Dear.

Dear.
20. keputusan Barra.


__ADS_3

sheena turun dari mobil Barra berjalan ke arah gerbang rumah. dia terhenti di depan gerbang melihat Barra yang ada di dalam mobilnya kekecewaan dirinya dengan Barra belum sepenuhnya memaafkan Barra.


sekarang ini sheena butuh kesendirian dan menata kembali kepingan yang patah di hatinya. sheena masuk ke dalam halaman rumah, berjalan menunduk ke bawah sampai sheena tak menyadari ada Oma yang melihat adegan perkelahian kedua pria dan sheena yang di seret ke mobil Barra.


sheena naik ke lantai dua menuju ke kamar pribadinya. melepaskan sepatu dan melemparkan tas mahalnya ke sembarang arah. berbaring di atas ranjang king size merenung dengan segala hal masalah yang menerjang dirinya akhir-akhir ini.


satu tetesan air mata telah lolos sebenarnya dia juga tidak kuat dengan beban kehidupan nya. hanya saja dia menjadi kuat karena sesuatu masalah yang belum ia selesai kan. meremas sprei dengan kuat dunianya sudah hancur dan lebih sakitnya yang menghancurkan dirinya adalah cinta pertamanya.


"Sedikit lagi! Ya.. sedikit lagi kau akan merasakan bagaimana itu kesengsaraan! aku pastikan kau akan menderita seperti diriku dan lebih-lebih sakit apa yang aku rasakan sekarang.!!! " ucap sheena bermonolog sendiri sorot mata yang tajam dan rahang mengetat sampai gigi bergemelatuk kan.


sheena berdiri lalu mengambil tasnya dan mencari handphone di dalam tas.


sheena mencoba menelpon seseorang ~


"Halo? "


"Ya, Nona. Ada yang bisa saya bantu? " tanya seseorang di seberang telepon.


"Aku mau kau awasi gadis sialan itu kemana pun dia pergi! laporkan jika ada sesuatu yang dia lakukan hal sekecil apapun itu. Mengerti !!! "


"Mengerti, Nona.!? "


"Bagus! kerjakan dengan benar jangan sampai kerjamu gagal jika kau sampai gagal? kau akan tau akibatnya!!! " Ancam sheena dengan tegas, membuat seorang di seberang sana merasa ketakutan dengan ancaman sheena yang terdengar serius.


sheena mematikan teleponnya lalu merebahkan kembali tubuhnya yang terasa lelah dan letih. banyak sekali masalah yang menghinggapi dirinya membuat kepala menjadi pusing. memijit kepala yang sakit sebelah dan rasa mual yang terus menerus sampai tak ada jeda untuk bernafas.


"Apakah seperti ini wanita hamil?... Rasanya begitu sangat lelah.! "


sheena menutup mulutnya yang mual-mual menahan agar tidak mengeluarkan muntah.


Barra yang masih berada di luar rumah sheena terdiam dan terus menatap ke atas rumah nya. dia melihat sheena dari bawah, terus memperhatikan sheena yang menelpon seseorang dan sekarang terus menahan mual. Hati Barra begitu sakit saat


melihat sheena yang kesusahan menahan mual. seharusnya dirinya ada di samping dia memberi perhatian dan memberikan rasa aman dan nyaman. Tapi, dirinya tak bisa menggapai apa yang di angan-angan nya semua karena perjodohan kuno dan tekanan dari kedua orang tuanya.


"Maafkan aku sayang.. " Barra bergumam, sorot mata tajamnya menitikan air mata penyesalan.


"Aku harus membuat keputusan! Ya, aku harus perjuangkan cintaku dan buah hatiku.!? " Dengan tegat yang kuat Barra menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari rumah sheena.

__ADS_1


Di perjalanan yang begitu berat, rasa perih di wajah dan sekujur tubuhnya tidak ada apa-apanya ketimbang perih di hatinya yang seperti tertusuk-tusuk duri .


šŸƒšŸƒšŸƒ


Barra sampai di rumah utama, dia langsung masuk ke dalam rumah melewati ke dua orang tuanya yang masih duduk di ruang tamu sambil memijit-mijit kepalanya yang terasa pusing.


