Dea I Love You

Dea I Love You
Rindu Terlarang


__ADS_3

Dea I Love You


Bagian 53


Oleh Sept


Rate 18 +


Dea adalah salah satu wanita yang mungkin harus bersyukur dan berterima kasih pada suaminya. Masa ngidam yang kadang ngeri-ngeri sedap, sudah diambil alih oleh sang suami. Rasa tidak nyaman, perut yang serasa diaduk-aduk, buktinya tidak dirasakan sama sekali.


***


Astro Group


"Tuan, apa anda kurang sehat?" tanya sekretaris Kim yang melihat Daniel keluar dari kamar mandi. Dilihatnya wajah bos sudah pucat pasi.


"Entahlah, Kim. Mungkin sala makan ... Dan itu, tolong singkirkan dariku."


Daniel menunjuk kotak makan yang ada di atas meja.


"Apa Tuan mau saya pesankan menu yang lain?" tawar Kim.


"Tidak, bawa saja semua itu keluar."


"Baik, Tuan."


***


Ruang meeting. Seorang wanita muda nan modis dan rapi, menyerahkan sebuah map pada Daniel. Dengan senyum ramah, wanita itu berdiri di dekat Daniel. Wangi parfum wanita itu sangat lembut, kalau dari baunya sepertinya buatan luar negri. Daniel bahkan kenal aroma yang khas itu. Akan tetapi, baru beberapa detik mencium bau tersebut, perut Daniel mulai bereaksi.


Spontan ia meninggalkan ruang meeting, tidak peduli pada para peserta rapat. Daniel pergi degan membekap mulut serta hidung, sehingga membuat orang-orang menatap aneh pada karyawan wanita yang cantik tersebut.


"Astaga! Kenapa Pak Daniel menutup hidung? Perasaan tadi pagi aku sudah pakai deodorant. Dan ... parfum yang sangat-sangat banyak!" batin karyawan wanita tersebut.


Sementara itu, pegawai yang lain, mereka menatap aneh pada wanita tersebut. Sebuah tatapan yang meresahkan. Membuat wanita itu langsung merasa tidak nyaman.


"Maaf, rapat sepertinya harus ditunda. Sepertinya Tuan Daniel sedang kurang enak badan," tutur sekretaris Kim.


Kim pun ikut keluar, ia menyusul bosnya.


"Tuan, apa Kita ke rumah sakit?"

__ADS_1


Daniel melambaikan tangan, tanda tidak.


"It's okay, Kim. Tidak usah .... huek huek huek!"


Daniel kembali merasa mual, pria itu langsung kembali mencari kamar kecil untuk mengeluarkan isi dalam perutnya.


***


Dea pulang lebih awal, ketika jam menunjukkan pukul satu siang. Saat akan naik taksi, tiba-tiba Vino datang dengan motor di belakangnya.


"Dee ... gue antar."


"Enggak, terima kasih. Gue masih ada perlu." Dea clingak-clinguk, wajahnya mulai panik.


"Ayolah! Gue kok ngerasa lo jarang kumpul-kumpul lagi sama kita-kita. And by the way, nanti sore dateng ya. Gue tanding, sepi kalau nggak ada tim hore kaya lo."


"Aduh ... nggak bisa Vin, anu ... gue udah ada acara."


"Tapi sabtu depan elo gak absen kan? Lama ni nggak main basket bareng."


"Gila lo, Vin. Bisa-bisa anak gue ilang kalau gue ajak main basket," batin Dea.


Dea hanya tersenyum terpaksa, "Sorry, Vin. Swear ... gue ada acara besok, dan sabtu itu." Dea mencoba mencari banyak alasan.


"Elo nggak lagi menghindar dari gue, kan?" tanya Vino to the point.


"Hah? Gila lo, ngapain gue ngindar dari lo. Gue juga gak ada utang sama lo."


"Makanya!"


Vino melepaskan helm, cowok keren itu memarkir motor dan mendekati Dea.


"Nanti dateng ya, gue tunggu. Gue butuh support dari lo." Vino tersenyum penuh harap.


"Gak bisa, Vin."


"Gue jemput deh." Vino bersikukuh, masalahnya ia sudah kangen berat sama cewek incarannya itu. Beberapa hari tidak melihat Dea, membuat ia rindu berat. Sayang sekali Vino tidak tahu, bahwa rasa rindunya itu adalah rindu terlarang. Rindu sama istri orang. Merasakan.


***


"Tuan, kampus Nona Dea ada di depan sana. Apa Kita mampir sekalian?"

__ADS_1


Kim dan Daniel habis dari dokter, rasa mual yang berat. Membuat Daniel mau mendengar saran sekretaris Kim. Kini, pria itu tersenyum tipis. Mengingat penuturan dokter tadi. Ia seperti kena karma. Anggap itu adalah balasan atas apa yang ia lakukan pada Dea pada awal-awal hubungan mereka.


"Mungkin belum pulang, Kim. Tapi tunggu, lewat saja ... tidak apa-apa."


"Baik, Tuan."


Mobil itu pun melaju di depan area kampus biru. Kim melambatkan laju mobil, ketika melihat di ujung jalan ada sosok yang familiar.


"Itu Nona Dea," batin Kim. "Tapi, aduh!" gumam Kim.


WUSHHH


Kim mempercepat laju mobil, ia tidak mau bosnya marah-marah. Apalagi yang ia lihat barusan adalah lengan Dea di pegang oleh teman kuliahnya. Bisa-bisa, gunung merapi itu langsung meletus di tempat.


"KIM!" sentak Daniel.


"Iya, Tuan."


"Mundur!"


Sekretaris Kim memejamkan mata, "Aduh!" batinnya. Sepertinya Daniel melihat pemandangan yang mengusik hati tersebut.


Meski sedang pusing, mata elang Daniel masih bisa menangkap sosok istri tercintanya itu. Bisa-bisanya ada yang pegang-pegang istrinya. Benar-benar cari mati.


Chittttt


Mobil itu berhenti tepat di sisi Dea.


Brukkkk


Bersambung.


Dea menoleh, seketika hawa dingin menyelimuti sekitar.


Sambil nunggu up, baca juga ya


Istri Gelap Presdir


Rahim Bayaran


Jerat Cinta Tuan Muda

__ADS_1


Terima kasih


Instagram : Sept_September2020


__ADS_2