Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Positif Hamil


__ADS_3

Reza mengunci kedua tangan Zahra yang terus memberontak. Dia juga sedang berusaha menciumi wajah dan juga tengkuk leher adik iparnya itu. Zahra terus menggeliat untuk menghindari sentuhan Reza. Dia menangis menyebut nama suaminya dalam hati.


"Mas Reza, sadarlah! Mas, aku Zahra istri adikmu!"


Reza tidak mendengar teriakan Zahra. Dia terus memaksa adik iparnya itu.


"Mas Rizal tolong. Mas Rizal tolong aku!" teriak Zahra sekuat tenaga.


Teriakan Zahra membuat Reza tersadar. Dia langsung bangun dan melepaskan tangan Zahra. "Zahra maafkan aku! Aku tidak bermaksud ... Akkhh!"


Reza langsung berdiri dan pergi dari kamar Zahra. Dia berlari masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk menjaga kesadarannya. Zahra langsung bangkit dan segera mengunci pintunya. Setelah terkunci, Zahra menangis sejadi-jadinya. Hampir saja dia kehilangan mahkota dalam rumah tangganya bersama Rizal.


"Mas, aku takut. Mas pulanglah, aku takut sekali." Zahra mencoba menghubungi suaminya. Namun, nomor teleponnya sedang dalam panggilan lain.


"Mas, kenapa kamu sulit sekali dihubungi. Apakah kamu sudah tidak mempedulikan aku," ucap Zahra. Dia terisak dengan memeluk kedua kakinya.


Di Tempat Lain.


Viona sedang tertawa senang dengan ibu mertuanya. "Ma, lihatlah kita berhasil. Video ini bisa mendepak Zahra dari kehidupan Rizal. Aku akan tunjukkan video ini ketika Rizal kembali dan aku sangat yakin dia pasti akan marah jika melihat kelakuan istrinya," ucap Viona dengan tersenyum licik.


"Kamu benar, Sayang. Idemu kali ini sangat cemerlang. Mama sudah tidak sabar ingin melihat wajah Zahra yang sok suci itu," sahut Bu Silvi.


"Ayo kita segera pulang, Ma. Pertunjukan yang sangat menyenangkan akan terjadi," ucap Viona keluar dari rumahnya.


Bu Silvi dan menantunya keluar menuju ke mobil. Mereka sengaja merencanakan semuanya dan menghindari kejadian itu. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di rumah. Viona dan mertuanya masuk dengan percaya diri.


Sesampainya di dalam, rumah tampak sepi karena kebetulan juga Pak Roni sedang tidak ada di tempat. Dia mendampingi Rizal dalam bisnis di luar negeri. Viona mencari keberadaan Bi Surti yang menjadi kaki tangannya untuk mencelakai Zahra.


"Bi, kerja bagus. Bulan ini gajimu akan bertambah. Ingat jangan sampai kamu membocorkan kejadian ini pada Rizal. Kalau sampai itu terjadi, maka aku tidak akan segan untuk memecatmu. Mengerti!" ucap Viona mengancam pembantunya.


Bi Surti mengangguk pelan, dia takut sehingga kakinya gemetaran. Bu Silvi juga ikut mengancam pembantunya.


"Kamu juga harus tutup mulut dari Tuan. Awas saja kalau kamu berani mengaku," imbuh Bu Silvi.


"Baik, Nyonya. Saya akan menutup mulut dalam masalah ini," jawab Bi Surti. Setelah itu Bi Surti kembali ke dalam dapur.


Viona dan ibu mertuanya tersenyum penuh kemenangan. Mereka sangat puas mendapatkan apa yang diinginkan. "Ma, aku ingin ke kamar Zahra. Aku ingin melihat wajah sendunya itu seperti apa?" ucap Viona.


"Silakan, Mama mau ke kamar dulu. Nanti kamu ceritakan pada Mama ya, Sayang," sahut Bu Silvi tak kalah semangat.

__ADS_1


"Siap Ma, aku ke atas dulu." Viona menaiki tangga dan menuju ke kamar Zahra.


Sesampainya di atas, Viona langsung mengetuk pintu dengan keras. "Zahra, keluar kamu! Aku ingin menanyakan sesuatu. Zahra buka pintunya!" teriaknya dengan kasar.


Zahra diam tak menjawab, dia terus menangis di atas kasurnya. Beberapa kali dia menelepon Rizal namun tidak tersambung. Hal itu membuatnya semakin takut.


"Zahra kamu dengar tidak? Cepat keluar!" Viona terus berteriak namun, Zahra tak menghiraukannya.


Zahra duduk diatas kasur dengan memeluk kedua kakinya. Dia terus menyebut nama Rizal. "Mas, pulanglah. Aku takut! Aku takut!" ucap Zahra dalam hati.


Merasa diabaikan, Viona langsung pergi dari depan kamar Zahra. Dia merasa puas melihat Zahra yang pastinya sangat terpukul.


Di kamarnya, Reza sedang mengguyur badannya di bawah shower dengan air dingin. Dia merasa syok dan tertekan. Reza menjambak rambutnya sendiri, dia merasa bersalah pada adik iparnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Zahra pasti sangat membenciku. Sial, ini pasti ulah mereka. Lihat saja aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti Zahra," ucap Reza pelan. Dia sedang menenangkan gejolak dalam tubuhnya.


"Untung saja aku masih mempunyai kesadaran. Zahra maafkan aku!" Reza terus menyalahkan dirinya sendiri. Meski itu dalam ketidaksengajaan, namun perbuatannya itu memberikan kesan negatif.


Keesokan harinya.


Zahra selesai mandi dan sholat subuh. Dia segera bersiap untuk berangkat bekerja. Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan nasibnya yang malang. Hari ini Zahra ingin pergi pagi sekali untuk menghindari semua orang.


