Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Akhir Kisah Rizal


__ADS_3

Zahra sangat terkejut mendengar berita itu. Reza merangkul adik iparnya. "Bagaimana perasaanmu? Viona sudah mendapatkan balasan atas perbuatan yang dilakukan."


"Aku bersedih, karena dia telah meninggalkan bayi yang baru saja dilahirkannya. Hal itulah yang membuatku takut. Aku takut jika tidak bisa merawat bayi ini," ucap Zahra dengan menahan air matanya.


"Ssssst, kamu bicara apa? Kamu akan melahirkannya dengan sehat dan juga selamat. Insyaallah tidak akan ada halangan apapun. Kamu, jangan berpikiran buruk tentang apa yang belum terjadi," jawab Reza.


Pak Roni dilanda kebingungan. Dia harus segera mengurus pemakaman Viona. "Za, kamu di sini. Papa ingin mengurus pemakaman Viona. Papa titip Mama dan Rizal dulu. Bagaimana kamu mau 'kan?"


Reza mengangguk. "Baik Pa, aku akan menjaga mereka. Papa hati-hati ya!" jawab Reza.


Setelah itu pak Roni pergi untuk mengurus pemakaman Viona. Zahra segera membereskan rantang nasi itu dan menyimpannya kembali.


"Mas, aku ingin menengok bayi Viona!" ucap Zahra.


"Iya, apa perlu aku antar?"


Zahra menggeleng. "Tidak perlu, Mas. Biar aku ke sana sendiri. Mas, tetap di sini menjaga Mama," jawab Zahra.


Zahra melangkahkan kakinya menuju ke ruangan inkubator. Dia penasaran sekali dengan buah hati Rizal dan Viona. Beberapa menit berjalan, sampailah Zahra di depan ruangan itu. Dia melihat ke kaca dan mulai mencari nama orang tua bayi yang tertulis di papan kertas.


Mata Zahra menemukan nama Viona tertera di papan kertas tersebut. Dia melihat seorang bayi mungil yang sedang tidur dalam kotak inkubator. Zahra merasakan sakit di bagian dadanya. Sekilas dia mengingat penghianatan yang dilakukan oleh Rizal.


Sudah beberapa kali Zahra menarik napas dalam untuk melegakan sesak dalam dadanya. Tiba-tiba suara Reza membuyarkan lamunannya.


"Aku tidak yakin, jika kamu tidak meneteskan air mata," seru Zahra.


Zahra sedikit terkejut dia menghapus air matanya dan menoleh ke arah Reza. "Ternyata aku tidak bisa membunyikannya darimu, Mas!"

__ADS_1


Reza tersenyum. "Bukankah aku sudah bilang a kalau aku itu sudah tahu sifat dan watakmu. Jadi untuk apa kamu sembunyikan semua kesedihan itu?"


"Apa kamu membenci bayi itu?" tanya Reza.


"Apa maksudmu, Mas? Aku paling tidak bisa membenci seseorang, apalagi dia seorang bayi kecil mungil yang tidak berdosa. Walau tidak bisa aku pungkiri, ketika aku melihatnya muncul bayangan penghianatan itu dan menari-nari di depan mataku. Untung saja aku bisa menepis dan mengusir bayangan kelam itu dari pikiran ini. Kalau tidak mungkin dalam hatiku akan terus muncul kebencian tiada akhir," ucap Zahra dengan ketulusannya.


"Apa kamu tidak ingin menjenguk, Rizal? Kalau kamu menjenguknya kuatkan hatimu," ujar Reza.


Zahra menunduk dan berpikir sejenak. "Apa boleh aku menjenguknya, Mas?"


Reza tersenyum mendengar ucapan Zahra. "Apa kamu sedang meminta izin padaku? Jenguk lah, aku tidak apa-apa. Karena aku sudah mendapat jawaban atas perasaanku ini. Ya, meskipun jawaban itu belum aku dengar secara langsung. Tetapi aku yakin dengan hasil jawaban itu, tidak akan membuatku kecewa," jawab Reza dengan mengusap ujung kepala Zahra.


"Aku pergi ke sana dulu, Mas!"


