Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Merasakan Kehilangan


__ADS_3

Rizal pergi menuju ke cafe. Dia merasa sumpek karena Viona yang selalu membantah ketika diperintah. Hidupnya tidak karuhan setelah mengusir Zahra. Tidak membutuhkan waktu lama, Rizal sampai juga di kafe tersebut. Dia keluar dari mobil kemudian masuk ke dalam.


Suasana kafe tampak rame sekali karena memang hari masih sore. Sesampainya di dalam Rizal segera mencari tempat duduk dan memesan minuman hangat untuk meredakan sakit di kepalanya.


Dari tempat duduknya, Rizal menangkap bayang seseorang yang meneguk minuman beralkohol. Orang tersebut adalah Reza. Rizal mengerutkan alisnya dia tidak menyangka kalau akan bertemu dengan kakaknya di cafe itu.


Dari tempatnya dan segera menghampiri Reza yang terlihat stress. "Aku tidak menyangka kalau kamu bakal nongkrong di tempat yang seperti ini," seru Rizal dari belakang.


Reza mengabaikan ucapan yang dilontarkan oleh adiknya. Kepala Reza sudah sedikit pusing efek dari minuman beralkohol itu. Reza meletakkan gelasnya setelah itu dia beranjak dari tempat itu dan pergi meninggalkan Rizal.


"Hei, mau pergi kemana kamu? Beraninya kamu mengabaikan aku," teriak Rizal, dia emosi karena diabaikan.


Reza terus berjalan, di tetap tidak menghiraukan Rizal. Perasaannya masih hancur jika mengingat penolakan Zahra. Rizal juga membiarkan kakaknya pergi. Dia tidak ingin mencari keributan di tempat umum lagi.


Rizal kembali duduk di tempatnya, dia menikmati segelas madu jahe untuk menghangatkan tubuhnya. Dia mulai menyulut sebatang rokok dan menghisapnya dengan nikmat. Semenjak menikah Rizal rela meninggalkan hobi merokoknya itu.


"Kenapa aku menjadi seperti ini? Aku seperti orang yang sangat kehilangan. Tidak ada semangat lagi di hati ini. Di saat seperti ini aku sangat membutuhkanmu, Zahra. Tetapi, di saat aku bertemu denganmu, aku merasa benci karena melihat bayangan Mas Reza di sampingmu. Apa yang harus aku lakukan?" ucap Rizal penuh dengan kebimbangan.


Rizal terus merenungi nasibnya hingga larut malam. Setelah jam 24.00, bisa memutuskan untuk pulang. Dia ingin pulang ke rumah ibunya, karena Rizal sudah malas bertemu dengan Viona yang terlalu banyak menuntut dan sangat cerewet sekali.


Mobil melaju sangat kencang, menembus jalanan yang sudah tampak sepi. Rizal pulang ke rumah orang tuanya dengan perasaan yang sulit sekali dijelaskan.


Sesampainya di sana, Rizal langsung turun dan masuk ke dalam rumah. Dia dikagetkan oleh suara dengkuran dari ruang tamu. Ternyata Reza lah yang tidur di sofa. Dia mendengkur dan sesekali menyebut nama Zahra.


"Zahra kenapa kamu menolakku, Zahra! Aku sangat mencintaimu! Aku ingin kamu menjadi milikku, Zahra!" gumam Reza tanpa sadar.


Mendengar itu membuat Risa langsung menghentikan langkahnya. Emosinya tersulut lagi, dia berjalan dan membangunkan kakaknya. "Brengsek beraninya kamu menyebut nama Zahra di depanku," seru Rizal.


Reza membuka matanya, samar-samar dia melihat bayangan Rizal. "Adikku yang bodoh ternyata. Kamu bodoh sekali sudah membuang Zahra. Aku yakin kamu akan menyesal Rizal. Akulah yang akan membahagiakannya. Lebih baik cepat kamu cepat ceraikan dia. Agar hidupnya terbebas dari suami yang tidak bertanggung jawab sepertimu," racau Reza sinis.


Rizal tersulut emosinya, dia menarik krah baju Reza dan melayangkan tinju tepat ke arah wajahnya. "Kamu diam atau aku hajar kamu sekarang." Rizal terus memukuli wajah kakaknya.


Keributan itu di dengar oleh Pak Roni dan juga Bu Silvi. Mereka keluar dari kamar lalu terkejut melihat kedua anaknya berkelahi. "Rizal berhenti memukuli kakakmu," seru Pak Roni.

__ADS_1


Pak Roni menarik Rizal yang terus menghajar kakaknya. "Rizal stop, jangan hajar kakakmu lagi," sentak pak Roni.


Reza terguling ke lantai, dia terbatuk-batuk dan wajahnya babak belur. Sedangkan Rizal masih dalam amarahnya.


"Kalian kenapa? Kalian berdua bukan anak kecil lagi," teriak pak Roni marah.


"Dia yang mulai, Pa. Dia sudah menghancurkan hubunganku dengan Zahra. Bahkan dia juga menghinaku, Pa. Aku harus memberinya pelajaran." Rizal ingin maju lagi, tapi segera di cegah oleh ayahnya.