Zahra berjalan menuju ke jalan raya. Dia melangkah dengan gontai di pagi hari yang masih gelap itu. Kepalanya pusing memikirkan semua masalahnya. Zahra masih mengharapkan kepulangan Rizal, hanya dengan suaminya lah dia bisa tenang berbagi keluh kesah.


Tepat jam 06.00 pagi, Viona dan semua orang bangun. Mereka keluar dari kamar masing-masing. Viona yang masih penasaran dengan keadaan Zahra pun kembali menemuinya.


"Zahra, keluar kamu. Keterlaluan sekali kamu, beraninya mengabaikanku! Zahra." Viona terus menggebrak pintu kamar dengan kasar.


Viona kehilangan kesabaran, dia memegang handle kemudian pintu itu pun terbuka. Viona masuk ke dalam kamar Zahra, dia melihat ruangan yang sudah sepi. "Kemana perginya orang itu? Apa dia sudah kabur?" ucap Viona dalam hati.


Setelah itu, Viona pun keluar dan melihat Reza yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya sendiri. Reza langsung pergi ketika melihat Zahra sudah tidak ada di rumah.


Melihat kakak iparnya yang terburu-buru membuat Viona tersenyum licik. "Aku yakin dia pasti akan menemui Zahra. Kasihan sekali, menyukai wanita yang berstatus istri orang. Parahnya lagi, dia adalah adik iparnya sendiri. Sungguh sangat lucu, kedua orang itu bisa menyukai wanita bodoh seperti si Zahra," gumam Viona pelan. Setelah itu dia pergi dari kamar Zahra.


Sesampainya di bawah, Reza langsung menuju ke mobilnya. Dia harus segera menemui Zahra untuk menjelaskan semuanya. "Aku harus meluruskan kesalahpahaman ini. Aku tidak mau Zahra membenciku," ucap Reza, dia fokus mengemudikan mobilnya.


Reza melajukan mobilnya menuju ke tempat kerja Zahra. Dia yakin kalau adik iparnya ada di sana. Dua puluh menit kemudian, Reza sampai di butik tempat Zahra bekerja. Dia keluar dan turun dari mobil. Reza melihat ke sekitar butik tersebut. Lalu matanya melihat seorang wanita sedang duduk di sebuah kursi dengan pandangan kosongnya. Reza berjalan mendekat ke sana.


"Zahra," panggil Reza.

__ADS_1


Zahra terhenyak mendengar seseorang memanggil namanya. Dia langsung berdiri dan beranjak meninggalkan tempat itu.


"Zahra tunggu! Aku ingin menjelaskan semuanya padamu," ucap Reza dengan memegang tangan Zahra.


Zahra menarik tangannya kembali. Dia berdiri dan tidak berani menatap Kakak iparnya. "Pergilah Mas, jangan mendekat! Aku tidak mau orang salah paham dengan sikapmu padaku," ucap Zahra dengan gugup.


"Aku hanya ingin minta maaf sama kamu. Aku hampir saja melakukan kesalahan!"


"Cukup Mas! Jangan bahas lagi, aku tidak mau mengingatnya. Pergilah, karena aku mau masuk ke dalam." Zahra mengusir kakak iparnya. Setelah itu dia berjalan meninggalkan Reza sendirian di tempat itu.


"Zahra, aku tidak seburuk itu. Kita sudah dijebak dan aku tahu siapa yang melakukannya. Zahra aku harap kamu mengerti dan mau memaafkan aku!" Reza terus berteriak memanggil Zahra. Dia berusaha untuk mendapatkan maaf dari adik iparnya.


Penjelasan itu tidak dihiraukan oleh Zahra. Dia masih takut jika terbayang dengan kejadian itu. Akhirnya Reza pun pergi, dia tidak mau jika masalahnya ada orang yang tahu. Zahra masuk ke dalam butik dengan langkah berat, kepalanya pusing sekali.


"Zahra, selamat pagi!" sapa temannya.


Zahra tersenyum dan mengangguk. Bibirnya berat untuk menjawab sapaan temannya.


"Zahra kamu kenapa? Mukamu pucat sekali, apa kamu sedang sakit?"


Zahra berhenti sejenak kemudian tubuhnya lemas dan dia pun pingsan. Semua orang panik, mereka langsung menolong Zahra dan membawanya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Zahra sudah terbaring lemas di ranjang. Dia sadar dan beberapa temannya terlihat sedang menungguinya.


"Zahra kamu sudah sadar."


"Aku dimana?" ucap Zahra.


"Kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan. Lalu kita semua membawamu ke sini. Oh, ya ada berita bagus untukmu. Kamu dinyatakan positif hamil oleh dokter," ucap teman Zahra.


Zahra terkejut dengan berita itu. "Benarkah? Alhamdulillah, doaku dikabulkan oleh Allah. Terima kasih ya Allah, engkau telah mengabulkan doaku," ucap Zahra senang.


"Terima kasih untuk kalian semua, sudah mau membantuku."


"Sama-sama, kamu istirahat sebentar. Hari ini kamu boleh libur. Jadi tidak usah tergesa-gesa."


Zahra mengangguk sembari mengelus perutnya yang masih rata. "Ya Allah, hamba mohon dengan sangat. Jagalah kandunganku ini agar tetap sehat. Hamba akan merawatnya dengan sepenuh hati jika engkau mengizinkan ya Allah."


Zahra berdoa dalam hati. Dia sangat berharap kalau kandungannya kali ini mampu bertahan.

__ADS_1


"Aku harus merahasiakan ini dari semua orang. Aku akan memberi kejutan untuk Mas Rizal nanti saat kembali," ucap Zahra dalam hati.


__ADS_2