Dea I Love You

Dea I Love You
Buatan Jepang


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 61


Oleh Sept


Rate 18 +


"Kim," sapa Daniel pura-pura kaget saat membuka pintu ada sekretaris Kim di luar sana.


"Bisa Kita berangkat sekarang, Tuan?" Kim berusaha bersikap biasa. Tapi hatinya merutuki aksi Daniel. Bisa-bisanya ia dikacangin di luar pintu. Kim melirik kemeja Daniel yang kusut di balik jas yang dikenakan. Belom lagi dasinya terpasang tak sempurna.


Itu belum cukup, ditambah Dea muncul dengan rambut yang sedikit semrawut. Mereka akan berpergian bukan? Tidak mungkin Dea lupa menyisir rambutnya. Ah! Kim tak henti-hentinya mengumpat. Jadi, selama ia menunggu sampai jamuran di depan pintu, yang ditunggu asik anu. Ish, pria itu jadi membantin sendiri.


"Ayo, Sayang!" Daniel merangkul pundak Dea. Berjalan mendahului Kim. Ah, lengkap sudah gondok Kim pagi ini.


Mereka bertiga menuju lantai bawah bersama-sama. Sesekali Daniel merapikan rambut Dea dengan jarinya. Sekretaris Kim yang melihatnya, hanya bisa memalingkan muka. Keuwuan sang atasan semakin membuat ia ingin segera cepat menikah.


***


Bandara International SOETA


Sampai di Bandara mereka ternyata tidak terlambat, masih ada sedikit sisa waktu yang tersisa. Telat beberapa menit mungkin mereka akan ketinggalan.


Begitu masuk ke dalam burung besi tersebut, Dea dan Daniel yang kelelahan karena aktifitas plus-plus sebelum berangkat tadi, memilih untuk tidur. Dea menyandarkan kepalanya dengan nyaman pada pundak sang suami. Sedangkan Kim, matanya menatap kosong ke luar jendela. Menatap gumpalan awan yang seperti kapas menggantung di udara.


***


Narita, Chiba, Jepang.


Daniel, Dea serta sekretaris Kim sudah tiba. Mereka sampai di Bandara Udara International Narita beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


"Kim, mengapa lama sekali? Coba kamu hubungan drivernya."


"Baik, Tuan."


Kim menjauh sebentar, ia merogoh ponsel dan menghubungi driver yang akan menjemput mereka bertiga. Sesaat kemudian, Kim melapor pada Daniel setelah berhasil menghubungi sang driver.


"Tunggu sebentar lagi, Tuan. Tadi sempat ada gempa. Jalan utama sekarang agak macet." Kim memberi penjelasan pada Daniel.


Daniel hanya bisa menghela napas panjang, negara Jepang memang sudah sangat akrab dengan gempa. Hampir terjadi gempa sebanyak 1.500 kali dalam kurun waktu satu tahun. Dan sepertinya, Daniel akan menambah satu lagi gempa susulan di negeri samurai dan negeri sakura tersebut.


Setelah menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga. Sebuah mobil ukuran besar datang menjemput mereka. Tanpa menunggu lama, rombongan langsung menuju Sakuragi Emperor International Hotel.


Sampai di sana, Daniel langsung memberi warning pada sekretarisnya.


"Kim, kalau bisa jangan ganggu kami sampai aku yang menghubungi duluan."


Kim mengeryitkan dahi.


"Menikahlah, Kim. Nanti kau akan tahu." Daniel berlalu sambil tersenyum penuh arti, meninggalkan rasa sebal pada lawan bicaranya.


Dea sendiri tidak banyak bicara, lelah mengudara cukup lama, membuat ia kelelahan.


"Mana sih kamarnya, kok lama?" tanya Dea sembari menyusuri lorong hotel bersama suaminya.


"Sabar, tuh udah di depan."


Mereka berjalan beberapa meter, dan sudah sampai di sebuah kamar yang cukup luas dan mungkin tahan gempa. Tahan segala goncangan baik dari luar maupun dalam.


Brukkkk


Daniel langsung melempar tubuhnya di ranjang, empuk banget. Sekarang ia mau istirahat, badannya capek semua.

__ADS_1


Sedangkan Dea, ia memilih ke kamar mandi dulu untuk membasuh muka. Setelah itu baru menyusul Daniel ke tempat tidur.


Beberapa saat kemudian.


"Tidak mau jalan-jalan?" tanya Daniel sambil membelai rambut Dea yang kini tidur dalam pangkuannya.


"Nggak, capek."


"Jauh-jauh ke sini masa cuma di kamar saja?"


"Nanti lah, masih capek banget ini."


"Mana yang capek? Sini ... aku pijitin."


"Ish!" Dea sama sekali tidak yakin, bila suaminya hanya menawarkan pijat. Paling juga ada embel-embel plua-plusnya. Dea kan tahu betul, pasca dari buka puasa pertamanya, Daniel jadi sangat garang. Bukan garang pemarah, bukan. Daniel jadi lebih garang saat mereka sudah sama-sama di atas ranjang. Sama seperti saat ini.


Katanya sih mau mijitin, tapi apa yang terjadi. Awalnya saja bener, mijit-mijit di kaki. Tapi, detik berikutnya sudah lain. Tangan pria itu sudah hilang jalur. Mulai kelayapan ke tempat yang tidak seharian.


"Capek ... jangan dong?" Dea mencoba memelas.


Daniel tidak peduli, mau bagaimana lagi. Tower Tokyo sudah terlanjur mengudara. Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mubazir.


"Ish!" Dea mendesis. Ia capek dikerjain Daniel berkali-kali. Pria itu entah minum jamu kuat merek apa, mengapa nggak ada lelah-lelahnya. Selalu on fire and strong!


"Love you!" bisik Daniel tiba-tiba. Membuat Dea memalingkan wajah dan tersipu malu. Wajahnya juga sudah terasa panas. Daniel tidak memberi jeda, meraba-raba dan terus berkelana ke alam liar.


Meski mulut berkata tidak, lain lagi dengan tubuhnya. Ketika Daniel memaksa masuk, nyatanya Dea membuka pintu nirwana lebar-lebar.


Sepertinya Daniel tidak sabar ingin membelah diri lagi. Bersambung.


Biasanya made in Jepang itu tahan banting loh.

__ADS_1


__ADS_2