Dear.

Dear.
54. Periksa kehamilan Sheena.


__ADS_3

Beberapa kali Bastian menghela nafas, dia menoleh ke samping menatap pintu di sebelahnya. Hatinya sangat sakit melihat Rara begitu murah Bastian merutuki diri sendiri karena terlanjur sayang. Kali ini, Bastian tidak lagi untuk perduli dengannya lagi.


Bastian segera masuk ke dalam kamar yang di pesan tak lupa dia membawa bingkisan dan makanan untuk makan malam bersama Sania. Bastian menjadi pendiam wajahnya yang masam membuat Sania menjadi penasaran.


“Kamu kenapa, Mas?! ”


Bastian menatap Sania dengan wajah yang sulit diartikan. pikirannya menerawang kembali di mana awal pertemuan dengan Rara begitu manis sehingga ia menjadi goyah. Rumah tangganya telah ternodai Karena dirinya. Tapi, bagaimana pun Bastian akan mempertahankan rumah tangganya bersama Sania.


“Mas? ”


“Iya, Sania. ”


“Kamu kenapa? kenapa mukamu di tekuk seperti itu? ”


“Aku tidak apa-apa, hanya kelelahan saja. ” kata Bastian, lalu dia meletakan barang bawaannya ke atas meja.


Setelah itu, Bastian pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa gerah dan lengket. Sania yang melihat gelagat aneh pada Suaminya menjadi penasaran apa yang terjadi saat dia pergi tadi.


🍁🍁🍁


Sheena melihat sebuah video yang di kirim oleh bawahannya merasa puas. apa yang telah mereka kerjakan hari ini membuat Sheena tersenyum manis.


“Benar-benar seperti ibunya!? Huh? ”


“Sedikit lagi, Sheena! ...Mereka akan hancur dengan sendirinya tanpa mengotori tanganmu sendiri! ” Ucap Sheena pada diri sendiri.


“Sayang? ”


Sheena tersentak kaget dengan panggilan Barra yang begitu tiba-tiba.


“Kau sudah pulang? ” Tanya Sheena, lalu dia buru-buru menyembunyikan handphone nya ke belakang tubuh.


“Kamu ngapain di sini? Ayo masuk nanti kamu masuk angin. ”


Barra langsung membuka jasnya lalu menutupi bahu Sheena yang sedikit terbuka.


“Aku bosan saja di dalam, jadi aku duduk di sini nyari udara segar. Hehe ” Ucap Sheena..


“Ayo masuk! tidak baik kau duduk di balkon malam-malam ” Barra menarik Sheena untuk masuk ke dalam rumah. Sheena hanya patuh tanpa banyak berbicara lagi.


“Kita belum cek kandungan dan usg. kira-kira kapan kamu ada waktu untuk menemaniku ke dokter?! ” Tanya Sheena, setelah meraka masuk ke dalam kamar.


“Besok! aku akan libur satu hari untuk menemanimu ke dokter. Aku juga penasaran jenis kelamin anak kita. ” Barra mengelus perut Sheena yang semakin membesar.


“Lebih baik kamu cuti kuliah saja! aku khawatir jika kamu Kecapean. ”


“Tidak bisa! beberapa bulan lagi akan selesai aku tidak mau mengulanginya hanya karena aku sedang hamil. ” Bantah Sheena.


Sheena merasa kalau moment kuliah sangat penting untuk sekali seumur hidup. apa lagi dia tidak mau mengulanginya lagi dari awal.


Barra hanya menatap wajahnya tanpa banyak berdebat lagi. ada benarnya juga jika istrinya cuti akan menguras waktu kembali nanti nya.


“Baiklah terserah kau saja! tapi ingat!? jaga dirimu baik-baik. ” Sheena mengangguk.


“Aku mau mandi dulu, kamu siapkan makanan yang ada di meja. ”

__ADS_1


“Kamu beli makanan cepat saji? ”Tanya Sheena.


“Aku hanya ingin simple saja. ”Ucap Barra, lalu ia mencium kening Sheena sebelum masuk ke kamar mandi.


“Baiklah.. ” Sheena segera pergi ke ruang makan. melihat makanan yang di bawa Barra begitu banyak membuat Sheena menelan saliva nya.


Dia juga belum makan dari siang, melihat makanan di atas meja ia segera membukanya.


“Woah.. banyak banget dia bawa makanan?! ” gumam Sheena, lalu ia menata semuanya di atas piring tak lupa ia juga mencicipi semuanya.


“Enak! bakal makan banyak kalau gini terus. ” mata Sheena berbinar saat melihat makanan yang sangat menggoda.


“Sudah siap? ”Tanya Barra.


“Sudah, mau makan sekarang? ”


“Iya, aku sudah sangat lapar. ” Ucap Barra, lalu ia duduk di meja makan dalam keadaan masih menggunakan celana pendek saja.


Sheena yang melihat dada suaminya yang begitu menggoda hanya memonyongkan bibirnya.


”Kau kenapa? ”Tanya Barra.


