
Dea I Love You
Bagian 27
Oleh Sept
Rate 18 +
Mobil terus melaju meninggalkan area kampus biru. Tidak ada pembicaraan antara si pengemudi dan penumpang. Dari spion dalam mobil, mata sekretaris Kim melirik pantulan wajah Dea. Dilihatnya Dea dengan hati-hati. Istri atasannya itu sepertinya sedang gusar, ngambek atau mungkin entahlah. Ekspresi istri Daniel itu tidak seperti biasanya. Alisnya mengkerut menunjukkan rasa ketidakpuasan. Dea duduk di kursi belakang, wajahnya ditekuk seperti kanebo kering, kucel dan jelek.
"Nona, Kita langsung ke salon ya. Tuan Daniel sudah meminta saya untuk menjemput dan mengantar Nona, dari salon Kita baru ke hotel," ucap Kim saat mobil berhenti di lampu merah.
Raut muka Dea sedikit berubah, "Kenapa dia nggak jemput sendiri?" tanya Dea penasaran.
"Tuan sudah di hotel beberapa saat lalu, karena ada yang harus Tuan urus, jadi beliau mengutus saya."
Dea manggut-manggut, ia kira Daniel lupa. Namun, Dea juga tidak tahu, Kim jujur atau sedang berbohong.
***
Gloskin Beauty
Sekretaris Kim bergegas membuka pintu untuk Dea, ia mengatar sekaligus menunggu Dea untuk dipermak. Harusnya ini dilakukan oleh Daniel sendiri. Karena sesuatu, kini malah Kim yang harus mengantikan Daniel.
Satu jam kemudian.
"Ini dari Tuan."
Kim menyerahkan sebuah paper bag besar kepada Dea.
"Apa ini?" Dea melirik sekilas.
"Kata Tuan, Nona harus memakai ini."
Dea melihat ke dalam paper bag, kemudian pergi ke ruang ganti. Untuk berganti pakaian yang dibawa oleh Kim.
Saat Dea keluar, salah satu pengunjung bisik-bisik dengan pengunjung lain di sebelahnya.
"Senengnya, diantar ke salon sama suami, ditungguin pula. Lah Kita? Boro-boro ditunggu apa diantar, dikasih duit buat perawatan saja udah keajaiban!" celetuk pengunjung yang berambut coklat keemasan.
"Bisa aja, Kak. Tapi iya sih, beruntung banget mbaknya. Punya suami cakep, body oke, perhatian pula. Lihat deh ... Ganteng banget."
__ADS_1
"Pasangan yang ideal, ya."
Dua wanita pengosip itu terlihat iri pada nasib Dea. Padahal, kadang apa yang dilihat tidak seperti kelihatannya. Sawang sinawang.
***
Sekretaris Kim yang duduk tidak jauh dari sana, mau tidak mau ia bisa mendengar bisik-bisik dua pengunjung itu. Ia hanya bisa tersenyum getir, mengapa mereka mengira bahwa dia dan Dea pasangan suami istri? Apakah mereka nampak serasi? Padahal Kim hanya mengantar istri bosnya.
"Ayo!" seru Dea.
Kim lantas menoleh.
Dea yang tomboy, biasanya hanya memakai jean belel sobek sana-sini. Sekarang memakai dress cantik warna merah. Cantik, elegant dan terlihat dewasa dan sedikit aduhai. Karena punggung yang sedikit terbuka.
Reflect Kim membuka jas yang ia kenakan, dan memberikan pada Dea.
"Untuk apa?" Dea mengeryitkan dahi, kenapa Kim memberikan jas yang ia kenakan?
"Udara di luar dingin," jawab sekretaris Kim dengan asal.
Dea tidak lagi berbicara, ia langsung menyampirkan jas itu di pundaknya. Wanita tersebut kemudian berjalan keluar.
"Ayo!" Dea berbalik, karena Kim malah masih mematung.
"Pasti gara-gara mendengar ucapan pengunjung tadi!" gerutu Kim dalam hati. Ia malah menyalakan orang yang membicarakan mereka berdua barusan.
Setelah menghela napas panjang, Kim akhirnya melanjutkan langkahnya. Sepertinya ia harus mencari kekasih, bila jomblo lama-lama, ia takut malah akan jatuh hati pada istri orang.
Di dalam mobil, merasa gerah karena memakai jas Kim, Dea akhirnya melepas jas warna hitam yang semula dipinjamkan oleh Kim.
