
Dea I Love You
Bagian 23
Oleh Sept
Rate 18 +
Malam ini hujan kembali menguyur ibu kota. Menambah hawa dingin di penghujung malam. Ketika sebagian penduduk kota metropolit merasa udara begitu dingin, ada dua jiwa yang merasakan hal sebaliknya. Panas sampai ubun-ubun.
Terutama Daniel, sekuat apa pun ia menepis hasratnya, malam ini ia sudah terlanjur goyah. Kehadiran Dea di dalam hidup pria tersebut, lama-lama menggoda imannya. Dea yang katanya di bawah standard SNI, nyatanya membuat ia resah.
Dea yang katanya bukan tipe Daniel, Dea yang bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan Dara, nyatanya membuat Daniel tanpa sadar melupakan Dara perlahan. Sadar atau tidak, Dea juga sudah mengukir tempatnya sendiri di hati pria tersebut.
Ketika Daniel membutuhkan tubuh Dea malam ini, apa Dea akan memberikannya? Meski tanpa ada kata cinta di antara mereka berdua.
Apartment Daniel.
Daniel sudah melepas tautan bibir mereka, ia menatap wajah Dea dengan intense. Dea yang jorok, jelek, mengapa kini menjadi sosok yang berbeda? Apa otaknya sudah bergeser? Apa matanya sudah mengalami rabun dini? Ada yang tidak beres, sepertinya ia terkena karma.
Sembari menelan ludah, tangan Daniel menyentuh bahu Dea. Kemudian berbisik ke telinga istrinya itu.
Mendengar suara Daniel yang lirih dan merasakan hembusan napas pria tersebut, membuat Dea tidak berkutik. Ia mau kabur, tapi kakinya sudah terasa lemas. Apalagi Daniel malah menyesap lehernya. Menciptakan beberapa stempel kepemilikan di sana.
Ini pertama kali bagi Dea diperlakukan seperti begini. Bulunya sudah merinding semua. Sebelum Daniel bertindak terlalu jauh, Dea memegang tangan pria tersebut. Mencoba mencegah Daniel berbuat terlalu jauh. Bagi Dea, saat ini ciuman saja sudah cukup. Akan tetapi tidak bagi Daniel, never enough.
Tidak ada kata cukup, pria itu kini meminta lebih. Dengan lembut ia mencoba melepas tangan Dea yang memegangi tangannya. Wajah terlanjur panas, semua terlanjur di ubun-ubun. Tidak ada jalan lain selain pelepasan. Harus malam ini, bila tidak, bisa jadi Kim besok yang akan jadi sasaran kemarahan tanpa sebab pria itu.
Dea terhenyak ketika Daniel langsung membopong tubuhnya ke atas ranjang. Jantung Dea ikut memburu, dag, dig, dug. Gadis itu tidak menyangka, apa malam ini akan jadi malam pertamanya?
"Tunggu, kuliah belom kelar. Ntar kalau hamil? Dan lagi ... dia masih punya kekasih. Jangan bodoh Dea!" Dea merutuki sikapnya yang mau saja digendong, dicium-cium sama Daniel. Padahal pria itu tidak mencintai dirinya, pikir Dea.
Dengan reflect ia membungkus tubuhnya sendiri dengan selimut, seolah menjadi perisai agar Daniel tak macam-macam.
Daniel yang melihat aksi Dea hanya tersenyum tipis, pria tersebut malah menurunkan celana yang ia pakai.
Dea dibuat terkesiap dengan pemandangan di depannya. "Ya ampun, dasar mesum!" rutuk Dea dalam hati.
__ADS_1
Ada yang menonjol tapi bukan bakat.
"Jangan naik!" Teriak Dea spontan saat Daniel merayap ke atas ranjang.
Tidak lagi memegangi selimut, tangannya kini sibuk menutupi kedua matanya. Berkali-kali Daniel sudah menodai mata gadis itu.
Dasar Daniel yang tidak mau mundur, kepalang tanggung. Ia malah semakin maju.
Detik berikutnya terdengar suara jeritan, Dea sangat kaget mendapati Daniel sudah berada di atasnya. Pria itu kini telah mengungkung Dea. Dengan lengan sebagai tumpuan agar Dea tidak tertindih.
Dea menggeleng, seakan meminta Daniel jangan melakukan hal itu. Namun, Daniel bergeming. Dea istrinya, ia merasa bebas melakukan apa saja malam ini.
