Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Rencana Jahat


__ADS_3

Zahra berangkat bersama dengan Reza. Dia masih menganggap kebaikan itu sebagai pertolongan yang umum untuknya. Padahal perhatian Reza itu sudah melebihi batas sebagai Kakak ipar. Namun, Zahra tidak mempunyai pemikiran sejauh itu.


"Mama itu memang keterlaluan sekali sama kamu, Zahra! Padahal kamu itu baik, tapi kenapa dia berbuat jahat terus sama kamu," ucap Reza dalam mobilnya.


Zahra tersenyum mendengar ucapan kakak iparnya. "Biarlah Mas, aku selalu mendoakan mama agar diberi hidayah oleh Allah," jawab Zahra.


Reza menoleh ke arah Zahra yang tampak begitu tenang dan sabar. "Seandainya kamu menjadi istriku, tak akan aku biarkan orang lain menindasmu Zahra. Sayang, jodohmu bukanlah diriku," gumam Reza dalam hati. Reza terus melajukan mobilnya sampai ke butik tempat Zahra bekerja.


Beberapa menit kemudian, sampailah Zahra di tempatnya bekerja. Dia turun sesudah mengucapkan terima kasih pada Reza.




Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Usia kandungan Viona sudah memasuki usia 5 bulan. Hal itu membuatnya semakin manja pada Rizal. Sehingga dia membatasi ruang gerak suaminya. Sudah hampir satu bulan, Rizal pergi ke luar negeri. Dia jarang pulang sehingga membuat Viona tinggal bersama mertuanya.



Viona selalu mencari masalah untuk Zahra. Dia selalu mengganggunya setiap ada kesempatan. Hal itu dilakukan bersama dengan ibu mertuanya. Namun, kelakuan mereka selalu mendapat halangan oleh Reza. Dia selalu menjadi pembela ketika Zahra ditindas oleh madu dan juga mertuanya.



Hari ini ada acara arisan di rumah Bu Silvi. Zahra ditugaskan oleh ibu mertuanya untuk membuat kue dan puding. Tentu saja acara itu membuatnya sangat sibuk. Dia rela bangun malam hanya untuk menyelesaikan kue dan puding pesanan ibu mertuanya.



Zahra melakukannya dengan bantuan Bi Surti. Dalam beberapa jam berjibaku di dapur, kue dan puding itu pun jadi.



"Akhirnya selesai juga, Bi. Terima kasih sudah membantu," ucap Zahra.



Tepat jam delapan pagi semua kue dan puding sudah siap untuk dihidangkan. Acara arisan dimulai nanti jam sembilan. Selesai membuat, Zahra segera pergi ke kamarnya untuk mandi. Tiba-tiba, Viona memintanya untuk membuatkan segelas susu.



"Zahra, tunggu jangan pergi dulu. Buatkan aku segelas susu sekarang," ucap Viona dengan angkuh.



"Ada Bi Surti di dapur, kamu bisa meminta tolong padanya. Aku capek sekali, ingin mandi sebentar," jawab Zahra dengan suara lirih.



Viona kesal karena Zahra yang tidak mau menuruti keinginannya. "Kamu ini sok banget sih. Dimintai tolong seperti itu juga, pantas saja sampai saat ini kamu belum juga hamil ternyata perilakumu sangat buruk sekali," cibir Viona dengan kasar.



Zahra diam, dia langsung naik ke atas dan tidak menghiraukan ucapan Viona. Hal itu membuat Viona semakin kesal dan marah. Dia berjalan dan menarik tangan Zahra, sehingga membuatnya hampir terjatuh dari tangga.

__ADS_1



"Kamu jangan pergi, sana buat!" ucap Viona.



Zahra menggunakan tangan untuk menahan badannya yang hampir terjatuh. Lalu, kakinya pun terkilir karena ikut menahan beban tubuhnya.



"Viona, kamu!" Zahra menatap Viona dengan tatapan marah.



"Apa? Kamu berani sama aku? Jangan sampai aku mengadukanmu pada Rizal. Jadi cepat sana buat, jangan membuatku marah," bentak Viona dengan kasar.



Zahra langsung berdiri, dia tidak lagi membantah ucapan Viona. Di dapur, Zahra langsung membuatkan susu untuk Viona. Setelah itu dia membawa susu itu dihadapan madunya.



