
Jam menunjukkan pukul 20.00 malam. Zahra masih menimang Keynara karena sedikit rewel. Dia menggendongnya dengan penuh kasih sayang. Hal ittu yang membuat Reza semakin jatuh cinta.
"Sini biar aku saja yang menggendong kamu istirahat sebentar. Kebetulan aku sudah menyelesaikan pekerjaanku," ucap Reza pada Zahra.
Zahra menyerahkan Keynara pada Reza. "Terima kasih, Mas. Apa Papa lembur lagi malam ini? Kasihan Papa jadi kurang istirahat," ujar Zahra dia duduk di sofa.
"Perusahaan hampir bangkrut, jadi Papa sedang bekerja keras untuk mengembalikan performa perusahaan. Aku ingin membantu tapi pekerjaanku sendiri sangat banyak. Aku tidak bisa menghandle dua perusahaan sekaligus," balas Reza. Dia sangat telaten dan sabar membantu kesulitan keluarganya.
"Keynara ini memang benar-benar mencari perhatian orang. Dia tahu perhatian mana yang dia butuhkan," ucap Reza dengan memandangi wajah bayi mungil itu.
"Key, hanya membutuhkan kasih sayang dari orang tua. Dia tahu tangan mana yang menyayanginya tulus. Sepertinya kamu juga sangat menyayangi Key, Mas!" sahut Zahra.
Reza tersenyum dan menjawab, "Aku akan menyayangi semua yang kamu sayangi. Begitu juga sebaliknya, aku akan membenci semua yang kamu benci. Jadi aku akan melakukan apa yang kamu lakukan."
"Aku selalu tidak bisa menjawab ketika kamu bicara seperti itu, Mas. Ucapan dan ungkapan hatimu terlalu dalam untukku, sehingga aku tidak mampu untuk membalas perkataanmu."
"Kamu tidak perlu membalas ucapanku. Aku hanya ingin kamu terus mengembangkan perasaanmu padaku. Agar ungkapan hati ini tidak terbuang percuma, karena aku masih menunggu datangnya hari bahagia itu. Jadi kali ini aku harus bersabar dan selalu belajar, untuk bisa memahami semuanya sehingga nanti aku tidak akan membuat kesalahan padamu," ucap Reza semakin membuat jantung Zahra berdebar.
Zahra tersenyum lebar. "Aku akui kalau kamu memang pintar sekali membuat hati seorang wanita yang awalnya terluka dan sangat rapuh kembali ceria, bahkan bisa melupakan masa lalunya dengan cepat. Mas, terima kasih sudah menjadi penyemangat di saat aku rapuh. Sudah malam, Key juga sudah tidur. Aku bawa ke kamar dulu biar mbak Lilis menjaganya," ucap Zahra.
Reza memberikan Keynara pada Zahra. "Key, jangan nakal sama Bunda. Jadilah anak yang baik karena Bunda sangat menyayangimu," kata Reza pada Keynara.
"Iya Paman, aku akan nurut sama Bunda!" Zahra menyahut ucapan Reza.
__ADS_1
"Selamat malam, Mas. Selamat beristirahat!" Zahra berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Dini hari, Bu Silvi sedang memberontak di dalam kamarnya. Akibat sifat keras kepalanya dia menjadi seperti orang yang tidak terawat karena menolak semua perawat yang Reza datangkan.
"Emm ... Emm ... Emm ...." Bu Silvi menggumam memanggil seseorang.
Dia mencoba bangun dari tempat tidur. Akan tetapi dia justru terjatuh ke lantai. Tangannya menyenggol gelas yang ada di meja hingga terjatuh.
Pyaaarrr!
Bu Silvi tergelak di lantai dengan kondisi yang memprihatinkan. Badannya penuh dengan kotoran karena dia tidak mau memakai diapers.
Kekacauan itu terdengar di telinga Zahra, karena kebetulan dia sedang bangun untuk mengambil air minum. Zahra masuk ke dalam kamar ibu mertuanya.
Dia melihat ibu mertuanya jatuh ke lantai dengan tubuh penuh kotoran. "Ma, Mama, kenapa bisa begini. Seharusnya Mama mau memakai baju dan diapers," ucap Zahra sembari menahan bau busuk itu.
"Emm ... Emm ... Emm ...." Bu Silvi menyuruh Zahra untuk pergi.
Biasanya, pak Roni lah yang membujuk istrinya untuk berpakaian. Tetapi malam ini ayah mertuanya itu sedang lembur di kantor.
Zahra mencoba menolong ibu mertuanya. Dia mengambil masker akan tetapi justru dia terpeleset karena ada genangan air di lantai.
Akhhhh ... Bruuk!
__ADS_1
Zahra terjatuh tergeletak di lantai. Dia memegangi perutnya yang sakit. "Tolong ... Toloong ...." Zahra berteriak meminta tolong.
Dia meringis kesakitan sembari memegang perutnya. Tak lama kemudian datanglah Bi Ani. "Non, astagfirullah. Kenapa bisa terjatuh? Sebentar saya panggil Den Reza dulu ya," ucap Bi Ani.
Bi Ani segera berlari menuju ke kamar Reza. "Den, bangun Den. Non Zahra terjatuh di kamar Nyonya!" seru Bi Ani dari luar pintu.
Mendengar itu, Reza langsung terbangun dan segera melesat ke kamar ibunya. "Zahra, kamu tidak apa-apa 'kan?"
"Mas perutku sakit, aku tadi jatuh terpeleset," ucap Zahra dengan meringis menahan sakit.
Reza langsung menggendong Zahra dan membawanya ke dalam kamar. "Bi kamu urus Mama sampai bersih. Besok akan aku berikan kamu bonus, jika bisa merawat Mama malam ini," ujar Reza.
"I-iya Den, akan saya laksanakan," jawab Bi Ani.
Reza langsung keluar dari kamar ibunya. Dia panik melihat Zahra kesakitan. Sesampainya di kamar, Reza meletakkan Zahra di ranjang. "Zahra, aku panggilkan dokter ya. Atau kita ke rumah sakit saja?"
Zahra menggeleng. "Tidak perlu, Mas. Kita besok saja ke rumah sakit. Aku buat istirahat saja. Tolong ambilkan obatku di dalan laci itu, Mas!"
Reza segera mengambil obat yang di maksud Zahra. Setelah dapat dia memberikan obat itu. "Ini minumlah!"
Zahra meminum obat itu untuk meredakan nyeri perutnya, kemudian Zahra memejamkan matanya dan kembali beristirahat.
Melihat kondisi ini, Reza semakin berpikir bagaimana cara mengatasi kekacauan itu. "Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku membiarkan Mama seperti itu setiap hari. Aku harus membahas masalah ini pada Papa," ucap Reza dalam hati. Setelah itu, Reza keluar setelah Zahra tenang.
__ADS_1