Dear.

Dear.
31. Tamu di tengah malam.


__ADS_3

Setelah mereka selesai, apa yang sudah mereka sepakati sebelumnya Revan dan Dean menuju ke Apartemen Barra.


"Kenapa Barra tidak pernah memberitahu kita jika pergi keluar rumah? biasanya juga akan datang ke kita dan pergi ke Bar untuk bersenang-senang. " ucap Revan.


"Mungkin dia juga butuh waktu untuk sendiri. Kau seharusnya paham dengan adanya kejadian waktu itu. "


"Aku tau! mungkin dia sekarang sedang mabuk atau dia sedang merasakan patah hati jadi kita hibur dia. Bagaimana kalau party sampai pagi biar dia mempunyai tenaga kembali. " Ajak Revan.


" Ide bagus! "


Setelah beberapa menit kemudian...


Revan dan Dean telah sampai di depan pintu apartemen Barra. Mereka dengan bersemangat menekankan bel pintu apartemen Barra dengan tidak ada jeda.


Barra yang masih belum tertidur merasa terganggu dengan suara bunyi bel yang berbunyi nyaring. Dengan rasa jengkelnya Barra ingin memukul siapa yang telah berani mengganggu nya di tengah malam.


"Siapa malam-malam bertamu mengganggu saja! "


Setelah membuka handle pintu lalu Barra membuka pintu dengan lebar-lebar. Saat melihat siapa tamunya, Barra begitu kaget Sampai-sampai dia melototkan matanya sangking kagetnya dengan kedatangan kedua sahabatnya.


"Kenapa kalian ke sini? " Tanya Barra.


"Why? Kita kesini tentu saja akan menghibur mu. " Ucap Revan.


"Hei bucin! kita ke sini ingin mengajakmu party dan menghibur mu yang sedang patah hati. Ha Ha " Ucap Dean, Mereka berdua di selingi tawa yang renyah.


"Siapa bilang aku sedang patah hati? lebih baik kalian pulang saja! " Usir Barra, dia sedikit cemas jika Sheena mendengar percakapan mereka.


"Kenapa kau ini. hah! " Tanya Revan sedikit heran, dia mengintip ke arah belakang tapi tidak menemukan siapapun di sana.


Tak tahan dengan Barra yang tidak mempersilahkan mereka masuk. Revan menyingkirkan tubuh Barra ke arah samping dia dan Dean masuk tanpa perlu minta izin Barra.


Melihat mereka yang menyerobot masuk ke dalam. Barra menutup pintu lalu mengejar mereka di tengah jalannya. Menghalangi mereka masuk kedalam apa lagi mereka suka masuk ke dalam kamar pribadi tanpa izin.


"Kau kenapa sih? " Tanya Revan.


"Ah.. aku hanya ingin sendiri saja. kenapa kalian menyerobot masuk tanpa Aku mempersilahkan? " Tanya Barra.


Revan dan Dean menatap Barra dengan tatapan bingung. Tak biasanya Barra melarang mereka masuk ke apartemen nya.


"Kenapa kalian datang ke sini tengah malam? Apa kalian tidak punya rumah sehingga kalian masih berkeliaran di rumah orang? "Imbuhnya lagi.


Revan dan Dean yang sudah menahan emosinya mereka berdua kompak mengunci leher Barra dengan lengannya. Barra berteriak minta di lepaskan karena terasa tercekik.


" Lepaskan! sialan. " Teriaknya.


"Kau sedang ngapain hah! Apa kau menyembunyikan wanita malam ke mari? " Tanya Dean dengan kesal.


"Bu-Bukan! " Barra memukul-mukul lengan mereka walaupun usahanya akan sia-sia saja karen dia tidak bisa terlepas dari kunciannya.

__ADS_1


" Apa kau sedang bermain? " Tanya Revan.


Sheena yang mendengar ada seseorang yang tengah ribut di luar merasa terganggu dengan tidurnya. Sheena melihat ke samping tempat tidurnya tidak ada suaminya di samping.


" Siapa di luar kenapa berisik sekali? " Gumam Sheena.


Dengan rasa penasarannya Sheena turun dari ranjang tidurnya berjalan pelan ke arah pintu. Sheena membuka handle pintu kamar dengan pelan.


Krak...


Mereka bertiga menoleh melihat ke arah pintu kamar saat pintu terbuka melihat Sheena yang tengah berdiri di ambang pintu. Sheena menatap mereka sampai ternganga, Revan dan Dean yang melihat Sheena langsung melepaskan lengannya di leher Barra.


" Uhuk Uhuk! " Barra terbatuk-batuk saat mereka melepaskan tangannya di leher Barra yang terasa tercekik.


Revan dan Dean menyadari jika barusan mereka terlalu kuat mencekik nya.