"Papa bilang stop, Rizal."


Bu Silvi juga ikut berbicara, "Rizal kamu ngapain di sini. Harusnya kamu pulang karena Viona telah menunggumu cemas."


Mendengar kata Viona membuat Rizal malas. Dia pergi ke atas untuk bersiap tidur. Bu Silvi heran dengan perubahan Rizal. "Ada apa dengan anak itu? Kenapa aneh sekali," ucap Bu Silvi dalam hati.


Pak Roni juga membantu Reza untuk bangun. Reza benar-benar tidak tahu apapun. Dia sudah terpengaruh dengan meniman keras. Pak Roni memapah tubuh Reza yang lemas untuk masuk ke dalam kamarnya.


Keesokan harinya.


Rizal bangun pagi sekali karena ada meeting penting di luar kantor. Dia turun dari tangga dan berjalan keluar tanpa menyapa kedua orang tuanya. Hal itu membuat Bu Silci kesal.


"Rizal sudah mulai memberontak dari semua aturan yang Mama buat sendiri," seru pak Roni.


"Apa maksudmu, Pa? Kenapa kamu berdoa seperti itu?" ketus Bu Silvi.


"Rizal itu merasa kehilangan Zahra, Ma! Mama sendiri lah yang sudah menghancurkan kebahagiaan Rizal. Mama sudah banyak melakukan kesalahan, lebih baik Mama berhenti berbuat jahat dan biarkan Rizal mencari kebahagiaannya sendiri," balas pak Roni.


Bu Silvi semakin kesal, dia mengakhiri sarapan paginya. "Papa itu tidak tahu apa-apa. Jadi diam saja! Hari ini aku mau mengantarkan check up kandungan Viona. Gara-gara Rizal tidak pulang dia mengalami flek," gerutu Bu Silvi.


Pak Roni menghela nafas dalam. Dia sangat bingung sekali, karena kedua putranya menyukai satu orang yang sama.


Di Tempat Lain.


Zahra sudah siap untuk bekerja. Dia telah sampai di toko bunga dan sedang menata bunga-bunga itu di tempatnya. Asyik menata tiba-tiba, suara manajer terdengar memanggilnya.

__ADS_1


"Zahra kamu antarkan buket ini ke alamat yang tertulis ya," ucap sang manajer.


"Baik, Pak!" Zahra menerima buket tersebut dan segera berangkat ke alamat yang tertera dengan naik taksi.


Dua puluh menit kemudian, Zahra sampai juga di alamat kantor yang tertera. Zahra turun dan keluar dari taksi kemudian masuk ke dalam kantor. Sesampainya di sana, tidak sengaja Zahra bertabrakan dengan seorang office boy yang sedang membawa kopi. Baju Zahra basah dan kotor karena ketumpahan kopi.


"Maaf, Nona. Saya tidak sengaja!" ucap OB tersebut.


"Tidak apa-apa, saya juga tidak lihat-lihat tadi. Maaf ruangan direktur di mana ya! Saya ingin mengantar bunga ini ke ruangannya," ucap Zahra.


Office boy itu pun langsung memberitahukan ruangan direktur kepada Zahra. Kemudian, Zahra langsung menuju ke ruangan tersebut. Dia mengetuk pintu, setelah dipersilakan Zahra pun masuk ke dalam.


"Selamat pagi, ini bunga pesanan anda. Mau saya taruh dimana, Pak?" tanya Zahra.


"Pagi, kamu taruh saja bunganya di meja. Kok yang mengantar bukan orang biasanya?"


Zahra tersenyum dan menjawab, "Iya Pak, saya karyawan baru di toko."


"Baju kamu kenapa? Kotor sekali," ucap direktur itu.


"Ini tadi tidak sengaja menabrak dan ketumpahan kopi," jawab Zahra.


"Lain kali hati-hati, ini uangnya dan besok datang lagi."


"Baik, terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Zahra. Setelah itu dia keluar dari ruangan itu.


Sesampainya di luar, tiba-tiba tangan Zahra ditarik kasar oleh seseorang. Zahra terkejut dan berteriak, "Lepas, apa yang kamu lakukan? Mas Rizal, lepaskan tanganku."


Rizal terus menarik tangan Zahra hingga keluar dari kantor. Setibanya di luar, Rizal langsung memarahi Zahra.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Ha? Mau cari target lagi, atau kamu sedang menjual diri," sentak Rizal keras hingga membuat hati Zahra bergetar.


Zahra kaget sekali lalu dengan gerakan cepat dia menampar Rizal. "Plaak! Cukup kamu menghinaku, belum cukupkah kamu menyakiti hati ini. Belum puaskah kamu menghancurkan hidupku? Aku mau menjual diri atau apapun itu semua bukan urusanmu. Hubungan kita sudah selesai, jadi lebih baik jangan menggangguku lagi. Permisi!"

__ADS_1


Rizal berdiri mematung, dia tidak tahu kenapa tiba-tiba bisa emosional dan temperamental seperti itu. Dia hanya melihat Zahra yang pergi dari hadapannya dengan berurai air mata. Rizal mengusap wajahnya kasar, setelah itu dia kembali masuk ke dalam kantor.


__ADS_2