Dear.

Dear.
51. Perhatian Bastian.


__ADS_3

Dalam perjalanannya, Rara hanya bisa terdiam dan menahan lapar yang terasa melilit di perutnya. Beberapa kalinya perut terus berbunyi, cacing-cacing di dalam perut nya seolah berdemo meminta makan.


Bastian memberikan air minum untuk menahan rasa laparnya, Rara menatap minumannya lalu ia menerima minuman itu di tangan Bastian.


“Sabar yah, sebentar lagi sampai ke tempatnya. di sana ada banyak makanan untuk kamu. ” Ucap Bastian.


Rara menoleh ke samping, Bastian begitu perhatian dan sangat lembut. walaupun usianya tak lagi muda Tapi Bastian adalah pria yang sangat baik baginya.


“Makasih ya, kamu begitu baik sama aku. ” Kata Rara, lalu ia menyenderkan kepalanya di kursi setelah meminum.


Dia menoleh kembali ke arah Bastian, menatapnya dengan penuh sayang. Rara bersyukur ada Bastian di sisiNya.


“Kamu tidak perlu berterima kasih, cukup patuhi dan setia padaku. ”


Rara tersenyum, pria di samping nya selalu membuat nya tersenyum senang dan membuat hari-harinya begitu berwarna.


Rara menatap ke depan kembali, beberapa detik dia menyadari jika jalanan nya begitu familiar.


“Kita ke tempat apa, sayang? "


“perumahan kecil, tapi di sana sangat nyaman untuk kita. kamu tidak perlu khawatir di sana tidak akan ada yang mengenal mu. ”


“Iya, tapi jalan ini menuju ke kampus aku?! ”


“Benar, aku memikirkan kamu sedetail mungkin. Jadi kamu tidak perlu jauh-jauh untuk pergi ke kampus kamu tinggal berjalan kaki untuk ke sananya karena dekat. . . ”

__ADS_1


“Rara, bersabarlah untuk saat ini. mungkin esok hari akan datang, hari di mana begitu berat untuk kamu menjalaninya.” Rara mengangguk paham.


☘︎☘︎☘︎☘︎☘︎☘︎


“Bagaimana, enak? ” Tanya Bastian.


“Enak, makasih ya. ”


“Sudah aku bilang, jangan berterima kasih. ”


“Tapi, aku tidak tahu harus mengatakan apa untuk membalaskan kebaikan mu, sayang. ” Ucap Rara, lalu ia menyendokan makanan nya ke dalam mulut.


“Kamu cukup memberiku hadiah seperti biasanya. ” Kata Bastian dengan mengedipkan sebelah matanya.


Saat mereka dalam berbincang-bincang sebuah telepon berdering di handphone Bastian. Dia cukup terkejut saat tau siapa penelepon nya.


“Kamu makan dulu, aku akan mengangkat telepon dulu di luar. ”


“Baiklah, ” Bastian mengecup kening Rara sebelum ia akhirnya keluar.


Bastian menatap ke arah Rara dan memastikan bahwa Rara akan tetap di sana. Setelah merasa aman Bastian mengangkat telepon nya yang terus berdering sejak tadi.


“Ya? ”


“Kamu di mana pah? ” Suara lembut itu terdengar di telinga Bastian.

__ADS_1


“Aku di luar, ada apa?! ”Tanya Bastian.


“Kok nggak bilang mamah mau keluar? sekarang kamu lagi ngapain di sana?! ” Tanyanya.


“Aku nggak sempet! lagian aku ada urusan mendadak di luar. Oh ya, malam ini aku tidak pulang jangan menunggu aku dan kunci pintu rumah dan jendela-jendela nya. Sudah, aku lagi sibuk. ” Bastian langsung mematikan telepon nya tanpa Sania mengucapkan nya kembali. dia merasa terganggu dengan telepon istrinya itu.


Tidak ada rasa bersalah setelah dia mencampakkan istri nya demi seorang Rara. Bastian begitu sangat perhatian dengan Wanita selingkuhan nya ketimbang istri sah nya sendiri.


𝐋𝐚𝐢𝐧 𝐭𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭...


Sania begitu cemas dengan suaminya yang lagi-lagi tak pulang ke rumah. Ada rasa cemburu, dan ia juga merasa curiga dengan suaminya yang ada di sana.


“Mau sampai kapan kamu akan seperti ini, mas?! ” Ucap Sania. Dia hanya bisa menatap ke luar jendela yang menghadap ke pintu gerbang berharap Bastian akan pulang ke rumah dan memeluknya saat tidur.


Tapi,semua khayalan tak bisa terwujud karena yang ia harapkan ada di pelukan seorang wanita muda. Dia begitu sangat khawatir dengan Bastian di luaran sana. Dia begitu kesepian saat belahan jiwanya pergi tanpa ia di sisinya.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2