Dear.

Dear.
49.Penolakan.


__ADS_3

Lama terdiam di pinggir jendela, akhirnya Sebuah ide terlintas di otak Rara, yaitu menghubungi Orang yang selama ini ia menghabiskan waktunya.


”Aku coba hubungi saja dia?!”Gumam Rara.


Rara mengambil Handphonenya yang berada di dalam tas, di luar kamar Papa nya masih berteriak memanggil dirinya bahkan sampai mengutuk sekeras-kerasnya untuk Anak perempuannya itu. Sedikit sedih mendengar kutukan dari papanya, Rara terus mencari kontak telepon seseorang.


”Ayo dong, kenapa lama sekali. ” Rara menatap layarnya menelpon seorang pria, tapi layarnya masih bertuliskan berdering.


”Padahal aktif, kenapa tak kunjung angkat. ?! ” Hati Rara sedikit khawatir.


Tak lama kemudian seorang yang ia tunggu akhirnya mengangkat telepon nya.


“ Hallo? ” Suara serak di seberang sana terdengar di telinga Rara. Dia berucap syukur akhirnya dia mengangkat juga.


“Hallo Mas, kamu di mana?! ’’ Tanya Rara dengan suara bergetar.


“Ada apa dengan suaramu? kau baik-baik saja? ” Tanyanya.


”Mas tolong Rara, Papa hari ini begitu menakutkan. sepertinya dia sedang ada masalah sehingga dia melampiaskan ke Mama dan Rara. ” Kata Rara.

__ADS_1


Pria di ujung sana belum juga mengerti apa yang di maksud dengan ucapan Rara tersebut. Dia yang baru bangun dari tidurnya masih mengumpulkan nyawanya.


”Maksdunya bagaimana? Mas tidak mengerti. ” Tanya si pria itu kembali, dan sembari duduk dari tidurnya. Lalu ia menajamkan pendengaran nya untuk lebih jelas apa yang di katakan Rara.


Rara menjambak rambutnya kesal, dia terdiam sejenak. Rara menyadari jika tidak terdengar lagi teriakan papa ny di luar kamar.


Rara berusaha menarik nafasnya lalu ia buang dari mulutnya. Menenangkan jantung nya yang masih ketakutan setelah menghadapi amukan papanya.


“Rara hari ini ke tempat Mas Tian yah, Rara mohon. Rara minta tolong ke Mas Tian untuk tidak menolak ku kali ini aja pleaseee... ” Kata Rara memohon.


Ya begitulah Rara, begitu lembut dengan pria yang di sebut Tian itu. Tian atau lebih jelasnya Adalah Bastian pratama pria dewasa yang seumuran papa Rara itu.


“Aku hari ini sedang sibuk, sayang. aku juga tidak bisa membawamu ke tempat ku, itu sangat sulit bagiku untuk menempatkannya. ”Ucap Bastian.


Rara begitu kecewa dengan penolakan Bastian yang tak bisa menolongnya. Tapi bagaimana pun dia adalah satu-satunya yang bisa menolongnya.


“Kamu tidak mau menolong ku? baiklah. ”Rara langsung mematikan telepon nya dengan sepihak. Tanpa mau mendengarkan alasan Bastian lagi Rara menutup nya dengan rasa kekecewaan. Pria yang ia harapkan itu tak berguna untuk saat ini.


Bastian begitu terkejut dengan tindakan Rara yang tak seperti biasanya. Ada rasa bersalah dan khawatir dengan keadaannya. Bastian mencoba menghubungi Rara tapi langsung di tolak olehnya.

__ADS_1


“Kenapa begitu marah?! ” Gumam Bastian.


Bastian turun dari ranjang tidurnya lalu pergi ke kamar mandi, Bastian langsung mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa gerah.


Rara yang masih dalam ketakutan nya, dia begitu sedih dan merasa stress. Hari-hari yang ia lewati begitu sulit, berfikir kedepannya akan seperti apa ia juga belum ketemu titik terangnya.


“Aku harus bagaimana? ” Rara membaringkan tubuhnya di ranjang dengan pelan-pelan merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


“Semuanya hancur, jika waktu itu tidak bertemu Tian. Mungkin aku akan menjadi seorang istri Barra satu-satunya. Sekarang, kecerobohan ku membuat ku kesulitan dan menyesal telah berbuat bodoh. ”


Rara merasakan nya sekarang, perbuatan bodohnya membuat kesulitan di masa depannya sendiri. semua orang melihatnya seperti parasit, tapi dia juga manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan dosa.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2