Dear.

Dear.
40. Di pranks?


__ADS_3

Di lain sisi, Clara yang tengah berbunga-bunga telah mendapatkan nomor telepon dari Barra menatap dirinya sendiri di dalam cermin.


“Gue cantik, mulus dan tentunya sangat seksi. pantes saja Barra langsung memberikan nomor telepon nya dengan cuma-cuma tanpa bertanya buat apa? itu kan pertanyaan kuno?. “Kata Clara, dia terus menerus tersenyum mengembangkan sampai terlihat gigi putihnya.


Clara menatap layar ponsel nya dan mencari nomor Barra.


“ini dia, Kalau aku telepon dia di pagi hari ganggu nggak yah? Coba ajalah.. “gumam Clara, lalu ia menekankan tombol Video call.


Clara merapikan rambutnya dan menonjolkan belahan dada agar Barra tergoda saat melihat lekuk tubuhnya yang seksi.


Calling..


“Hi.. “Sapa Clara, Clara mencoba yang terbaik agar dia terpikat.


Detik telepon terus berjalan, tapi Barra tidak menjawab sapaan Clara. Clara mendadak bingung kenapa kameranya sangat gelap? Clara berfikir jika Barra masih tertidur di dalam kamarnya.


“Halo? kamu bisa denger suaraku ? “Tanya Clara.


Lagi, tidak ada jawaban dari Barra. Clara yang tidak menyerah mencoba lagi menyapa dia.


“Barra, apa kamu dengar suaraku? kenapa kameranya sangat gelap? kamu masih tidur? “Cecar Clara tanpa ada jeda.


“Kamu siapa? kenapa kau memakai pakaian kurang bahan? “


“Ahm.. aku habis mandi. So, aku ingin bicara sesuatu denganmu. “Kata Clara.


“Bicara saja, cantik. “ Clara yang telah di puji menjadi salting.


Clara menutupi kegugupan nya dengan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


“Terima kasih. Ohyaa, boleh nggak kameranya jangan di tutupin. “Ucap Clara dengan nada dibuat seksi.


Kameranya memperlihatkan pria tampan yang sedang tidur di dalam kamarnya. Dan dia tidak memakai pakaian hingga menampakkan tubuh yang sangat kekar.


“Loh? siapa kamu? “Tanya Clara.


“lebih tepatnya yang bicara seperti itu adalah aku! Kamu ini siapa? Kenapa pagi-pagi menelpon video call dengan memakai pakaian kurang bahan! Apa kau sedang ingin menggoda seseorang pria? “.


Clara tersadar jika dia salah orang, lalu dia melihat lagi nama kontak yang tertera. “Namanya memang Barra, kok. Masa iya Barra mempermainkan aku dengan memberikan nomor telepon orang lain? “gumam Clara dalam hati.


“Helo? kenapa diam! “Tanya Revan.


“Ahm! Aku Clara dan aku kemarin malam bertemu dengan seorang pria yang bernama Barra. Aku meminta nomor telepon nya dan dia memberikannya. aku mencoba menelpon nya hari ini tak menyangka bukan dia?tapi kamu. “Kata Clara panjang lebar.


Revan tentunya paham dengan sahabatnya itu. Tak ingin menyia-nyiakan moment ini dengan otak liciknya Revan ingin membuat Clara menurutinya.


“Ya, Dia adalah sahabat ku mungkin dia lupa dengan nomor telepon nya sendiri. beruntung dia memberikan nomor teleponku kepada mu? “


“Boleh aku minta nomor dia? “pinta Clara, Revan Mengangguk. Clara kegirangan hingga buah dadanya naik turun.


Ya dia adalah Revan sahabat Barra. Ternyata Barra tidak sembarangan memberikan nomornya ke orang lain apa lagi ke perempuan.

__ADS_1


Revan yang sangat bingung dengan perempuan ini menjadi tegang. Dia pria yang sudah dewasa apa lagi dia sangat normal saat melihat tubuh yang setengah telanjang.


“Oh, ****! “Ucap Revan, Dia menarik phytonnya dan dia memainkan punyanya dengan bermain solo.


“Kamu kenapa? “pertanyaan bodoh Clara seolah-olah tidak mengerti apa yang di rasakan Revan.


“Ahmmm... turunkan lagi kameranya. “perintah Revan .


“Untuk apa? “Tanya Clara.


“Lakukan saja apa yang aku katakan! kamu ingin mendapatkan nomor Barra bukan? “Tanya Revan, Clara mengangguk.


