Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Saling Mendoakan


__ADS_3

Zahra terus berjalan sampai di luar rumah sakit. Dia ingin pulang akan tetapi hujan sangat lebat. Hingga langkahnya terhenti dengan panggilan Reza.


"Zahra berhenti! Kamu mau kemana?" seru Reza berlari ke arahnya.


Zahra menoleh ke belakang. Dia melihat Reza yang terlihat khawatir. "Aku ingin pulang, Mas!"


"Kamu menangis? Apa Mama menyakitimu lagi?" tanya Reza dengan melihat wajah Zahra.


Zahra tersenyum tipis. "Aku tidak tahu kenapa Mama sangat membenciku. Aku mungkin memang pembawa sial, Mas!" ucap Zahra dengan wajah sendu.


"Kamu bicara apa? Dia hanya belum melihat ketulusan hatimu saja. Sepertinya Mama sudah mendapatkan atas kesalahannya padamu," balas Reza.


Zahra menengadah menatap Reza. "Apa maksudmu, Mas? Apa yang terjadi?"


"Mama terkena serangan jantung dan akan mengalami stroke. Beberapa bulan terakhir, dia mengalami darah tinggi. Jadi akibat kejadian yang dialami Rizal membuatnya syok."


Zahra kembali menunduk, dia merenung kembali.


"Kamu kenapa? Jangan bilang kalau kamu merasa bersalah! Zahra mereka sudah mendapatkan balasan atas perbuatannya. Viona mengalami koma pasca operasi. Dia melahirkan bayi perempuan dan sekarang sedang dirawat intensif di inkubator,"jelas Reza. "Rizal juga belum sadarkan diri, keadaannya sangat kritis," sambungnya.


Zahra menarik napas dalam, dia mencoba menenangkan rasa sesak yang ada dalam hatinya. "Mas, aku ingin pulang. Aku lelah!" sahut Zahra.

__ADS_1


"Baiklah, ayo aku antar kamu pulang! Istirahatlah, jangan berpikir macam-macam!"


Reza langsung mengantarkan Zahra untuk pulang ke rumah. Dia tahu apa yang tengah dirasakan oleh adik iparnya itu. Beberapa menit perjalanan, sampailah keduanya di villa.


"Zahra, kamu masuk ya! Aku akan kembali ke rumah sakit karena harus menemani Papa. Tidak mungkin aku membiarkan Papa sendiri di rumah sakit," ucap Reza. Dia masih berada dalam mobil bersama Zahra.


"Iya, Mas. Kamu hati-hati ya! Pelan-pelan saja, karena jalanan licin," jawab Zahra. Dia bersiap untuk keluar dari mobil. "Aku masuk dulu, Mas. Assalamualaikum," sambungnya.


"Waalaikumsalam," jawab Reza.


Zahra keluar dari mobil, kemudian masuk ke dalam rumah. Setelah itu Reza kembali ke rumah sakit.


Reza telah sampai di rumah sakit. Dia berjalan menuju ke ruang rawat ibu tirinya untuk menemui sang ayah. "Papa," panggil Reza.


Pak Roni menoleh, raut wajahnya tampak kelelahan sekali. Reza duduk di samping sang ayah. "Papa istirahatlah, biar aku yang berjaga di sini," ucap Reza pada ayahnya.


Pak Roni menghela napas panjang lalu mengembuskannya pelan. "Jadi beberapa bulan ini, apa kamu menyembunyikan Zahra?" tanya Pak Roni.


"Aku tidak menyembunyikan, Pa. Lebih tepatnya menyelamatkan. Aku tidak mau terjadi bahaya pada Zahra, karena aku menyayanginya," jawab Reza.


"Jadi kamu juga membohongi Papa, karena waktu itu kamu berkata tidak tahu keberadaan Zahra."

__ADS_1


Reza sedikit bersalah akan tetapi dia harus mengatakan semuanya. "Maaf Pa, aku sudah tidak jujur. Sepulang dari luar negeri, aku membeli sebuah villa tanpa sepengetahuan Papa. Awalnya aku ingin memberitahu Papa setelah villa itu di renovasi. Akan tetapi, ada sesuatu yang mendesak. Lalu aku mengurungkan niat untuk memberitahu Papa."


"Apa Papa marah kepadaku?" tanya Reza. Dia tidak ingin ayahnya salah paham.


"Tidak. Papa sangat mengerti maksudmu. Hanya saja, hal ini membuat Papa sedikit terkejut karena berbohong bukanlah sifat mu," balas pak Roni. "Sekarang, semuanya sudah jelas. Allah sudah menegur Mama dan juga adikmu. Papa hanya bisa pasrah dan menerima karena semua nasehat yang Papa berikan tidak pernah di dengar sedikitpun," sambung pak Roni dengan penuh kesedihan.


"Bagaimana tahap hubunganmu dengan Zahra? Apakah Zahra sudah menerimamu sebagai pengganti Rizal?"


Reza menatap ke depan dengan pandangan fokus. "Aku masih berusaha untuk meyakinkan hatinya, Pa. Tidak mudah untuk menjangkau hati Zahra. Masih ada keraguan dalam hatinya. Dia berkata kalau statusnya masih belum jelas. Meskipun, Rizal sudah menjatuhkan talak kepadanya, yang aku lakukan sekarang semata-mata hanya untuk melindunginya, Pa!"


"Kamu harus mengerti sikap Zahra. Jangan memaksakan kehendak. Mungkin akan sulit untuk dirinya menerima cinta yang baru. Kamu sendiri juga tahu bagaimana tulus dan kasih sayangnya kepada Rizal. Tetapi, Rizal justru menyia-nyiakan ketulusan itu. Kalaupun Zahra sudah melahirkan nanti, Papa tidak yakin dia mau kembali ke dalam keluarga ini. Dia pasti akan takut dengan Mamamu dan juga Viona," jelas pak Roni.


Reza termenung sesaat mencerna perkataan ayahnya. "Apa aku salah jika menginginkannya, Pa. Aku tidak bisa berpaling dari Zahra. Dari awal aku sudah jatuh hati padanya, Pa."


"Tidak salah jika status Zahra sudah jelas. Tapi kembali lagi kepada Zahra dia mau menerimamu atau tidak? Niatmu juga sudah baik, kamu mencukupi segala kebutuhan Zahra karena dalam kandungannya ada darah daging dari keluarga Narendra. Serahkan semua pada Allah karena, hanya dialah yang mampu menyelesaikan masalah ini dan memberikan yang terbaik pada kalian. Kalau kalian memang berjodoh, Papa yakin suatu hari nanti kalian pasti akan bisa bersatu. Sekarang kita hanya bisa berdoa untuk keselamatan Rizal dan juga istrinya, karena bagaimanapun juga mereka adalah anggota keluarga kita," jawab pak Roni dengan bijaksana.


"Iya Pa, aku akan menyerahkan semuanya pada Allah dan aku akan tetap berusaha untuk berbuat baik," balas Reza dengan tersenyum.


Pak Roni mengangguk-angguk. "Kamu memang anak Papa yang paling baik dan bijaksana. Seandainya Rizal mempunyai sifat seperti kamu pasti nasibnya tidak akan seperti ini. Tapi mungkin ini sudah takdir dan memang harus dijalani dengan sabar, mungkin juga ini ujian untuk Rizal."


Reza menghabiskan malam dengan berbincang dengan sang ayah. Hanya dengannya lah keluh kesah bisa tersalurkan, karena memang pak Roni memberikan kasih sayang yang penuh untuk anak semata wayangnya dari istri yang pertama.

__ADS_1


__ADS_2