
Dea I Love You
Bagian 20
Oleh Sept
Rate 18 +
"Ish, ngapain berdiri aja. Masuk! Tuh ada Mama di dalam!" ucap Dea sambil bisik-bisik, takut Mama mertuannya dengar.
"Mau ke mana?" Bukannya langsung masuk, Daniel malah bertanya. Pria itu masih menatap Dea, mengamati dari atas sampai bawah. "Nggak seperti biasanya, tuh wajahnya diaplas atau diapain? Kok jadi glowing gitu?" batin Daniel.
"Bukannya mau ke mana, tapi capek habis dari mana-mana!" celetuk Dea kemudian berbalik.
"Sudah pulang?" sapa Mama.
"Iya, Ma." Daniel pun mendekati mamanya, dan duduk di sebelahnya.
"Mama seharian ini seneng banget, bisa jalan-jalan sama anak perempuan Mama."
Daniel hanya tersenyum simpul, mamanya itu memang sudah senang sekali dengan Dea sejak gadis itu kecil. Hingga perjodohan ini tercetus, padahal Dea masih kuliah dan baru aja menginjak usia dua puluh tahun.
Daniel sampai heran, apa bagusnya Dea? Hingga mamanya tidak suka dengan Dara. Sandara jauh lebih matang, dewasa, mandiri dan karir bagus. Dan juga Dara lebih cantik tentunya. Sampai saat ini, ia tidak tahu, alasan mamanya membenci kekasihnya itu.
"Bagaimana persiapan perayaan hari jadi perusahaan, Niel?"
"Hampir finish, Ma. Tinggal nunggu hari H."
"Mama mau pas acara nanti, kamu harus umumin ke public ya. Tentang pernikahan kalian."
"Dea masih kuliah, Ma. Dan lagi nanti privasinya keganggu. Iya kan, Dea?" Daniel melirik ke arah Dea. "Mama mau tiap hari Dea dibuntuti wartawan?" tambah Daniel.
Mama mulai berpikir, "Iya juga. Dea bakalan tidak lagi punya ruang bebas. Pasti ada saja media yang mengulik kehidupan putra dan menantunya itu," batin Mama.
"Ya sudah, terserah kamu saja."
Sedangkan Dea, gadis itu hanya diam saja. Tidak menyimak, bukan karena tidak tertarik. Dea hanya kelelahan, seharian diajak Mama Rosie jalan-jalan, membuat ia kecapekan.
Mama Rosie melihat hal itu, "Dea pasti capek, ya sudah ... istirahat di kamar saja, sayang. Mama masih mau bicara sama Daniel," ucap Mama dengan lembut.
Kesempatan, Dea memang ingin merebahkan tubuhnya. "Gak apa-apa, Ma?"
"Hemm ... nggak apa-apa, sayang." Mama Rosie mengangguk dan melempar senyum teduhnya pada Dea.
Dea pun langsung bergegas menuju ke kamar, baru beberapa langkah. Ia ingat ada Mama, ia tidak boleh ketahuan tidur di kamar terpisah. Tanpa sepengetahuan Daniel, Dea langsung saja masuk ke kamar suaminya.
"Empuk banget, ish ... nggak adil. Ranjangnya beda sama di kamar sebelah!" gerutu Dea.
Karena memang benar-benar kelelahan, tidak butuh waktu lama. Beberapa saat kemudian, terdengar suara dengkuran Dea. Gadis itu sudah terbang ke alam mimpi.
***
Mama sudah pulang, kini tinggal mereka berdua di dalam apartment. Daniel sendiri belum mandi, karena sudah gerah, ia pun memutuskan mandi. Sambil bersenandung lirih, pria itu masuk ke kamar. Belum menyadari keberadaan Dea. Karena tubuh Dea tertutup selimut sepenuhnya.
Selesai mandi, Daniel lantas memakai piyama dan duduk di tepi ranjang. Daniel pikir, gundukan di atas ranjangnya adalah bantal dan guling, ia pun menariknya dengan asal.