“Jadi, lakukan saja apa yang aku pinta.Kau tidak usah khawatir aku sangat privasi orangnya. Aku tidak akan menyebarkan video ataupun fotomu. Anggap saja ini bayaran untuk ku. “Kata Revan.


Clara yang buta, menuruti perkataan Revan yang mesum itu.


“Buka saja semuanya! ini salahmu karena telah memakai pakaian seperti itu. ’'


Lagi-lagi Clara tak membantah, dia membuka semua pakaiannya yang melekat ditubuhnya. Handphone nya di letakan di meja rias. Lalu dia dengan bebas bergerak tanpa memegangi handphone.


“Coba kau duduk lalu buka lebar-lebar kakinya. “


Clara tak banyak bicara, dia melakukannya tanpa sadar. Revan tak tahan dengan di depannya terus mempercepat gerakannya.


“Lebih enaknya lagi, kau mainkan biji kacang mu itu akan sangat enak. “Kata Revan.


Clara pun mencobanya dengan perlahan, hingga mulai terangsang dia mempercepat gerakannya hingga mengeluarkan suara *******.


Revan tersenyum puas, dia akan berterima kasih kali ini kepada Barra. Biasanya di pagi hari akan bermain sendiri di dalam kamar mandi. Kali ini, di temani wanita asing dan langsung menuruti perkataannya.


“gerakannya dipercepat lagi!“


“Ah.. kenapa rasanya enak sekali. “Clara meracau dengan tak jelas karena gerakannya yang terlalu mengguncang tubuhnya.


“Itu bukan seberapa! lebih enaknya lagi lubang mu di masukan ini“Kata Revan, memperlihatkan miliknya ke Clara.


“Woah.. bagaimana bisa punya mu sebesar itu? “


“Apa kamu ingin mencobanya? “Tanya Revan, Clara mengangguk.


“Nanti jika kau bertemu dengan ku. “


Beberapa menit bermain dan di bantu oleh Clara, Revan mendapatkan kepuasaan berkali-kali lipat.


Setelah mengeluarkan semburan lava panasnya, Dia mematikan Video call dengan Clara secara sepihak..


.


.


𝐒𝐢𝐚𝐧𝐠 𝐇𝐚𝐫𝐢...

__ADS_1


Revan mencoba menghubungi Barra, tak lama kemudian Barra mengangkat telepon nya.


“Ada apa?“


“Kau bertemu dengan perempuan lintah? “Tanya Revan.


“Lintah? siapa yang kau maksud perempuan lintah itu? .“ Tanya Barra.


“Hei, kau memberikan nomor ku ke orang lain dan dia bernama Clara! “


“Apa dia menghubungi mu? “


“Tentu saja! kau tau? dia memakai pakaian kurang bahan saat menelpon video call dan saat itu aku masih tertidur! membuat burungku ingin dimasukkan ke dalam sangkarnya. Sialan! dia membuatku tak tahan. “


Barra terkekeh dengan cerita Revan, dia memang sengaja memberikan nomor telepon Revan karena wanita seperti Clara lebih baik dihindari.


“Tapi kau suka kan? "Tebak Barra.


“Pria mana yang tak suka jika di suguhkan dengan lubang hitam“Kata Revan dengan tertawa keras.


“Apa itu lubang hitam? “


“Jangan pura-pura tidak tau! “


“Hahaa.. apa milik dia hitam? “Tanya Barra .


“Hitam, tapi sepertinya dia masih gadis. “Kata Revan.


’'Jika kau suka, buatmu saja. “


“Aku tak suka dengan karakter dia. Dia lebih pantas untuk di mainkan saja. Aku sudah memiliki incaran ku. “Kata Revan.


“Incaran? Aku yakin dia akan bermimpi buruk jika mau dengan mu. “


“Sialan! tentunya dia wanita yang sempurna dan juga merupakan wanita yang cantik dan tidak mudah untuk di rayu. “Ucap Revan panjang lebar.


“Siapa yang kau maksud? “Tanya Barra dengan penasaran.


“Ada! tentunya kamu kenal dengan dia. “


“Siapa? Apa dia bekerja di kantor mu? “Tebak Barra.


“Bukan! dia masih kuliah. “


“Kuliah? apakah itu sahabat istriku? “Revan mengangguk kepala. Tebakan Barra benar! Barra memiringkan kepalanya tak menyangka jika sahabatnya ini juga suka daun muda.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2