
Dea I Love You
Bagian 54
Oleh Sept
Rate 18 +
Vino terhenyak, motor mahalnya ditendang begitu saja sampai ambruk oleh pria yang tidak ia kenal. Namun, Vino kemudian teringat. Itu adalah pria yang sama saat di camp dulu. Pria yang sama juga, saat menanyai dirinya di kampus tempo hari.
"Hey! Maksudnya apa ini?"
Cowok tersebut marah, Daniel tiba-tiba datang dan menendang motor miliknya.
"Dea masuk!" suara Daniel terdengar berat, tegas dan seram.
Seketika, Dea merasa merinding. Tapi, tidak mengindahkan perintah Daniel untuk masuk mobil. Ini lantaran Dea tidak mau melihat suaminya ribut dengan teman kuliahnya. Apalagi ini masih di area kampus. Bisa-bisa nanti masuk radar kampus, jadi gosip hangat di kalangan mahasiswa di sana.
"Dea, apa kamu nggak dengar? Masuk!"
Vino menatap keduanya bergantian, "Dea, siapa dia? Kalau ada apa-apa, cerita aja. Gue siap bantu lo."
"Jangan ikut campur!" potong Daniel.
"Ikut campur? Harusnya anda malu dengan usia anda. Menendang motor tanpa alasan, itu sangat kekanak-kanakan!" cetus Vino.
"Sorry, Vin. Nanti gue ganti rugi," sela Dea yang merasa tidak enak karena Daniel merusak motor temannya.
"Ngapain lo yang minta maaf!" Vino menyindir Daniel.
Daniel berkacak pinggang, ia geram pada pria muda di depannya.
"Kalau tidak mau motor kamu rusak, jaga itu tangan!" Daniel menatap tajam.
Vino memincingkan mata, ia tidak paham kata-kata Daniel.
"Udah Vin, sorry. Besok gue transfer, ganti rugi." Dea mencoba melerai.
"Bukan masalah uang, Dee! Gue cuma mau pria ini minta maaf."
Vino menuntut permintaan maaf dari Daniel.
Seperti tidak mendengar kata-kata Vino, Daniel langsung saja meraih tangan Dea.
"Masuk dulu!" ucap Daniel.
"Tapi ...!"
"Aku bilang masuk!" Daniel sudah mulai tidak sabaran.
"Jangan paksa kalau Dea nggak mau!" ujar Vino dengan suara yang keras.
Bugh
Daniel berbalik setelah memberi bogem pada Vino. Terlalu ikut campur.
"Astaga!" pekik Dea. Bumil itu langsung menghampiri Vino.
"Kamu nggak papa?" tanya Dea dengan cemas.
Melihat Vino memegang perutnya, Dea langsung menghadang Daniel.
"Ngapain main pukul-pukul?"
"Masuk!"
"Aku nggak suka, kamu mukul orang sembarangan!"
"Aku masuk mobil!"
Bugh
Gantian Vino yang memukul Daniel.
"Vino!" sentak Dea ketika melihat ujung bibir suaminya berdarah.
Daniel menyeringai, ia sudah siap memberikan pelajaran pada teman Dea tersebut.
"CUKUP!" Dea memeluk tubuh suaminya. Mencoba menghentikan baku hantam yang tak jelas ini.
Vino terlihat kecewa, melihat Dea malah memeluk pria di depannya.
Sedangkan Kim, pria itu masih di balik kemudi. Ia baru turun saat melihat Vino menyerang bosnya.
__ADS_1
"Tinggalkan tempat ini!" bisik Kim pada Vino. Ia kemudian membangunkan motor Vino. Dan menepuk dada Vino.
"Siapa kalian!" Vino jadi penasaran. Sebenarnya mereka itu siapa.
"Itu tidak penting, saya mohon. Anda segera meninggalkan tempat ini," bisik Kim lagi.
Tidak terima, karena pertanyaannya tak terjawab. Vino menuntut pada Dea.
"Dea, siapa dia?"
"Aku siapa, bukan urusanmu. Aku peringatkan, jangan sentuh istriku lagi!" Daniel langsung berbalik dan masuk mobil. Tangannya mengengam tangan Dea.
Bruakkk
Pintu dibanting dengan kencang.
Dea diam saja, sekilas ia melirik ke arah Vino. Wajah pria itu terlihat sangat terkejut. Kemudian ganti menatap suaminya. Masih ada bekas darah di ujung bibir itu.
***
"Cuti saja kuliahnya!" ucap Daniel memecah sepi di tengah perjalanan menuju apartment.
Dea langsung menoleh.
"Nggak bisa!"
"Sebentar lagi perutmu akan membesar, lebih baik cuti dari sekarang."
"Pokoknya nggak, aku bahkan nyaman dengan kehamilan ini. Tidak ada yang menganggu."
"Aku yang terganggu! Apa jangan-jangan kamu sengaja kuliah hanya untuk cuci mata?" sindir Daniel
Sindiran itu pun mendapat tatapan tajam.
Sadar bahwa ucapannya mungkin akan mengundang bencana, Daniel langsung merengkuh pinggang istrinya.
"Aku hanya nggak suka lihat cowok-cowok deketin kamu."
Dea masih melengos, ia memilih menatap jendela dari pada melihat suaminya.
"Pokoknya kuliah tetep jalan," cetus Dea.
"Iya ... iya. Tapi jauhi cowok yang tadi!"
"Ish ... jangan temui dia lagi."
"Mana bisa?"
"Harus!"