Zahra beranjak dari ruang inkubator tersebut. Reza menatapnya dengan senyum di bibir. Dia bersyukur telah menyembuhkan luka hati Zahra. Reza juga sangat senang karena dia perlahan telah membuka hati untuknya.


Tidak membutuhkan waktu lama, Zahra sampai di ruangan Rizal. Dia membuka pintu secara perlahan, lalu masuk ke dalam dengan sangat hati-hati. Zahra melihat Rizal yang terbaring lemah tak sadarkan diri dengan tangan dan kaki yang di perban.


"Bangunlah Mas! Aku memaafkan semua kesalahanmu, aku sudah mengikhlaskan semuanya. Buah hatimu bersama Viona juga sudah lahir. Wajahnya cantik dan menggemaskan. Aku berharap suatu hari, mereka tumbuh bersama dan akur satu sama lain. Semoga mereka ketika dewasa nanti juga jauh dari perselisihan."


Zahra terus berbicara pada Rizal yang terpejam. Tak lama kemudian, dia sadar lalu memanggil nama Zahra dengan suara pelan dan sangat lirih.


"Zahra ... Zah-ra ...."


Zahra mendengar suara itu, dia segera berdiri dan melihat Rizal sadar. "Mas kamu sudah sadar. Alhamdulillah, aku panggilkan dokter ya!" Zahra memencet bel khusus untuk memanggil dokter jaga.


Rizal berusaha untuk berbicara pada istrinya. "Zah-ra ...."

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku di sini,"jawab Zahra. "Kamu ingin apa? Minum? Atau apa?" tanya Zahra bingung.


Rizal berusaha untuk menyampaikan maksudnya. "Zah-ra, ma-ma-afkan a-ku ... aku sa-lah, Zah-ra!"


Zahra mengangguk, dia menggenggam tangan Rizal. "Iya Mas, aku maafkan kamu. Kamu semangat sembuh ya, ada bayi lucu membutuhkan pelukannmu," jawab Zahra.


"Zah-ra, a-aku ti-tip ke-duua a-anakku. Ma-af a-ku ti-ddak bi-sa me-ra-watnya." Suara Rizal tersendat-sendat. Dia sangat kesulitan berbicara.


"Apa maksudmu, Mas? Kamu mau kemana? Kenapa kamu menitipkan bayi Viona padaku?" tanya Zahra, dengan mata berkaca-kaca.


"A-ku mo-hon ra-watlah ba-yi it-u. Sa-yangi di-a." Rizal menarik nafasnya, matanya membelalak lalu terpejam untuk selamanya.


"Mas, kamu kenapa? Mas, jangan membuatku takut! Mas, bangun Mas. Dokter, dokter tolong dokter. Dokter ...." Zahra berteriak memanggil dokter. Dia sangat panik sekali.


Tak lama kemudian, dokter datang dan masuk ke dalam. Reza juga ikut serta.


"Zahra, kenapa dengan Rizal?" tanya Reza.


"Mas Rizal, dia, dia pergi Mas. Dia pergi, dan menitipkan bayi Viona kepadaku," ucap Zahra dengan air mata berlinang.


"Sudah, kamu jangan menangis. Kita tunggu hasil pemeriksaan dokter."


Reza memeluk dan menenangkan Zahra. Mereka melihat dokter yang sedang berusaha menolong Rizal. Akan tetapi takdir berkata lain. Dokter menyerah dan mencopot oksigen dari mulut Rizal.


"Maaf, pasien sudah meninggal dunia!" ucap dokter itu.


Zahra menutup mulutnya, dia menangis dalam pelukan Reza. "Mas Rizal, dia pergi, Mas! Mas Rizal."

__ADS_1


"Sudah mungkin ini sudah menjadi takdir Rizal. Kita doakan saja, semoga semua dosanya terampuni dan di terima di sisi Allah."


Berakhirlah kisah cinta antara Rizal dan Zahra. Semua perbuatan pasti ada sebuah balasan. Jadi selalu berbuat baiklah, agar kita semua mendapatkan kebaikan juga.


__ADS_2