Bila dibilang seperti malam pertama yang tertunda, ini lebih mirip malam pemaksaan. Daniel begitu mengebu, sedangkan Dea masih belum menginginkan akan hal itu.
Tak mau menyerah, dengan gigih Daniel menyerang Dea. Malam ini ia harus mendapatkan haknya sebagai seorang suami.
Srakkk
Daniel menarik selimut yang menutupi tubuh Dea, melempar kain tebal itu ke sembarang tempat.
Srigala itu sedang menyeringai ke arah Dea, dengan lembut ia kembali menempelkan bibirnya. Daniel berhenti sejenak, hanya menempelkan bibirnya. Karena istrinya mengunci rapat-rapat mulutnya.
Tidak habis akal, Daniel mencari jalan lain. Tangannya dengan berani menyusuri apa saja yang bisa membuat Dea tidak bisa menolak sentuhannya.
Dea dibuat meremang dan tidak bisa menahan lagi, gadis itu sudah merasa geli hingga mengeliat seperti cacing yang kepanasan.
Melihat Dea yang seperti itu, Daniel semakin terbakar. Jiwa laki-lakinya semakin terpacu. Tidak mau kehilangan kesempatan, ia langsung melepas pakaian yang melekat pada Dea. Mencium Dea lagi dengan ganas, menyesapnya tanpa ampun. Ada gelora yang mengebu, ada hasrat yang menuntut. Malam ini ia dan Dea harus melebur jadi satu.
Bibir keduanya masih bertautan, meski sesekali lepas. Namun, Daniel tidak membiarkannya terlalu lama. Tangannya juga masih aktive seperti semula, pria itu semakin bersemangat ketika melihat Dea yang berkali-kali mengeliat karena ulahnya.
"Dee ...!"
Terdengar suara Daniel yang berat dan serak memanggil namanya. Dengan tatapan buram karena otaknya sudah tidak bisa berpikir lagi, akibat serangan Daniel. Dea pun menatap wajah suaminya itu.
"Sekarang ya?" bisik Daniel.
Dea meremas kain seprai, jantungnya serasa mau meledak. Daniel akan melakukannya sekarang.
__ADS_1
"Tahan ya!" tutur Daniel dengan lembut. Laki-laki kalau ada maunya pasti bersikap lembut. Waspadalah!
***
Seperti terhantam benda tumpul yang keras, sakit dan berdarah. Dea mengigit bibir bawahnya. Menahan rasa sakit dan perih ketika Daniel berhasil merengut keperawanannya.
Danil sendiri sudah basah kuyub, kegiatan barusan membuatnya mandi keringat. Kini ia nampak lelah dan lemas, ia pun memilih merebahkan tubuhnya di samping Dea, kemudian menoleh, dilihatnya wajah Dea yang menahan perih.
"Apa sakit?" tanya Daniel sambil mengamati ekspresi Dea.
Dea menoleh, tapi tak menjawab. Hanya memejamkan mata.
"Ternyata kamu masih perawan."
Dea kembali menoleh. Namun, malah menatap tajam pada suaminya.
"Ini juga yang pertama bagiku!"
Dea tersenyum tak percaya, ia meragukan ucapan Daniel. Dilihat dari betapa ahlinya Daniel membuatnya terbakar, ia merasa Daniel pembohong besar.
"Terserah kalau tidak percaya ... ayo pindah kamar." Daniel turun terlebih dahulu, kemudian memutari ranjang.
"Bisa jalan nggak?"
Dea melengos, gadis itu ikut turun. Meninggalkan noda darah di atas kain seprai.
"Ke kamarku dulu, biar aku bereskan ini!"
Dea sejak tadi irit bicara, hanya Daniel yang terus berbicara. Dilihatnya Daniel menarik kain seprai yang menjadi saksi bisu malam pertama mereka.
"Loh, kok masih di sini?" Daniel berbalik, tidak menyadari Dea masih ada di sana. Padahal ia sudah menyuruh pindah ke kamarnya.
"Apa tidak bisa jalan? Apa perlu aku gendong?" goda Daniel.
Dea menatap sebal, kemudian memilih berjalan meninggalkan Daniel.
Daniel tersenyum menatap Dea dari belakang, cara berjalan Dea yang seperti yuyu, membuat bibirnya mengembang. Bersambung.
__ADS_1