Dengan santai Dea memgipas wajahnya dengan tangan. Karena merasa kurang nyaman, Dea merogoh dadanya sendiri.
Hal itu tidak luput dari penglihatan Kim, pada kaca di depannya.
"Sial!" rutuk Kim. Ia memarahi matanya sendiri karena melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat. Meskipun begitu, ia masih penasaran. Sebenarnya apa yang dilakukan Dea.
Bibir pria tampan dan jomblo itu langsung mengembang. Begitu Dea mengeluarkan spon kecil untuk subalan.
Dea yang tidak tahu kalau sedang diamati, begitu santai memasukkan subalan beha itu ke dalam tas. Memang ngak jadi aduhai sih, tapi Dea sudah merasa nyaman bila apa adanya seperti ini.
Hotel Mercury
__ADS_1
Mereka berdua sudah sampai di parkiran khusus, dengan sigap sekretaris Kim langsung membuka pintu belakang. Tidak sengaja matanya malah melihat bagian depan Dea yang kempes. Ingin tertawa, tapi Kim mencoba keras untuk menahannya.
Lobby hotel. Dea dan sekretaris Kim berjalan berdua, tidak jauh dari sana terlihat Daniel sedang berbicara dengan orang bule.
"Nona Dea, saya antar sampai sini."
Dea mengangguk, kemudian berjalan mendekati Daniel. Ketika Dea semakin dekat, kebetulan pria yang bicara dengan Daniel pun pergi.
Meskipun bajunya bagus, make upnya oke, tapi wajah Dea malah ditekuk. Ia masih sebal, mengapa Daniel gak menjemput dirinya. Malah menyuruh sekretarisnya.
"Ehem ... ehem," Dea malah berdehem.
Mendengar seseorang berdehem di belakangnya, Daniel langsung berbalik. Melihat Dea yang cantik dan anggun, pria itu pun melempar senyum semanis gulali. Sedangkan Dea, ia masih terlihat masam, masih ngambek dan merajuk.
"Ada apa dengan wajah bebekmu?" goda Daniel yang mengamati bibir Dea yang mengerucut. Sementara itu, candaan Daniel hanya dibalas tatapan tajam dari Dea.
Daniel menyadari, pasti istrinya itu ngambek. Dengan lembut ia meraih lengan Dea, melingkarkan pada lengannya. Keduanya kemudian berjalan ke arah lift, menuju lantai atas, karena di sana tamu mereka juga sudah menunggu.
Ketika lift terbuka, Daniel membiarkan Dea masuk lebih dulu. Pria itu bersikap sangat manis. Dea sampai merinding, Daniel sangat mencurigakan. Terhitung setelah mereka tidur bersama. Jangan-jangan pria itu meminta lebih?
"Maaf, ya!" ucap Daniel membuka suara.
Dea bergeming, ia memilih bersandar pada dinding lift dan tidak menangapi suaminya. Sudah disuruh menunggu lama, eh yang jemput bukan Daniel sendiri. Dea hanya merasa sebal saja. Makanya kini ia bersikap cuek pada Daniel.
Bagaimana bila Dea tahu alasan Daniel tidak bisa menjemputnya? Bisa-bisa Dea tidak akan mau tidur bersama pria itu lagi.
***
Saat lift sedang naik ke atas, tiba-tiba di tengah jalan malah berhenti mendadak. Ditambah lampunya mati seketika itu juga. Spontan, Dea yang semula memilih menjaga jarak, langsung mendekat memeluk tubuh suaminya.
"Tidak apa-apa, pasti akan segera diperbaiki!" seru Daniel sembari menekan salah satu tombol di sampingnya.
Beberapa detik kemudian, lampu kembali menyala. Dan lift pun berjalan seperti sedia kala. Dea yang sadar atas apa yang ia lakukan, dengan kaku berjalan mundur, seperti robot. Ia memarahi lengannya sendiri. Mengapa dengan mudah memeluk pria yang menjengkelkan itu.
Sedangkan Daniel, pria itu terus menatap Dea yang terus menunduk. Mungkin Dea malu, pikir Daniel.
Saat lift berhenti dan pintu perlahan terbuka, Daniel justru menekan tombol close.
Dea yang menyadari akan hal itu, lantas mendongak.
Pria itu menatap Dea tanpa kedip, wajah Dea yang selalu ia kata-katai dibawah standard, nyatanya membuat hati Daniel kembali berdesir.
__ADS_1
"Kamu cantik."
Dea tidak bisa berkata-kata karena Daniel langsung merampas bibirnya. Bersambung.