"Ini susunya, silakan diminum!" Zahra meletakkan susu di meja.



Viona langsung mengambil gelas itu dan meminum susunya. Namun di luar dugaan, Viona menyemburkan susu yang diminumnya itu ke arah Zahra. "Kamu ini mau membuat lidahku terbakar ya. Bisa kerja tidak? Membuat susu saja tidak bisa. Ini rasakan sendiri susu yang kamu buat."




"Panas kan? Jadi kamu tadi sengaja membuatkan aku susu yang panas agar lidahku terbakar. Dasar jahat!" Viona mengangkat tangannya ingin memukul Zahra. Namun, ada seseorang yang mencegahnya.



"Viona jangan keterlaluan kamu!" seru Reza dari belakang. Dia memegang tangan Viona yang sudah siap memukul Zahra.



Viona pun kaget karena tiba-tiba saja Reza datang dari belakang. "Mas Reza," ucap Viona gugup.



Zahra langsung beranjak dari tempat itu. Dia berjalan dengan sedikit pincang menuju ke lantai atas.



"Zahra kakimu kenapa?" tanya Reza. Namun tidak dijawab oleh Zahra.


__ADS_1


Melihat Zahra yang seperti itu membuat Reza langsung tahu siapa yang melakukannya. Reza berjalan mendekati Viona. "Jangan sampai aku melakukan hal buruk terhadapmu, karena perbuatan mu sudah sangat keterlaluan sekali. Kamu harus ingat kata-kata ku ini," ucap Reza mengancam Viona.



Setelah itu Reza pergi dari tempat itu menuju ke kamarnya. Viona sangat kesal, dia tidak terima dengan ancaman Reza. "Sialan, beraninya dia menggertakku. Awas saja aku tidak akan tinggal diam dengan penghinaan ini. Semua ini gara-gara Zahra. Aku harus secepatnya menyingkirkan dia," gumam Viona pelan.



Tak lama kemudian, keluarlah ibu mertuanya dari dalam kamar. Bu Silvi turun dan melihat raut wajah Viona yang tampak kesal.



"Sayang kamu kenapa? Kok kesal seperti itu?" tanya Bu Silvi.



Viona menghentakkan kakinya dan pergi duduk di meja makan. "Aku lagi kesal sama Zahra, Ma. Setiap aku marahin dia, Mas Reza selalu membelanya. Aku curiga jangan-jangan Mas Reza mempunyai perasaan pada Zahra," ucap Viona, hingga membuat Bu Silvi penasaran.



"Bagus dong Sayang, jadi kita mempunyai alasan yang kuat untuk menyingkirkannya. Rizal kan masih lama di luar negeri jadi kita bisa sepuasnya untuk mengerjai Zahra."



"Mama bener banget, biarlah Mas Reza memperdalam perasaannya pada Zahra. Kalau perlu kita jebak aja sekalian agar mereka melakukan sesuatu hal yang bisa membuat Rizal marah." Viona terus memprovokasi mertuanya.



"Tapi bagaimana caranya?" tanya Bu Silvi.



"Nanti selesai acara aku akan kasih tahu Mama. Aku harus secepatnya membuat dia pergi dari kehidupan Rizal," jawab Viona, dia tersenyum licik sekali.



"Bagus, kamu memang menantu terbaik Mama. Paling bisa diandalkan. Pokoknya, Mama tetap akan mendukungmu. Apapun itu."



"Pasti dong Ma. Sebaiknya sekarang kita bersiap-siap saja. Sebentar lagi teman-teman Mama pasti akan datang. Aku sudah tidak sabar untuk pamer kalung berlianku ini pada mereka," ucap Viona dengan sangat bangga.



"Iya Sayang, Mama juga ingin pamer pada mereka dengan gelang baru Mama ini. Pasti mereka akan iri dengan kita ya. Mama bersyukur sekali mempunyai menantu seperti kamu. Aura sosialitamu sangatlah kuat seperti Mama. Jadi Mama tentu tidak akan malu membawamu ke acara arisan Mama, Sayang."



"Iya Ma, aku juga senang bisa menjadi menantu Mama karena aku sangat mencintai Rizal."


__ADS_1


Setelah itu Viona dan ibu mertuanya menyambut tamu arisan yang datang. Acara itu berlangsung sangat ramai sekali.


__ADS_2