
Barra telah sampai di apartemen pribadinya meletakkan barang-barang di samping ranjang tidur. dia keluar kamar menuju ke arah dapur melihat bahan makanan yang sudah pada habis menyisakan soda dan air mineral saja di dalam lemari pendingin.
"Huh! semua sudah pada habis sepertinya aku harus belanja persediaan makanan. "
Barra memijit keningnya yang terasa pusing, lalu mencoba menghubungi seseorang.
"Halo?"
"Ya, tuan. Apakah ada yang saya bantu? " tanya seorang di seberang telepon.
"Bi, bisakah bibi ke apartemen, mulai sekarang aku akan tinggal di sini. dan temani aku belanja bulanan bi, persediaan di apartemen semua pada habis dan tidak layak untuk di konsumsi lagi. " jelas Barra.
"Oh, baiklah saya akan ke sana sekarang tuan. mungkin beberapa menit saya akan sampai di apartemen. "
"Oke, aku tunggu bi. "
"Iya, tuan. " Barra mematikan telepon nya lalu melangkah menuju ke arah balkon.
mengeluarkan satu batang rokok lalu membakar dengan pematik.
Hoffhh.. asap rokok berterbangan di udara.
Menghilangkan rasa sesak di hatinya, fikiran nya masih terbayang-bayang wajah sheena yang sendu. sekarang berfikir bagaimana membalikkan keadaan agar sheena kembali kepelukan nya.
Dia akui sangat sulit untuk menjalani hidup tanpanya. Entah kenapa dia sangat sayang dan mencintai gadis yang terbilang sangat muda dan terpaut jauh dari umurnya.
pintu apartemen terbuka bibi mutia masuk ke dalam, dia adalah yang Asisten rumah tangga apartemen Barra.
"Tuan? "
Barra menoleh, melihat bibi mutia yang sudah datang lebih cepat.
"Bi.. sudah datang yah? umm mau istirahat dulu atau mau langsung belanja? " tanya Barra sopan kepada bibi mutia.
"Sekarang saja, bibi tidak capek kok. kebetulan ke sini di antar sama anak saya. "
"Oh.. begitu yah!? baiklah kita jalan sekarang bi.? " bibi mutia mengangguk, lalu mempersiapkan apa yang akan di bawa untuk berbelanja kebutuhan pokok untuk Barra.
Barra mematikan putung rokoknya lalu berjalan ke ruang tv mengambil kunci mobilnya yang di taruh di atas meja.
Bos dan bawahan itu langsung pergi ke bawah apartemen menggunakan lift.
ššš
Di sebuah moll besar Barra berjalan berkeliling mencari barang yang di butuhkan untuk di apartemen nya. mengambil tanpa melihat, menaruhnya di keranjang belanjaannya tanpa Barra sadari dia berjalan ke bagian Rak khusus susu, lalu mencari bagian di susu ibu hamil melihat dan membaca kemasan.
Dia berfikir sejenak~
__ADS_1
" sheena minum susu hamil Apa tidak yah? bagaimana kalau dia tidak minum ini.. " Barra terdiam sesaat lalu membolak balikan kemasan itu dengan sedikit ragu.
"..Beli tidak yah!? " sambungnya lagi dengan perasaan bingung. dia juga tidak mau jika kandungan sheena kekurangan vitamin dan nutrisi lainnya.
setelah bergelut dengan fikirannya, akhirnya Barra memutuskan untuk membelinya. Bibi mutia sedikit heran dengan tuannya yang masuk ke rak bagian susu ibu hamil.
"Ngapain tuan Barra ke rak susu ibu hamil yah? Kira-kira untuk siapa susu ibu hamil itu? " bibi mutia bergumam, matanya masih menatap bos mudanya itu tanpa beralih.
setelah Barra selesai mengambil susu ibu hamil yang bagus dan terbaik. Barra berjalan berkeliling kembali melewati rak pakaian bayi dan yang lainnya. bibi mutia memgekori Barra dari belakang berjarak agak kejauhan membiarkan bos muda nya itu leluasa untuk belanja yang dia mau tanpa meng ngganggu nya.
"Aduh! anak mamah pengen mimi susu yah? anak manisnya mamah utututu.. " seorang ibu muda yang menghibur anak bayinya yang merengek kehausan.
mendengar hiburan ibu muda itu dan tangisan bayi tersebut, Membuat hati Barra terketuk. dia merasakan sakit melihat kasih sayang ibu muda itu terhadap bayinya. Barra berfikir jika pernikahannya terjadi dan dirinya menikah dengan orang lain dan sheena yang berjuang sendirian tanpa adanya dirinya lalu menderita karena mengandung dan melahirkan tanpa suami dan Bayi yang tak berdosa itu tidak memiliki seorang ayah!