"Dea?" gumam Daniel.
"Kenapa tidur di sini?" batinnya.
"Apa kamu mau menggodaku, Dea?" ucapnya lirih, bibir Daniel langsung mengulas senyum. Ia tersenyum tak jelas, sudah mirip orang gila di pinggir jalan.
__ADS_1
"Cantik sih, tapi ...!"
Bukkk
Kaki Dea mengenai Daniel, gaya tidur Dea memang jauh dari kata elegant. Model tidur yang suka banyak tingkah. Membuat Daniel hanya bisa geleng kepala.
"Dea ... Dea .... pindah."
Di mana-mana membangunkan orang itu dengan suara yang keras, tapi tidak bagi Daniel. Pria itu membangunkan Dea dengan bisik-bisik, bukannya bangun, suara Daniel malah terdengar seperti lagu pengantar tidur, Nina Bobo!
Daniel sepertinya sengaja tidak ingin gadis itu bangun. Buktinya bangunin orang tidur nggak kaya bangunin sahur.
Tengah malam, Daniel sudah terlelap sambil menatap wajah Dea. Sedangkan Dea, gadis itu bangun karena merasa lapar.
Awalnya ia terkejut, begitu membuka mata malah melihat wajah Daniel. Dengan hati-hati, agar tidak menimbulkan suara, Dea perlahan turun dari ranjang.
"Kenapa tadi nggak dibangunin?" pikir Dea. Sekilas ia menoleh, dilihatnya Daniel masih tidur dengan lelap.
Sampai di dapur, ia mencari makanan. Dea tersenyum. Ternyata Mama mertuannya sudah menyiapkan makan malam untuk mereka.
Karena benar-benar lapar, Dea langsung mengambil piring. Satu persatu ia mengambil lauk pauk yang tersaji di meja.
Aneh, gadis itu malah makan sembari mengusap pipinya. "Apa begini rasanya punya Ibu?" Dea menyusut hidungnya yang juga berair.
Gadis itu senang tapi juga sedih, seumur-umur tidak pernah merasakan masakan seorang Ibu. Salah satu ia menerima perjodohan ini adalah Mama Rosie. Wanita itu seperti sosok Ibu yang ia rindukan selama ini.
Di dalam kamar, sayup-sayup Daniel mendengar suara orang terisak. Tidak mungkin itu tangisan kunti tengah malam. Dilihatnya Dea sudah tidak ada, Daniel pun akhirnya keluar kamar.
Suara bersumber dari dapur, lampunya menyala terang. Pasti Dea, pikir Daniel.
"Mengapa menangis? Apa hari ini Mama membuatnya tertekan?" batin Daniel sambil terus melangkah mendekati Dea.
Dea langsung kelabakan, dengan asal ia mengambil lap meja dan mengusap ingusnya.
"Ish jorok!" Daniel langsung membuang muka.
"Pakai ini!" seru Daniel sembari mengambil tisu.
"Ada apa?" tanya Daniel kemudian.
Dea menggeleng, gadis itu tidak pernah membagi kesedihan pada orang lain. Dea lebih nyaman menikmati kesedihannya seorang diri. Bahkan ayahnya saja tidak pernah tahu, beberapa kali ia menangis semalaman karena merindukan sosok Ibu.
Ketika Dea berdiri dan meninggalkan Daniel, pria itu langsung mencegahnya.
"Dea, aku sedang bicara denganmu! Apa orang tuamu tak pernah mengajari, bagaimana sikap sopan-santun? Aku bahkan belum selesai bicara. Jangan pergi seenaknya. Jangan seperti anak yang tidak pernah dididik orang tuanya."
Dea tertegun, kemudian berbalik. "Aku memang kurang didikan, Ayah selalu sibuk. Puas?" Dea pun melanjutkan langkahnya.
"Kenapa dia yang marah?" batin Daniel sambil menyusul istrinya.
