
"Aku tau betul siapa kamu dan keluarga besar Abrasam." ucapan Oma membuat sheena dan Barra saling menatap, Barra tebak jika Oma sheena bukan orang sembarangan.
"O-oma tau keluarga Barra? " tanya sheena.
"Bagaimana bisa Oma tau keluarga ku?" Tanya Barra dengan penasaran.
"Jelas! bahkan aku sangat mengenalnya, jadi.. keniatanmu untuk meminang cucuku? saya akui kau sangat berani anak muda. Apakah kamu akan menjamin kebahagiaan dan kehidupan yang layak untuk cucuku?! " tanyanya.
Barra menoleh ke sheena sekarang ini dia kabur dari rumah agar terbebas dari kekangan keluarga. Dan ingin berjuang mendapatkan cinta sheena kembali dan melindunginya dan anak yang di kandung.
Barra menghela nafas, dia akan bertegat untuk berjuang sudah sejauh ini tidak mungkin untuk mundur.
“Sebelumnya aku meminta maaf, aku sekarang pergi dari rumah orang tua ku. otomatis aku pasti akan di asingkan oleh keluarga besar ku. Tapi.. aku mempunyai bisnis kecil-kecilan yang aku dirikan bersama kedua sahabatku. aku akan bahagia kan Sheena semampuku dan sekuat tenaga ku, aku tidak akan membiarkan sheena kelaparan dan tak terurus karena menikah dengan ku. " jelasnya, Oma menatap sorot mata Barra yang sungguh-sungguh.
"Tapi.. "
"Tapi, apa Oma? apa Oma tidak akan merestui kami? kenapa sulit sekali mengucapkan.. iya!? " Ucapan Oma di terpotong oleh sheena. Oma menatap tajam sheena yang tak sopan telah memotong pembicaraan nya.
"Aku belum mengizinkan kamu untuk bicara! kenapa kamu yang tak sabar untuk mendapatkan restuku? apa kamu yang sudah tak tahan untuk menikah?! " ucap Oma.
sheena mendadak diam dia merasa malu karena tak sabaran mendengar Jawaban Oma nya.
"A-aku.. aku. "
"Sudah! kamu diam saja dulu.! jika kau benar-benar mencintai sheena dan benar-benar ingin menikahinya. Aku merestui nya tapi.. kamu harus berjanji jika kau tidak akan pernah menyakiti cucuku sedikitpun!!!
jika aku sampai mendengar dan melihat kau menyakiti nya.. bersiaplah untuk mati. " ancamannya membuat bulu kuduk nya begitu merinding.
Barra sedikit takut dengan Oma sheena yang begitu tegas, terlihat seperti lemah lembut tapi dari sorot mata Oma tidak bisa di bohongin ada arti di baliknya.
"Aku berjanji tidak akan menyakiti sheena Oma. Oma jangan khawatir dengan nya aku akan memperlakukan nya dengan baik. "
__ADS_1
"Baiklah.. aku tidak perlu terlalu panjang. besok kau harus menikahi sheena di sini! tapi tidak ada acara mewah di pernikahan kalian. "
"Tapi.. Oma kenapa begitu? " tanya sheena.
"kamu jelas tau kan! Barra ada sedikit punya berita yang tidak mengenakan jika pernikahan kalian di adakan begitu mewah apa kata orang di seluruh kota.?! " tanya Oma.
sheena dan Barra menjadi mengerti sekarang, ternyata Oma nya sedang melindungi citra cucu nya.
"Baiklah.. terima kasih Oma. " ucap sheena, Oma mengangguk.
"Ya sudah Oma sudah mengantuk, Oma akan tidur duluan. ''
" Oma..! "
"Kenapa lagi? ''
" ini kan sudah tengah malam, boleh tidak kalau Barra menginap di sini malam ini. apa lagi kan besok kita akan menikah aku takut ada apa-apa di perjalanan?! "
"Terima kasih Oma.. "
Oma keluar dari ruang kerja dan di bantu oleh bibi nai yang mengantarkan nyonya nya ke kamar.
"Sayang? " panggil Barra.
"Why? "
"Aku menginap di sini terus aku tidur di mana? " tanya Barra.
"Di kamar aku juga boleh! di mana aja sesukamu saja!? " ucap sheena enteng.
sheena berjalan keluar dari ruangan kerja Oma nya dan di susul Barra yang mengekori di belakangnya.
__ADS_1
sheena berjalan menuju ke kamar pribadi lalu membuka pintu kamar dan masuk ke dalamnya. Tak menyadari Barra ada di belakangnya sheena langsung menutup pintu kamar tanpa melihat ke belakang alhasil muka Barra terbentur pintu dengan begitu kuat.
"Awh.. "teriak Barra kesakitan, sheena langsung bergegas balik badannya dan berjalan ke arah pintu dengan begitu panik.
" sayang! kau kenapa? "tanya sheena tanpa rasa bersalah.
" kenapa kamu bilang? kamu menutup pintu begitu kuat sampai tidak melihat ke belakang ada aku?! " seru Barra begitu kesal dengan kekasihnya.
sheena ternganga, detik kemudian dia tidak tahan untuk tertawakan Barra. "pffftt.. pffftt.. Ha Ha Ha.. " sheena tertawa lepas saat melihat hidung Barra begitu merah.
"Hei? kenapa kau terus tertawa? semua ini gara-gara kamu.. " sheena bersiap untuk kabur saat Barra ingin menangkap dirinya. sheena berjalan ke arah ranjang dengan sisa-sisa tertawa kerasnya.
Barra yang gemas dan kesal berusaha menangkap sheena dan terus mengejarnya kesana-kemari memutari ranjang tidur.
gelak tawa dan teriakan kesal Barra terdengar sampai keluar kamar. seseorang yang sedari tadi memperhatikan dan mendengar kan dari luar pintu tersenyum mendengar suara tawa lepas sheena.
"Nyonya.. Nona sheena begitu bahagia dan tertawa lepas tanpa ada sedikitpun beban yang di pikul nya saya senang mendengar nya terus seperti ini.!? " bisik bibi Nai di dekat telinga Oma.
"Kau benar! Apakah keputusan ku benar? menyatukan mereka dengan ikatan pernikahan Nai?! " tanya Oma, ada kebahagiaan dari dirinya saat mendengar sheena yang mulai tertawa lepas tanpa menutupi lukanya.
"Anda sudah benar nyonya! mungkin harapan satu-satunya berada di Aden Barra. Mungkin dengan kehadiran dia akan sedikit berkurangnya kesedihan Nona sheena. "
"semoga saja! jika suatu saat aku sudah di ****** oleh ajalku, harapanku cucu ku sheena bahagia dan melupakan masa lalunya. "
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..