
Dea I Love You
Bagian 51
Oleh Sept
Rate 18 +
Kring, kring, kring
Alarm terus saja berbunyi, mengusik tidur sepasang manusia yang lagi hangat-hangatnya. Daniel meraba, mencari benda yang mengeluarkan suara berisik tersebut. Berhasil mematikan alarm, Daniel kembali mendekap Dea. Lalu memejamkan mata lagi, rasa kantuk masih menyerang. Daniel pun meneruskan tidurnya.
Satu jam kemudian.
Tok, tok, tok
"Siapa sih? Pagi-pagi sudah menganggu?" Daniel lantas menyibak kain selimut, turun dari ranjang kemudian melihat siapa yang datang.
KLEK
"Aku rasa kamu kurang kerjaan!" cibir Daniel begitu membuka pintu dan didapatinya sekretaris Kim berdiri tepat di depan.
"Maaf Tuan, kita ada meeting hari ini. Saya hubungi ponsel Tuan, tapi tidak tersambung," terang Kim yang mengeluh, sulit sekali menghubungi bosnya tersebut.
"Aku matikan," jawab Daniel dengan enteng. Tanpa rasa bersalah. Kemudian berbalik masuk ke dalam apartmennya.
"Mau berdiri terus di situ? Masuklah!" sambung Daniel.
Saat sekretaris Kim masuk, Dea baru keluar dari kamar.
"Sayang ..." panggil Dea. Wanita muda itu tidak tahu, ada tamu di apartment mereka.
"Eh, ada sekretaris Kim." Dea menyapa dengan senyuman ramah.
Sekretaris Kim hanya bisa tersenyum kecut, dilihatnya rambut Daniel yang acak-acakan. Dan pakaian Dea yang kusut. Sepertinya ia datang di waktu yang salah. Tapi bagaimana lagi, ia harus menjalankan tugasnya. Sang atasan harus menghadiri meeting bersama klien penting pagi ini.
"Sayang, buatin kopi. Dan Kim ... kamu mau apa? Biar dibikinkan istriku."
Kim semakin tersenyum kecut, ia merasa Daniel sedang pamer. Mentang-mentang ia masih betah melajang sampai sekarang.
"Iya, sekretaris Kim mau apa?" tanya Dea yang berjalan menuju dapur sembari mengikat rambutnya dengan sembarang.
Di belakang Dea, Daniel menyusul. Ia mengekor pada istri kecilnya tersebut. Saat Dea kesulitan mengambil sesuatu dari rak atas, dengan sigap suaminya langsung mengambilkan. Sembari mencuri kesempatan, memeluk-meluk dari belakang.
Dari jauh, sekretaris Kim merasa iri. Menikah sepertinya enak juga.
__ADS_1
"Minum Kim, jangan melamun saja."
Daniel meletakkan dua gelas minuman di atas meja, sedangkan Dea, wanita itu mau bersiap. Karena ada kuliah juga pagi ini.
***
"Jangan ngebut ya, hati-hati kalau mengemudi," pesan Daniel pada Dea yang sudah bersiap di dalam mobil.
Daniel yang masih berdiri, menatap ke dalam mobil Dea. Sepertinya ia tidak suka melihat Dea berangkat sendiri mengemudi naik mobil ke kampus. Ini gara-gara Kim, karena jadwal yang tidak bisa diundur. Ia harus buru-buru.
"Hemm ... aku berangkat ya."
Daniel mengangguk, kemudian memasukkan kepalanya ke dalam.
Muaah
Sebuah kecupan singkat tepat di bibir Dea yang basah karena lip gloss rasa jeruk.
"Ish!" Daniel mengumat dalam hati. Maunya hanya kecupan singkat, tapi gimana lagi. Ia malah keterusan.
Dengan dalam dia menyesap bibir Dea, membuat mata wanita itu terbelalak. Bukannya apa-apa, masalahnya mereka sudah ada di halaman. Dan Dea tahu, di belakang sang suami tadi ada sekretaris Kim.
Wajah Dea terasa panas saat Daniel melepas ciumannya. Selain karena rasa malu, juga karena detak jantungnya yang memburu.
Daniel menarik diri, membiarkan Dea pergi. Sedangkan sekretaris Kim, sejak tadi harus tersiksa karena pemandangan yang mengusik jiwa jomblonya.
"Ayo Kim!" ajak Daniel dengan tenang seperti tidak apa-apa.
***
Di sebuah ruangan ber-AC, nampak beberapa orang berpakaian rapi. Semua sedang memperhatikan seorang wanita yang sedang presentasi dengan gaya yang meyakinkan, nampak cerdas dan penuh rasa percaya diri.
Sesekali beberapa orang tersebut mengangguk bersama-sama saat mendengarkan sang pembicara. Dan setelah meeting selesai, semua pergi meninggalkan ruangan satu per satu. Yang tersisa tinggal Daniel, sekretaris Kim dan perwakilan dari pimpinan kantor cabang.
"Terima kasih untuk waktu dan kesempatan yang Pak Daniel berikan." Pimpinan cabang tersebut mengulurkan tangan, untuk berjabat tangan.
Daniel menyambut dengan ramah. "Sama-sama."
"Jadi, kapan proyek ini resmi dimulai? Tapi kamu butuh Pak Daniel langsung untuk meninjaunya."
Daniel diam sesaat, ia kelihatan berpikir. "Nanti biar sekretaris saya yang urus," jawabnya kemudian.
"Baik, saya tunggu kabar dari Pak Daniel. Kalau begitu, saya mohon untuk undur diri."
Daniel mengangguk melepas kepergian orang tersebut.
__ADS_1
"Kim, urus semuanya. Aku tidak bisa pulang pergi ke luar kota atau luar negri dalam waktu dekat ini."
"Tapi, Tuan ..."
"Astaga, Kim! Menikahlah, nanti kamu pasti paham bila menjadi sepertiku."
Kim hanya bisa menelan ludah.
"Bila tanda tangan Tuan bisa dicopy paste, sudah pasti semua bisa saya atasi," gumam Kim.
"Apa Kim? Jangan bicara seperti tawon. Aku tak dengar!"
"Bukan apa-apa, Tuan. Baik, semua akan saya kerjakan."
"Bagus."
***
Begitulah keseharian Daniel selama ini, ia sering sekali meminta Kim mengatasi semua urusannya. Apalagi setelah menikah, pria itu sering mangkir dari pertemuan di luar kota atau luar negri. Kadang memilih meeting secara on-line, karena bila Dea tidak ada kuliah pagi. Pria tersebut lebih memilih menghabiskan waktu bersama dengan istri kesayangannya di dalam rumah.
3 bulan kemudian
Apartment yang semula tenang, mendadak jadi gaduh.
"Dea! Kamu kenapa?"
Wanita muda itu tidak menjawab, malah tengelam dalam isak tangisnya.
"Sayang, apa apa? Jangan membuatku cemas. Katakan sesuatu!"
Tangis Dea malah pecah, ia menangis sejadinya.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Daniel.
"Ayolah katakan! Kalau kamu menangis seperti ini, mana aku tahu apa yang terjadi?" tambah Daniel.
"Kamu jahat!" Dea memukul dada bidang itu dengan lemah. Rasanya tubuhnya lemas, tidak punya tenaga.
"Ada apa?"
Karena Dea masih saja menangis, Daniel pun memberikan pelukan untuk menenangkan istrinya itu.
"Kuliahku bahkan masih setengah jalan," ucap Dea dengan suara lirih bersama isak tangis yang masih terdengar.
"Lalu?" bersambung.
__ADS_1