkan wajahnya, meniup kening itu dengan lembut.


"Makanya, nurut ya."


Cup


Habis disentil, kini dikecup.


"Ingat, jangan panggil kamu kamu lagi."


"Hemm!"


"Hemm apa?"

__ADS_1


"Iya, sayang!!!" jawab Dea dengan sebal.


Bibir Daniel pun mereka seperti bunga di musim semi yang indah. Bersambung.


__ADS_2