Abrasam yang melihat anak laki-laki nya memanggil Barra.


"Barra..! "


Barra terhenti, tapi tidak menoleh ke arah papinya.


"Papi ingin bicara dengan mu. "


"Apakah wanita seperti itu yang papi inginkan untuk menjadi istri aku? "


"Barra.. papi akan jelaskan dan kita bicarakan baik-baik. "


"semua kacau karena mu! kekasih yang aku cintai telah menolak ku dan tidak mempercayaiku kembali. sekarang kau senang bukan melihat anakmu ini hancur!!! "


Barra menyeret koper besar ke lemarinya, memasukkan baju-baju dirinya ke dalam koper dan surat-surat penting nya.


Barra bertegat untuk pergi dari keluarga nya dirinya merasa tertekan di rumah sendiri. dia merasa tidak bebas jika masih berada di rumah kedua orang tuanya.


Dia akan menjalani kehidupan tanpa adanya bantuan orang tua dan berdiri di atas kerja kerasnya sendiri.


setelah selesai Barra keluar kembali dengan berpakaian santai, menuruni anak tangga dengan kopernya. Abrasam dan Maureen melihat anaknya menyeret koper besar berdiri dari duduknya.


"Barra... " panggil Maureen.


Barra tidak menyauti panggilan maminya sudah cukup untuk menuruti kemauan nya.


"Mau kemana kamu!? " tanya abrasam.


"Aku rasa tidak ada gunanya aku di sini. aku hanya di jadikan boneka kalian untuk mencapai apa yang kalian inginkan. sekarang, aku tidak akan mau lagi menuruti kemauan kalian lagi. " setelah mengucapkan itu Barra keluar rumah, berjalan menuju ke mobilnya. memasukkan koper ke bagasi lalu dia naik ke dalan mobil.


menjalankan mesin mobilnya lalu keluar dari pekarangan rumah orang tuanya.

__ADS_1


Sedangkan papi mami nya hanya terdiam melihat kepergian anak semata wayangnya.


"Huh!.. kalau saja aku tidak menekankan dia, pasti kejadian memalukan ini tidak akan pernah terjadi. "


"Mami juga sudah di butakan dengan sifat Rara yang lemah lembut. Tapi, Justru sifat aslinya muncul saat di hari pernikahan! mami sangat menyesal pi. "


"Biarkan dia pergi untuk sementara, mungkin dia butuh waktu untuk berbicara dengan kita. " ucap Abrasam.


"Ohya,, Kira-kira siapa kekasih Barra? mami sangat penasaran dengan rupanya. "


"lebih baik jangan dulu mencari tau biarkan Barra sendiri yang mengenalkan gadis yang di pacarinya itu. "


"Baiklah.. Terus bagaimana dengan kerja sama papi sama pak Haris?. "


"Papi juga tidak tau mi, Papi dengar-dengar Haris keluarga yang kaya bahkan perusahaan nya ada di mana-mana. Tapi, papi tidak menayakan nya pada dia sebelum nya benar tidak nya. " jelas Abrasam.


"Bagaimana papi ini! masa papi tidak tau kebenarannya!? "


"Keluarga mereka agak tertutup mi, jadi sangat sulit untuk mencari tau latar belakang keluarga mereka berasal dari mana papi juga belum paham betul. "


"papi bagaimana sih, Huh? jadi selama ini papi juga belum paham mereka dong! "


"papi memang dekat dengan Haris, tapi masalah keluarga nya dia sangat rapih menutupi nya bahkan tidak di publish mi. "


Maureen bertambah pusing, sia-sia saja rencana menjodohkan keluarga yang selevel derajatnya. Tapi, malah tak terduga hasilnya dia berfikir jika mempunyai menantu biasa belum tentu baik akhlaknya apa lagi keluarga nya.


Abrasam juga bingung, pasti di luar sana sudah ramai dengan berita gagalnya pernikahan anaknya dengan putri keluarga Haris.


Abrasam juga harus bersiap dengan pemberitaan yang tak sedap untuk di dengar. Apa lagi citranya pasti akan tercoreng tidak baik di depan publik.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2