
Reza masuk ke kamarnya dengan penuh emosi. Ingin sekali dia menghajar Rizal supaya sadar akan kesalahannya."Astaghfirullahaalladzim, sungguh aku tidak bisa menahan diri. Ingin sekali aku menyadarkan anak itu," ucap Reza dengan nada berat.
Setelah itu dia membersihkan badannya untuk segera istirahat, karena besok pagi Reza harus pergi ke rumah sakit.
Di Kamar Lain.
Rizal tertidur di samping Viona. Keringat dingin membasahi wajahnya. Tiba-tiba, Rizal berteriak dengan keras, "Zahra jangan pergi! Zahra jangan tinggalkan aku! Zahra tunggu, jangan pergi ... Zahra ...."
Viona terbangun mendengar teriakan suaminya. "Rizal bangun, kamu cepat bangun! Beraninya kamu memimpikan wanita itu," seru Viona dengan keras juga.
Akhirnya Rizal terbangun, dia duduk dan segera mengatur pernapasannya. Melihat Rizal yang terpukul membuat Viona semakin benci dengan Zahra.
"Aku ingin ke kamar mandi," ucap Rizal turun dari ranjangnya.
Sesampainya di dalam, Rizal melihat bayangannya di depan cermin. "Perasaan apa ini? Kenapa alam bawah sadarku merasa kehilangan sekali? Bukankah, sudah ada Viona di samping ku. Aku tidak boleh seperti ini, aku harus yakin dengan keputusanku," gumam Rizal pelan.
Setelah itu dia mencuci mukanya dan kembali tidur. Viona melihat suaminya dengan raut wajah sebal. "Ternyata kamu masih saja memikirkan wanita itu. Buktinya kamu memimpikannya," cibir Viona, namun sama sekali tidak dihiraukan oleh Rizal.
"Ck, kamu membuatku kesal." Viona marah dan langsung menarik selimut lalu kembali tidur.
Rizal masih berlarut pada pikirannya. Dia tidak bisa memejamkan mata, bayang-bayang Zahra terus menari dalam pandangannya. Hingga akhirnya dia terjaga sampai pagi datang.
__ADS_1
Dia bangun dan langsung menuju ke dapur untuk mengambil minum. Saat minum, Rizal melihat Reza turun dari tangga dengan tergesa-gesa. Rizal hanya melihatnya saja, dia masih malas membuat keributan karena masih sangat pagi sekali.
"Apakah dia mau mencari Zahra? Zahra ... dimana dia sekarang?" gumam Rizal dalam hati, lalu dia menggelengkan kepalanya agar tersadar untuk tidak lagi memikirkan Zahra.
"Aku harus fokus sekarang, aku akan mencoba untuk tidak memedulikannya." Rizal kembali ke kamarnya setelah minumanku habis.
Di depan rumah.
Reza sedang bersiap dengan mobilnya. Dia ingin pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Zahra. Dia terburu-buru karena pihak rumah sakit menginformasikan kalau Zahra sudah siuman.
Membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobil bisa langsung masuk ke dalam dan menuju ke ruangan Zahra. Sesampainya di sana tiba-tiba ada seseorang yang keluar dari dalam ruangan rawat itu.
Reza menghentikan langkahnya dan berkata, "Papa ... Papa sudah tiba. Kenapa tidak meneleponku? Kan Reza bisa jemput Papa."
"Bagaimana keadaan Zahra, Pa? apa dia baik-baik saja? Aku sangat khawatir sekali dengan kondisinya." Reza bertanya pada sang ayah.
"Kebetulan saat Papa masuk tadi Zahra sudah siuman dan terlihat sangat lemah sekali. Untuk itu, Papa belum sempat menanyainya. Lalu, Papa menyuruhnya untuk istirahat kembali," jawab Pak Roni.
Pak Roni menghela nafas dalam. Dia mengajak Reza untuk duduk di kursi tunggu. "Ikut Papa, ada sesuatu yang mau Papa bahas sama kamu," ajak Pak Roni.
Reza langsung mengikuti ayahnya, dia duduk dengan tenang di kursi. "Ada apa, Pa? sepertinya Papa sangat serius sekali," tanya Reza.
__ADS_1
"Papa lihat, kamu sangat perhatian sekali dengan Zahra. Apakah kamu mempunyai perasaan dengan adik iparmu sendiri?" tanya Pak Roni.
Pertanyaan itu membuat Reza terhenyak. "Apakah begitu terlihat sehingga Papa menanyakan ini padaku?" tanya Reza dengan menundukkan kepalanya.
"Papa sudah melihat sejak lama, caramu memandang Zahra itu sangat berbeda sekali. Bahkan kamu sering membelanya ketika dia sedang ada masalah. Itu sudah cukup membuktikan kalau kamu ada perasaan dengan Zahra," jelas Pak Roni.
Reza terdiam dia tidak tahu harus mengatakan apa, karena semua itu memang kenyataannya. "Apakah aku salah jika mempunyai perasaan dengan Zahra, Pa? Aku tidak tega melihatnya menderita. Hati ini terasa sakit jika melihatnya menangis. Tapi rasa itu aku kembalikan lagi, ketika mengingat status Zahra yang sebagai adik iparku. Aku membuang jauh rasa itu, Pa. Tapi semuanya sia-sia dan perasaan itu hadir kembali. Karena memang aku tidak bisa menghindari perasaanku pada Zahra. Aku mencintai Zahra, Pa."
"Papa mengerti apa yang kamu rasakan. Papa juga tidak menyalahkan jika kamu mempunyai perasaan dengan adik iparmu sendiri. Papa hanya berpesan sama kamu Reza, batasi dirimu karena Zahra masih istri sah Rizal. Nanti, setelah sampai rumah biar Papa yang menasehati adikmu agar lebih bersikap baik pada istrinya," ucap Pak Roni.
Reza tetap diam dan tak berkomentar apapun lagi. "Papa belum tahu kejadian sebenarnya. Di saat Papa tahu nanti, aku yakin kalau Papa pasti akan merubah pikiran," ucap Reza dalam hati.
"Baiklah kalau begitu papa pulang dulu pernah. Kamu berikan pelayanan eksklusif biar Zahra ada yang merawat."
"Hati-hati, Pa!"
Setelah itu Pak Roni pergi dari rumah sakit. Tentu saja dia belum mengetahui tentang apa yang terjadi dalam keluarganya.
Reza masih dalam tempatnya, setelah itu dia mulai beranjak dan masuk ke dalam ruangan Zahra untuk melihat keadaannya. Sesampainya di dalam, Reza melihat Zahra yang sedang tertidur. Dia mendekat ke arah ranjang. Reza mendekatkan tangannya ke arah wajah Zahra. Dia ingin membelai wajah Zahra yang terlihat sangat lemah.
Sebelum tangan itu menyentuh wajah adik iparnya, dengan cepat Reza menarik tangannya. "Ingin sekali rasanya aku membelai wajah itu. Zahra, semoga ada takdir untuk kita berdua. Jika dia menyia-nyiakan mu, di saat itulah aku akan datang untuk membahagiakanmu," ucap Reza dalam hati.
__ADS_1
Setelah itu dia menunggu beberapa saat, sampai pada akhirnya Reza pergi bekerja karena Zahra belum juga bangun dari tidurnya.