"Sialan! " Ucap Barra, Revan dan Dean merasa tak enak hati dengan Sheena.


"Ah.. kalian sedang ngapain? " Tanya Sheena.


"Oh.. kita hanya sedang bercanda ya kan van? " Ucap Dean dengan konyol.


"Ah.. iya. kami memang seperti ini kalau sedang bertemu. He he. " Revan dan Dean sedikit canggung merasa jawabannya sangat konyol.


"Sayang, kenapa kamu keluar?" Tanya Barra.


Sheena berjalan mendekati mereka, Barra yang sigap langsung membantunya memapah tubuhnya yang masih lemas.


Kini mereka berada di ruang tamu, Barra dan Sheena masih terdiam. Dengan keadaan seperti ini Dean yang sudah penasaran dengan adanya Sheena yang berada di apartemen Barra membuka percakapan.


"Kenapa kau tidak memberitahu jika ada Sheena di sini? " Tanya Dean kepada Barra.


"Dan juga tidur di dalam kamarmu? " Imbuhnya.


Barra membuang nafas beratnya.


"Bagaimana Aku akan memberitahu kalian? kalian yang terus menyerobot masuk tanpa permisi tidak mau mendengarkan aku dulu. " Ucap Barra dengan kekesalannya.


"aah.. kita minta maaf. " Ucap Revan.


"Jelaskan bagaimana kalian bisa berada disini dan hanya berdua saja? di mana bibi Mutia. " Tanya Dean, biasanya Bibi Mutia yang selalu membukakan pintu dan menyambut kedatangan mereka dikala datang.


"Bibi Mutia pulang jika sudah selesai bekerja. Dan


Beberapa hari yang lalu kami sudah melangsungkan pernikahan dengan secara tertutup Dan itu keinginan Oma Sheena. Aku dan Sheena sementara akan tinggal di sini beberapa hari saja. " Jelasnya.


"Kau keterlaluan! kenapa tidak memberitahu kita jika kau akan menikah? " Tanya Revan dengan marah.


"Apa kau sudah tak ingat kita? sialan! " Dean sangat kecewa karena mereka tak diundang di acara pernikahannya.

__ADS_1


"Ah..Itu kami begitu mendadak jadi kita tak sempat mengundang kalian. Maaf ya. " Ucap Sheena.


Revan menghela nafas. " Bagaimana dengan orang tuamu apa mereka tahu dengan pernikahan mu? "


"Mereka tidak tahu, kalian tak perlu memberi tahu mereka jika Aku sudah menikah dengan Sheena. "


"Baiklah, dan maaf kita sudah mengganggu kalian. Kita pamit pulang saja. " Ucap Dean.


"Baguslah kalian sadar! " Ucap Barra.


"Hei.. Jika tidak ada Istrimu sudah habis kau. " Ucap Revan.


"Sheena! jika ada sahabatmu yang jomblo kasih tau Aku ya? " Ucap Dean sambil mengedipkan mata.


Sheena mengangguk kepalanya dan terus tersenyum merasa lucu dengan mereka.


"Nggak usah genit! Gue colok mata lo mau? Hah. " Kesal Barra dengan Dean yang mengedip kan matanya.


"Dasar bucin! "


"Bodo Amat. "


"Boleh juga! Sheena, boleh lah untuk ku juga sekalian. " Revan menaik turunkan alisnya, Barra yang tak Tahan menyeret mereka berdua untuk segera pergi dari Apartemennya. Sheena tertawa melihat kekonyolan para sahabat suaminya.


"Sana pulang! " Usir Barra.


"Jangan lupa teraktirannya ya! "


"Iya! sudah sana pergi mengganggu saja. " Barra mendorong mereka keluar dan langsung menutup pintu nya.


Barra melangkah ke arah Sheena yang terus tersenyum.


"Kenapa tersenyum? " Tanya Barra.


"Tidak! Aku hanya terhibur dengan tingkah konyol sahabat mu saja. "


"Bagaimana dengan keadaan mu? ''


''Jauh lebih baik."


"Syukurlah kalau begitu. Sekarang kita masuk ke kamar dan istirahat . " Ajak Barra, Sheena menyetujui ajakannya.


Barra mengangkat tubuhnya, reflek Sheena mengalungkan tangannya di leher Barra dengan erat. Sheena menatap wajah tampan Barra yang menatap ke depan hingga sampai masuk di dalam kamar tidur.


Barra meletakkan tubuh Sheena ke tempat tidur dengan pelan-pelan. Barra membaringkan tubuhnya di sisi Sheena sambil memeluk istrinya. Sheena yang di perlakukan seperti itu merasa senang, Barra mencium kening dan bibirnya sebelum memasuki alam mimpi.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2