
Reza berdiri di samping Zahra yang menangis pilu. Dia tidak berani untuk menyentuh, padahal dalam hatinya sangat ingin merengkuh Zahra ke dalam pelukannya. Namun, Reza tahu diri bahwa dia tidak pantas jika melakukan itu.
"Zahra, berhenti menangis. Ingat, ibu hamil tidak boleh stres. Kamu tidak ingin kan, kalau bayi yang ada di dalam kandunganmu itu ikut bersedih," ucap Reza, dia mencoba untuk menenangkan adik iparnya.
"Mereka semua keterlaluan, Mas. Aku sudah mengalah, aku sudah pergi dari kehidupannya. Tetapi kenapa mereka tidak berhenti untuk menggangguku. Aku hanya ingin hidup bahagia meski pada akhirnya aku tidak bisa bersanding dengan Mas Rizal. Aku ingin hidup tenang agar bisa merawat dan menjaga kandunganku hingga masa persalinan nanti. Tapi yang ada semua terasa sulit mereka selalu menyakiti hatiku," ucap Zahra, dia masih terisak.
Reza duduk di samping Zahra. Dia mencoba untuk terus menghiburnya. "Mulai sekarang kamu harus merubah sifatmu. Jadilah kuat untuk melindungi bayi yang ada di dalam kandunganmu. Jangan mau terus-terus ditindas oleh mereka," ucap Reza.
"Ingin sekali aku menjadi kuat, Mas! Tapi apa daya aku tidak bisa melakukan itu. Aku tidak ada bakat," sahut Zahra.
"Ya sudah sekarang lebih baik kamu makan siang. Aku ada bawain sesuatu buat kamu, dan ini sangat bergizi untuk ibu hamil. Makan ya!" Reza menyiapkan makan siang dan dibelinya untuk Zahra.
Setelah itu Zahra menerima makanan tersebut Lalu memakannya. "Terima kasih atas bantuan dan semua dukunganmu, Mas. Secara tidak langsung aku sudah bergantung padamu," ucap Zahra, dengan nada lemas.
Reza tersenyum dan menjawab, "Aku suka kok kamu bergantung padaku. Aku suka kalau kamu mau minta tolong padaku. Jadi, jangan pernah sungkan untuk mengatakan apa yang kamu mau. Sebisa mungkin aku akan membantumu dan mewujudkan semuanya."
Reza senang karena Zahra sudah sedikit terbuka padanya. Reza tidak menampik perasaannya pada Zahra. Dia masih berharap ada takdir yang bisa mengikatnya dengan Zahra.
Di Tempat Lain.
Viona dan ibu mertuanya keluar dari rumah sakit itu. Bu Silvi marah-marah karena ditentang oleh Zahra. "Dasar wanita tidak tahu diri. Mama tidak bisa terima dihina seperti ini. Aku akan memastikan kalau dia tidak akan pernah kembali di sisi Rizal," ucap Bu Silvi geram.
"Mama tenang saja tidak usah kesal seperti itu. Aku sudah mempunyai rencana yang sangat bagus. Tadi aku merekam ucapan Zahra yang terlihat menghina Mama tadi. Tinggal memberikan rekaman ini pada Rizal. Aku sangat yakin Rizal pasti akan marah dan melabrak si Zahra itu," sahut Viona dengan senyuman licik.
Bu Silvi tergelak mendengar ucapan Viona. "Bagus sayang kamu memang pintar, menantu Mama itu harus secerdas ini. Baiklah, kalau begitu kita sekarang langsung pergi ke kantor Rizal, karena ini sudah jam istirahat. Mama yakin Rizal pasti akan sangat marah setelah mendengar rekaman ini."
Setelah itu, Viona dan Bu Silvi meninggalkan rumah sakit dan langsung menuju ke kantor Rizal. Jarak kantor dan rumah sakit tidak terlalu jauh. Hanya dalam waktu 20 menit, mereka sampai di kantor Rizal.
Mereka masuk ke dalam dan langsung menuju ke ruangan Rizal. Sesampainya di dalam Bu Silvi langsung pura-pura menangis. "Rizal, hati Mama sakit! Kamu harus memberi pelajaran pada Zahra. Padahal maksud Mama baik menjenguknya di rumah sakit. Tetapi wanita itu justru menghina Mama dan mendoakan yang buruk," ucap Bu Silvi dengan air mata palsunya.
"Iya Sayang, tadi aku ke rumah sakit sama Mama. Eh, si Zahra menyambut dengan buruk bahkan sangat ketus," ucap Viona memperburuk keadaan.
Rizal masih diam sembari merapikan mejanya. Setelah rapi dia pun menanggapi perkataan ibu dan juga istrinya. "Apa dia seberani itu sekarang?" tanya Rizal datar.
__ADS_1
"Iya, aku sempat merekam ketika dia menghina Mama." Viona pun memutar rekaman suara itu kepada Rizal.
Mendengar rekaman itu membuat Rizal geram. "Jadi dia masih mengelak dan tidak mau jujur dengan sikapnya," ucap Rizal.
"Kamu harus tegas, Sayang. Dia sudah keterlaluan sekali. Apalagi tadi Mas Reza datang ke juga di sana," imbuh Viona.
"Mas Reza? Jadi mereka masih sering bertemu."
"Iya, mungkin sekarang masih di sana masih ada di sana." Viona terus memprovokasi Rizal.