Barra tidak bisa membayangkan semua yang akan Sheena lalui bagaimana sakitnya di posisi sheena sekarang! dia pasti sangat down.
"aku harus bertindak lebih cepat! " gumam Barra.
Barra memutuskan pandangannya lalu berjalan pergi dan menuju ke kasir di susul dengan bibi mutia di belakang nya.
Barra membayar semua belanjaannya, lalu mereka pergi menuju ke parkiran mobil. memasukkan semua barang belanjaannya di belakang bagasi.
bibi Mutia tak berani berbicara duluan, dia lebih memilih diam. membiarkan Bos mudanya sibuk dengan fikiran nya.
Dalam perjalanan jauh dari moll ke apartemen Akhirnya, Barra dan bibi mutia sampai di apartemen nya. Bibi langsung menata dan membereskan semua barang belanjaan tapi tidak dengan barang pribadi bosnya seperti susu ibu hamil yang di belinya.
ššš
Barra duduk di ranjang, melihat handphone nya dengan ragu-ragu untuk menelpon sheena. Hari ini dia sangat gelisah entah kenapa dia bermimpi buruk dan yang pertama di ingatnya saat bangun tidur adalah sheena.
mencoba menelpon sheena..
"Halo, sayang? " ucap Barra.
"Apa? "
"Umm.. kamu ada di mana? "
"Aku ada di.. " sheena menjeda bicaranya. "... A-aku.. ada di Umm.. sebuah caffe!. "
"sama siapa? " tanyanya lagi.
"Kenapa memangnya? Aku sama siapa bukan urusan mu kan!? "
"Caffe mana? "
"Caffe tempat biasa aku nongkrong! kenapa emangnya!? " tanya sheena dengan heran.
__ADS_1
Barra mematikan teleponnya dengan sepihak, sheena menatap telepon nya dengan bingung tiba-tiba menelpon dan bertanya ada di mana? sekarang mematikan telepon nya dengan sepihak! Aneh sekali.
"Siapa? " tanya Rama.
"Umm.. Huh! bukan siapa-siapa kok? "
"Oh.. " Rama menyeruput kopinya, menyenderkan tubuhnya di kursi menatap wajah cantik sheena yang tak bosan-bosan.
sheena menyadari Rama menatapnya berusaha untuk menetralisir kan perasaannya lalu melanjutkan makan yang di pesannya.
Barra melajukan mobilnya dengan kecepatan Tinggi, penampilannya sangat acak-acakan sengaja membiarkan penampilan nya yang tak rapi itu agak di perhatikan sheena nantinya.
Mobil Barra sampai di parkiran Caffe, mematikan mesin mobilnya lalu mengecek bajunya yang sudah rapi dan Fasioneble.
Barra turun dari mobilnya, membuka kaca mata yang bertengger di hidungnya. berjalan besar agar cepat sampai dan bertemu pujaan hatinya yang ada di dalam caffe.
Barra masuk ke dalam caffe, mata nya melihat sekeliling di dalamnya. hingga matanya menatap sheena yang duduk berseberangan dengan pria yang kemarin dia hajar.
Sorot mata tajamnya tak beralih menatap kedua orang yang asik mengobrol, tangannya mengepal dengan kuat rahang mengetat sampai gigi mengeluarkan bunyi yang bergemelatukan.
Langkah besarnya menuju ke arah sheena dan Rama. Hatinya sangat panas dan perasaannya terbakar api cemburu saat Rama memegangi tangan sheena dan mengelap tangannya pakai tisu.
Tanpa sheena sadari, Barra melangkah dengan cepat menuju ke meja nya.. lalu detik kemudian tangan Barra melepaskan tangan Rama yang memegangi sheena dengan kasar.
Sheena mendongak siapa orang yang tiba-tiba menepiskan tangan Rama begitu kasar.
"Barra? kenapa kamu sampai ke sini!? "tanya sheena.
" Kamu..!! heh jangan kasar-kasar dengan wanita yah!!! " ucap Rama memperingati Barra.
"memangnya siapa kamu melarang ku hah!!! Hei kau sudah aku peringati jangan bertemu dan mengajak jalan wanita ku!? " ucap Barra dengan menunjuk wajah Rama.
Rama menepis tangannya dengan kuat ..
"Barra.. ngapain sih kamu ke sini!? jangan membuat onar di dalam caffe! malu di liatin banyak orang!!! "
"Kau .. " Barra tercekat dengan bicaranya, lalu ingin menyeret sheena keluar caffe.
Saat ingin berjalan tubuhnya di cekal oleh Rama, lalu mendorongnya ke sisi meja samping. "Hei.. mau kau bawa kemana Sheena? "
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....