Menyadari Daniel yang mulai ngatur-ngatur, Dea langsung beringsut. Ia bergeser. Tidak mau duduk dekat-dekat dengan suami yang suka ngelarang ini dan itu.
"Dea! Apa kamu nggak lihat? Dia tadi memukul wajahku!"
"Kamu yang memukulnya duluan!"
Daniel menghela napas panjang.
"Ah, sudahlah! Terserah."
Daniel malah gusar sendiri. Sampai di tempat parkir apartment. Daniel langsung turun terburu-buru. Pria itu merasa mual lagi, hingga meninggalkan Dea tanpa membuka pintu mobil untuk istrinya. Dea pikir, Daniel marah padanya.
"Nona!" cegah sekretaris Kim saat Dea keluar dari mobil.
"Ada apa sekretaris Kim?"
"Obat Tuan!"
"Obat? Obat apa?"
"Dari dokter barusan, sepertinya Tuan kurang enak badan."
"Hah?"
Mendengar penjelasan sekretaris suaminya, Dea bergegas naik ke lantai atas.
"Terima kasih sekretaris Kim!"
Dea pun tidak sabar menekan tombol lift, ia tidak menyangka bahwa hal itu bisa terjadi. Dea sempat pernah mendengar hal semacam itu. Tapi ia tidak percaya, suaminya yang malah ngidam. Bibirnya kemudinya mengembang.
"Sayang ... sayang!" panggil Dea yang suasana hatinya sudah berubah lebih baik. Ia senang saat melihat suaminya menderita.
Klek
__ADS_1
Dea membuka pintu kamar mandi, dilihatnya Daniel berdiri di depan wastafel sembari membasuh muka denga air yang terus mengalir.
Daniel menoleh, kemudian kembali membasuh wajahnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Daniel karena tiba-tiba Dea memeluknya dari belakang.
"Maaf ya, karena aku malah seneng saat kamunya kaya gini."
Daniel pun berbalik, kini mereka berdua bisa saling menatap tanpa terhalang apapun.
"Dari mana kamu tahu, paling Kim yang bilang," tebak Daniel.
Dea mengangguk, kemudian menyandarkan kepalanya pada dada kotak-kotak tersebut.
Tangan Daniel lalu terangkat, perlahan mengelus lembut rambut Dea. Mengecup pucuk kepala istrinya. Tidak sengaja, aroma shampo membuat ia tidak nyaman. Reflect Daniel melepas pelukan mereka.
"Ada apa?"
"Hanya mual."
"Apa tidak senyaman itu?" tanya Dea penasaran.
Daniel hanya tersenyum. Dan Dea pun jadi tak tega. Bila semula ia senang dan mau bilang kapok pada Daniel, melihat Daniel yang sekarang. Ia jadi tidak tega.
"Ya udah, aku ambilin obat. Ayo minum obat."
"Ish ... aku nggak butuh obat itu."
"Gak butuh apanya, kata sekretaris Kim. Kamunya mual muntah di kantor."
"Jangan terlalu percaya Kim. Dia sering nambah-nambah."
Dea tersenyum manis, ada-ada saja suaminya itu. Ia bahkan lebih percaya Kim dari pada Daniel.
***
Pukul empat pagi, Daniel terbangun karena rasa mual. Dengan terpaksa ia meminum obat dari dokter kemarin.
"Mau sampai kapan seperti ini?" batin Daniel setelah dari kamar mandi. Masih diliputi rasa kantuk, ia pun kembali berbaring.
Diliriknya Dea yang masih lelap, istrinya itu emang ratunya ngebo. Tidurnya anteng banget. Walau bumi berguncang, Dea tidak akan terusik.
Lima menit, sepuluh menit dan hampir sentengah jam, Daniel masih terjaga. Ia tidak bisa tidur lagi. Hanya diam menatap langit-langit kamar.
Bak buk, bak buk. Daniel sudah mirip gorengan yang dibolak balik dalam wajan. Miring kanan miring kiri tapi tak kunjung bisa tidur jua. Akhirnya ia bangun saja. Setengah duduk sambil bersandar pada kepala ranjang.
Wajah Dea yang terlelap, membuat ia gemas. Masa ia menimbulkan banyak suara tapi istrinya itu tetap diam tak berkutik. Benar-benar ngebo sekali.
Cup
Daniel mencoba mengusik tidur Dea, ia bingung mau apa. Terlanjur bangun tidak ada temannya. Dengan hangat ia mengecup kening Dea.
"Sayang ..." bisik Daniel.
"Ehem!" Pria itu berdehem.
"Bangun dong!" pintanya dengan lembut.
"Dea sayang!"
Dengan jahil, Danile malah mengelitiki hidung Dea dengan rambut Dea sendiri. Ia tersenyum ketika Dea menepis tangannya.
"Ayo bangun!"
"Hemmmm."
"Sudah pagi."
"Jangan ganggu! Aku ngantuk."
Daniel berhenti sejenak.
"Sayang." Pria itu kembali jahil, ia meniup-niup telinga bumil tersebut. Membuat Dea kesal.
"Jangan ganguin dong!"
"Mana bisa!" Daniel langsung merapatkan posisi. Ia memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Ngantuk banget, biarin aku tidur sebentar lagi."
"Tidurin yang ini dulu!"
"Astaga!" Dea langsung membuka mata lebar-lebar, kemudian memukuli tubuh suaminya. Sudah ada isinya, masih juga mau diisi lagi. Bersambung. Oh, serangan fajar.
__ADS_1