
Bastian bersiap untuk pergi menemui Rara, dia begitu khawatir dan merasa bersalah. Hatinya begitu tidak tenang sebelum melihat keadaan Rara sekarang.
Bastian melihat jam yang melingkar di tangannya, jam menunjukan pukul 23:00. Dia menambahkan kecepatan laju mobilnya menuju rumah Rara, dia berharap Rara akan memaafkan dirinya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Bastian sampai di perumahan dekat rumah Rara. Dia tidak berani untuk menampakkan dirinya ke keluarga Rara. mengingat dia juga sudah mempunyai istri dia tidak mau hal yang tak diinginkan nya terjadi.
Bastian terus menghubungi Rara, tapi belum juga di angkat. Rasanya sangat sesak dan jantung pun berdetak begitu kencang.
“Untuk apa dia menelpon? ” Gumam Rara, mendengar handphone yang terus berdering yang membuat nya sangat terganggu.
Melihat Nomor Bastian yang terus menelponnya, Akhirnya dia mengangkat juga. “ Ada apa? ” Tanya Rara.
“Kamu baik-baik saja? ”Tanya Tian.
“Aku baik-baik saja, tapi tidak tahu besok.! ” Ucap Rara dengan ketus.
“Ada dengan besok?! ”
“Mungkin saat ini aku terlepas dari amukan papa. Tapi besok? aku tak tahu. ”
“Aku ada di dekat rumah mu, bagaimana kalau kamu sementara bersamaku. sekarang kamu bersiap dan kita pergi ke suatu tempat. ”
“Bukannya kau sibuk? kenapa berubah pikiran? ” Tanya Rara bingung.
“Aku takut kamu kenapa-napa, jadi aku datang menjemput mu. jika keadaan sudah membaik kamu bisa pulang kerumah.” Jelas Tian.
Rara berfikir sejenak, ada benarnya juga dia pergi dari rumahnya. Tapi, ada rasa takut untuk meninggalkan mamanya sendirian di rumah. Mengenai papa nya yang menjadi kasar, dia tak tega melihat mamanya terluka.
“Tapi, bagaimana dengan mamaku? pasti dia juga butuh pertolongan. ”
__ADS_1
“Mama mu tidak akan terluka, dia akan baik-baik saja. tidak mungkin papa mu akan membunuhnya, sekarang masalahnya ada di kamu. jadi, sementara waktu kamu menjauh dulu dari papa mu itu. ” Ucap Bastian.
“Baiklah, aku akan bereskan barangnya dulu. kamu tunggu aku, kalau semuanya aman aku akan turun. ”
“Oke.”
Rara mematikan telepon nya, lalu ia mencari koper untuk membawa baju dan barang berharga lainnya. Rara yang teramat lemas hampir terjatuh ke lantai, setelah kepulangan nya dari kampus ia belum juga makan sebutir nasi pun.
Kini hampir tengah malam, perut terus berbunyi dan dia merasakan kelaparan. setelah masuk dari kamar dia tidak berani untuk keluar kamarnya.
Setelah semuanya beres, Rara berdiri di balik pintu kamarnya dan jantung pun merasa deg-degan. Takut akan ketahuan oleh papa nya, dia dengan pelan membuka kunci pintunya. Membuka pintu dengan hati- hati melihat ke sela-sela pintu dan tidak mendapati seseorang pun di luar.
Setelah aman, dia membuka lebar pintunya dan berjalan dengan mengendap-endap. Melihat keadaan di bawah, tidak ada orang dia melanjutkan langkah kakinya sepelan mungkin.
Menarik koper yang tak terlalu besar dan berat membuatnya mudah untuk berjalan. Rara melihat kembali ke arah pintu kamar papa dan mamanya tidak ada suara dan keadaan pun begitu sepi.
“Non Rara? ”
Rara membalikan tubuhnya, melihat asisten rumah tangga nya yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
“Ssssttt.. jangan kenceng-kenceng ” Rara begitu kesal dia begitu kaget.
“Non Rara mau kemana? ”
“Bi, jangan bilang-bilang papa kalau aku pergi. ”
“ Tapi, Non?”
”Jangan membantah! kunci pintunya kembali, ingat jangan bilang papa. ” Setelah mengatakannya, Rara bergegas pergi meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
Dia melihat di sekitarnya, mobil yang terparkir di perumahan begitu banyak membuat dia sedikit kesulitan mencari. dengan pandangan tajam nya akhirnya dia melihat mobil berwarna hitam yang terparkir agak jauh dari rumahnya. Dia berjalan dengan tangannya yang menarik koper menuju ke arah mobil yang terparkir di jarak beberapa meter.
Ada rasa sedikit kesal dengan Bastian yang memikirkan mobilnya yang terlalu jauh Rara pun langsung masuk ke dalam mobil tanpa memasukkan kopernya di bagasi.
Brakkk!!!
Pintu mobil di banting dengan begitu keras, Bastian terkejut dengan dentuman pintu nya. Melihat raut wajahnya begitu kesal, Bastian berusaha sabar menghadapi Rara yang masih labil.
“Kamu kenapa, Hmh?! ” Tanya Bastian.
“Kamu gila ya? kenapa begitu jauh parkir nya! aku jadi capek dan lemas apa lagi aku belum makan dari siang. ”Ucap Rara, dia meluapkan emosinya ke Bastian.
Bastian Hanya menghela nafasnya, lalu ia turun dari mobil lalu memasukkan koper Rara ke bagasi mobil nya. Menyiapkan Kesabaran untuk yang ia sayangi Bastian berusaha menahan diri untuk tidak terpancing emosinya.
“Aku minta maaf, sayang. jika aku parkir di dekat rumah mu kemungkinan papa mu akan tahu jika kamu pergi. dan aku akan menjadi buronan telah membawa mu pergi dari rumah. Sudah yah, kita pergi ke suatu tempat dan sebelum ke sana kita makan dulu oke?. ” Bastian mencoba merayu Rara agar tidak merajuk lagi.
“Baiklah, aku maafkan. ” Ucap Rara dengan senyuman kecilnya.
Benar saja rayuannya berhasil, melihat Rara sudah tak lagi marah Bastian menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan perumahan elit itu.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1