Rizal beranjak dari tempat duduknya. Dia menyambar handphone dan langsung pergi menuju ke rumah sakit. Bu Silvi menghapus air mata palsunya. Mereka tertawa penuh kemenangan.
"Habislah kamu Zahra, kali ini Rizal akan benar-benar murka," cibir Viona dengan senyum seringainya.
"Kamu benar, Sayang. Bagaimana akting Mama tadi? Sudah sangat pas kan?"
"Akting Mama top banget, sudah seperti aktris pemain sinetron," balas Viona.
"Kalau begitu kita pulang saja menunggu berita selanjutnya dari Rizal. Mama capek hari ini." Bu Silvi pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Rizal bersama dengan Viona.
Di Tempat Lain.
"Mas Reza, aku tahu kamu menyukai Zahra. Tapi bukan seperti itu caranya, statusnya masih istriku. Jadi kamu tidak berhak atas dirinya," ucap Rizal, dia sangat geram sekali.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di rumah sakit. Rizal langsung memarkirkan mobilnya dan dengan langkah cepat dia masuk menuju ke ruang rawat Zahra.
Kini Rizal telah sampai di depan pintu. Dia mendengar suara Reza dan Zahra yg sedang tertawa. Rizal pun mendobrak pintu itu dengan kasar.
"Kalian ...." teriak Rizal penuh emosi.
Zahra dan Reza sontak terkejut. Rizal berjalan menghampiri kakaknya, lalu dengan sekuat tenaga dia memukul wajah Reza. "Kamu adalah seorang kakak yang tidak bermoral. Zahra masih belum resmi bercerai dariku. Tapi kamu sudah berani menunjukkan kedokmu. Hah!"
Zahra berteriak melihat Rizal menghajar kakaknya, "Mas stop, jangan berkelahi di sini. Mas Reza hanya membantuku. Kamu jangan salah paham, Mas!"
__ADS_1
Rizal bangkit lalu mendaratkan tangannya ke pipi Zahra. "Diam kamu Zahra, aku tidak mengizinkanmu berbicara di sini."
Zahra memegang pipinya yang sakit, air matanya kembali mengalir. "Mas kamu memukulku lagi," ucap Zahra sedih.
Melihat Zahra ditampar membuat Reza marah. Dia bangkit dan langsung memukul Rizal hingga terjungkal di lantai. "Brengsek kamu Rizal, jangan pernah lagi kamu menamparnya. Singkirkan tanganmu itu," teriak Reza.
"Kamu keterlaluan, sifatmu sudah seperti monster dan sulit dikendalikan. Matamu sudah tidak bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Kamu tidak pantas disebut seorang suami yang bertanggung jawab." Reza terus memukuli Rizal.
"Berhenti, aku mohon kalian berhenti berkelahi." Zahra terus berteriak kepada Rizal dan Reza yang terus memukul satu sama lain.
Rizal bangkit kembali, dia tidak terima terima jika terus dipukuli oleh kakaknya. "Kamulah yang brengsek, beraninya kamu menghancurkan rumah tanggaku. Beraninya kamu menghamili istriku. Bilang sama aku jika semua itu benar," teriak Rizal pada kakaknya.
"Memang kenapa kalau aku menghamili Zahra? Lebih baik kamu segera ceraikan dia, karena Zahra terlalu baik untuk seseorang yang plin-plan sepertimu," seru Reza dengan suara lantang.
"Mas Reza berhenti, jangan teruskan lagi!"
"Mas yang dikatakan Mas Reza itu salah, aku tidak pernah melakukan itu. Aku tidak pernah mengkhianatimu, aku tidak berbohong, Mas." Zahra masih berusaha menjelaskan kesalahpahaman itu.
Rizal terduduk lemas ketika mendengar ucapan Reza. Hatinya semakin bergemuruh dengan emosi yang meluap-luap. "Akhirnya kamu mengaku juga. Zahra ternyata kamu serendah itu."
"Mas aku tidak pernah melakukan hal itu, kamu harus percaya padaku. Kenapa kamu berubah Mas? Mana sikapmu yang dulu?" ucap Zahra memelas.
Reza berdiri dan menjauh dari Rizal. "Zahra percuma kamu menjelaskan padanya. Mata hatinya sudah penuh dengan hasutan," sahut Reza.
"Diam kamu Mas! Kenapa kamu berbicara seperti itu? Perkataanmu itu sama saja dengan kalau kamu sedang memfitnahku," teriak Zahra.
"Baiklah semuanya sudah jelas. Mulai sekarang kamu bukan lagi istriku, aku akan menceraikanmu Zahra. Aku akan cepat mengurus perceraian kita," ucap Rizal, setelah itu dia keluar dari ruangan itu.
Zahra mengelus perutnya, sepertinya dia sudah tidak ada harapan lagi untuk memperbaiki rumah tangganya.
"Zahra, maaf aku terpaksa mengatakan itu. Aku tidak mau mereka terus ...."
"Diam, aku tidak mau mendengar apapun. Sekarang kamu pergi dari sini, kamu pergi dari sini," teriak Zahra dengan penuh rasa kecewa.
__ADS_1
Reza langsung terdiam, dia pasrah sekarang. "Zahra, maafkan aku. Aku terpaksa mengatakan itu karena aku tidak mau mereka menyakitimu. Inilah yang mereka inginkan," ujar Reza sebelum dia pergi.
Zahra menutup kedua telinganya, dia tidak ingin mendengar apapun dari mulut Reza.