"Hey, ada apa denganmu? Mengapa tiba-tiba menangis dan marah secara bersamaan? Apa Mama hari ini menyulitkanmu?" tebak Daniel.
Dea menggeleng.
"Lalu ada apa?" Daniel jadi tambah penasaran. Menikahi anak kecil benar-benar harus ektra sabar.
"Bukan apa-apa!"
Dea berjalan melewati Daniel, gadis itu langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri. Meringkuk di dalam kamar seorang diri.
***
__ADS_1
Sudah pukul tujuh, Daniel pun sudah nampak rapi dengan setelan jas warna navi. Pria itu sejak tadi melirik ke pintu kamar Dea. Gadis itu belum keluar juga.
Penasaran, Daniel mengetuk pintu kamar tersebut.
"Dea ... apa masih tidur?" tanya Daniel sambil berdiri di muka pintu.
Biasanya ia akan berangkat meskipun Dea belum keluar kamar. Hanya saja tidak dengan pagi ini. Tidak tahu mengapa, hati Daniel merasa belum tenang kalau tidak melihat Dea pagi itu.
Tok Tok Tok
"Dea?"
Cemas, akhirnya Daniel mengambil kunci cadangan.
"Aku masuk ya, Dea!" Daniel mengintip sedikit saat pintu sudah terbuka. Takut bila Dea sedang ganti pakaian atau apa.
Karena tidak ada sahutan, pria itu pun masuk lebih dalam. Dilihatnya Dea masih tidur sambil memeluk sebuah pigura.
Dengan perlahan, Daniel menarik pigura yang bersisi foto usang tersebut. Sepertinya, usia foto sudah sangat lama, hanya gambar hitam putih saja.
Daniel mengamati wajah di foto dengan seksama, seperti Dea versi jadul. Bibirnya yang semula tersenyum langsung berubah. Daniel seolah merasakan kesedihan Dea, sepertinya sang istri sedang merindukan Ibunya. Dari cerita mamanya, Dea memang sudah lama ditinggal ibunya. Hanya saja, Daniel kurang tahu pasti. Kapan dan mengapa ibu Dea meninggal.
Sembari meletakkan figura di atas nakas, mata Daniel mengamati wajah sendu Dea. Mata gadis itu sembab, pasti menangis cukup lama.
Mau berangkat ke kantor, tapi tidak tega meninggalkan Dea sendirian.
Drett drettt
Ponselnya bergetar. Daniel menjauh sedikit, kemudian mengangkat telpon.
"Iya, Kim. Ada apa?"
"Tamu dari Jerman sebentar lagi tiba, seperti rencana Tuan. Apa Kita langsung ke bandara untuk menjemput beliau?"
Daniel menghela napas, ia melirik ke Dea sejenak. Kemudian kembali bicara pada sekretaris Kim.
"Tunggu sebentar, Kim!"
"Baik, Tuan!"
Tut tut tut
Sambungan telpon terputus.
Daniel kembali mendekat ke ranjang, ia menyentuh tangan Dea, agar gadis itu bangun.
Bukannya bangun, Dea malah memegang tangan Daniel.
"Jangan pergi!" ucap gadis itu dengan lirih, wajahnya nampak gelisah. Dea sedang mengigau sepertinya, karena matanya masih terpejam.
Melihat hal itu, Daniel memutuskan duduk di tepi ranjang. Mengusap dahi Dea, menghilangkan kerut di kening gadis tersebut. Ada rona sendu di wajah keduanya.
"Aku lebih suka melihatmu yang ceria, bandel, dan suka membantah dari pada seperti ini!" bisik Daniel pelan.
Entah mendapat dorongan dari mana, tiba-tiba saja Daniel mendekatkan wajahnya.
Saat hembusan napas hangat menerpa wajahnya, Dea perlahan membuka mata. Ia terbelalak ketika melihat wajah Daniel sudah sangat dekat dengan wajahnya. Bersambung
Yang belum kenal sama penulis, yuk kenalan. Hehehe ....
Instagram : Sept_September2020
__ADS_1