“Apakah selapar itu? sehinggga kau tak sempat menggunakan pakaian?! ”


“Aku tidak sempat makan di kantor, sayang. aku ingin makan bersamamu makannya aku bawa pulang kita makan bersama. ”


“Really? ”


“Yes, Sayang”


Barra hanya menggeleng-geleng kepala dengan kelakuan istrinya yang sangat teliti sekali.


“Hari ini kamu kemana saja, sayang? ” Tanya Barra di sela-sela makannya.


“Hanya keluar sebentar lalu pulang lagi. ” Ucap Sheena tanpa melihat ke arah suaminya itu.


“Baiklah.. ”


***


Pagi Hari...


Barra dan Sheena sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, dalam perjalanan menuju ke rumah sakit Barra terus menggenggam tangan Sheena sesekali dia menciumi tangannya.


Sheena yang di perlakukan manis oleh Barra sangat bahagia. Dia merasa sangat di cintai dan dihargai sebagai wanita berharga di kehidupnya.


“Apa kau tak pernah mencari tahu siapa aku?” Tanya Sheena tiba-tiba.


Barra hanya menatap sekilas istrinya lalu menatap kembali ke depan. “ Pernah! tapi tidak menemukan apa pun tentang kehidupanmu. ”


“Begitu? ”


“Emh.. kau saja belum bisa menceritakannya. jadi aku menunggumu saja agar tidak repot. ” Ucap Barra, Sheena yang mendengar hanya tertawa kecil.


“Sejujurnya, aku ingin menceritakannya! tapi ternyata waktu belum mengizinkan. Kau sabar-sabar saja sayang. Hi hi”

__ADS_1


“Pasti!? ”


Akhirnya mereka telah sampai di depan rumah sakit. Sheena dan Barra turun dari mobil dan mereka berjalan beriringan menuju ruang usg yang sudah mereka boking terlebih dahulu tanpa mengantri.


“Siang tuan dan Nyonya. ”Sapa dokter kandungan.


“Siang Dok! ”Ucap Sheena dan Barra.


“Silahkan duduk dulu. ”Dokter mempersilahkan mereka untuk duduk dan mereka menurutinya. Dokter langsung menyiapkan alat-alat usg 4D seperti yang mereka minta.


“Oke, mari berbaring di sini. ” Kata dokter, Sheena segera berdiri dan berbaring di samping dokter.


“Maaf, Angkat bajunya dulu sedikit” Sheena membuka bajunya hanya sampai batas di bawah dada.


Dokter langsung mengoleskan jel di atas perutnya. “Apakah ini yang pertama nyonya usg? ” Tanya Dokter.


“Emh.. sebelumnya hanya periksa biasa saja. itu pun sendirian tanpa suami. ”Ucap Sheena menyindir Barra.


Barra yang mendengar merasa bersalah, kenapa waktunya tidak tepat pada waktu itu.


Dokter pun melihat keadaan si jabang bayi di dalam perut. “Kehamilanya memasuki 17-18 minggu tinggi fundus rahim juga sudah mendekati pusar, sehingga kehamilan sudah bisa diamati dengan jelas dari luar.


Pada usia kandungan ini, berat janin Anda normalnya berkisar antara 181 hingga 223 gram, sedangkan panjangnya berkisar antara 20,4 hingga 22,2 cm. ” Kata dokter menjelaskan keadaan janin dengan panjang kali lebar.


“Bagaimana dengan jenis kelaminnya? ” Tanya Barra penasaran, Sheena pun menganggguk.


“Sementara jenis kelaminnya masih belum terlihat. Umumnya pada usia kehamilan 18 – 20 minggu, jenis kelamin janin sudah bisa ditentukan dengan tingkatan akurasi mencapai 80 – 90 persen.


Hal ini belum pasti benar 100 persen karena pada awal kehamilan jenis kelamin pria dan wanita masih terlihat serupa sehingga memerlukan beberapa waktu lagi untuk memastikan jenis kelamin janin.


Hal lain yang menyebabkan dokter kesulitan menentukan jenis kelamin janin adalah posisi janin atau letak plasenta (ari-ari) yang membuat jenis kelamin sulit terlihat. Metode lain yang lebih akurat menilai jenis kelamin janin adalah amniocentesis, namun tentu biaya nya pun amat mahal. ” Jelas sang dokter.


“Jadi belum di pastikan jenisnya” Tanya Barra.


“Benar! istri anda baru memasuki bulan ke 4 mungkin 3/4 mingguan lagi bisa terlihat dengan jelas” Jelas nya.


“Baiklah, apakah semuanya baik-baik saja?! ”


Tanya Barra kembali.


“Janin berkembang dengan sangat baik, seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Jaga pola makannya dengan makanan sehat agar si janin mendapatkan nutrisi yang baik dan sehat sampai melahirkan. ”


“Baik, terima kasih. ”


“Sama-sama. ”


Sheena dan Barra pun duduk sembari menunggu Dokter mencetak foto usg dan mencatatnya dalam buku kehamilan.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2