
Hampir dua jam Reza melajukan mobilnya menuju ke villa yang berada di luar kota. Kini dia melewati perkebunan teh, karena memang letak villanya berada di kompleks perkebunan. Zahra sudah tidur sepanjang jalan. Sesekali dia merintih merasakan nyeri di tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, Reza sampai juga di area villanya. "Zahra bangun kita sudah sampai," ucap Reza pelan.
Pelan-pelan cara mengerjapkan matanya. Dia melihat sekeliling dan bertanya, "Ini dimana, Mas?" tanya Zahra.
"Ini rumah baruku, yang baru aku beli beberapa bulan yang lalu. Rumah ini nantinya akan ditempati oleh seorang yang akan mendampingi hidupku," jawab Reza.
"Apa tidak apa-apa kalau aku tinggal di sini?"
"Tidak apa-apa, karena kamulah orang itu." Reza terus menunjukkan rasa perhatiannya. "Ayo turun kita masuk ke dalam. Rumah ini sudah ada asisten rumah tangga. Jadi kamu ada yang menemani, karena aku harus kembali ke Jakarta," sambung Reza.
"Sebentar Mas, tubuhku sakit semua." Zahra meringis dengan menitikkan air mata. Dia ingat ketika disiksa oleh ibu mertuanya.
"Zahra, aku mohon jangan menangis. Hatiku ikut sakit jika kamu menangis. Sekarang kamu fokuskan pikiranmu dengan kesehatan bayi yang ada dalam kandunganmu itu. Kamu tidak usah pikirkan biaya atau apapun, karena aku yang akan menanggung semuanya. Tenangkan pikiranmu di sini ya. Kamu harus berjuang, agar buah hatimu itu terlahir sehat di dunia tanpa kekurangan apapun."
Zahra menoleh ke arah Reza. Dia mengangguk lalu tersenyum tipis. "Baiklah Mas, aku bergantung padamu sekarang. Semoga kamu tidak bosan karena selalu aku repotkan," ucap Zahra.
Reza mengangguk dan tersenyum senang. "Aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu," balas Reza, dengan mengusap air mata Zahra.
Setelah itu mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah. Zahra disambut baik oleh asisten rumah tangga yang ada di sana. Reza membawa Zahra ke kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
"Kamu istirahat sebentar nanti setelah sedikit membaik, kamu segera mandi agar terlihat bersih. Kalau butuh apa-apa kamu tinggal bilang dengan Bi Ani. Jangan sungkan dan jangan mengerjakan apapun. Kamu harus beristirahat total seperti apa yang dikatakan dokter."
" Aku pulang, ya. Semoga kamu betah di sini, nanti kalau tidak sibuk aku akan sempatkan untuk ke sini. Jika kamu ingin apa atau membutuhkan sesuatu bilang saja biar aku bawakan sekalian," ucap Reza berpesan pada Zahra.
Zahra mengangguk mengiyakan, setelah itu Reza keluar dari kamar. Sesampainya dibawah Reza berpesan kepada asistennya. "Bi aku tinggal Zahra di sini. Tolong jaga dia dengan baik, mungkin aku tidak setiap saat ke sini. Tolong juga hibur dia, Bi. Jangan biarkan Zahra melamun atau berpikiran sedih," ucap Reza.
"Baik Den. Akan Bibi ingat pesan, Den Reza," jawab Bi Ani.
"Kalau begitu aku pergi dulu, Bi. Ingat pesanku tadi ya," seru Reza. Setelah itu dia keluar dan kembali ke Jakarta.
Reza langsung pulang karena tidak ingin semua orang curiga. Jadi Reza sebisa mungkin menjauhkan Zahra dari keluarganya. "Semoga kamu betah di sini, Zahra. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku akan berusaha untuk memberikan yang terbaik untukmu," gumam Reza dalam hati. Selanjutnya, dia melajukan kembali mobilnya.
Perjalanan pulang ke Jakarta membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam. Sebenarnya Reza ingin juga menemani Zahra. Akan tetapi dia tahu posisinya tidaklah pantas jika berada di sisi Zahra karena belum ada ikatan apapun.
4 Jam Kemudian.
Tempat pukul jam 08.00 malam Reza sampai di rumah. Dia melihat mobil Rizal terparkir di halaman. Reza langsung masuk ke dalam tanpa memperdulikan itu. Sesampainya di dalam, Reza disambut oleh adiknya.
"Berhenti! Dari mana kamu? Mana Zahra?" seru Rizal dengan nada emosi.
Reza menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan lagi langkahnya. Rizal pun tidak terima dengan sikap Reza yang mengabaikannya. Dia berusaha mencegah dengan menghentikan sang kakak.
__ADS_1
"Aku bilang berhenti! Dimana Zahra?" tanya Rizal sekali lagi.
Reza tergelak. "Apa aku tidak salah dengar? Kamu menanyakan Zahra padaku? Seharusnya kamu yang lebih tahu. Perlakuanmu pada Zahra tidak bisa dimaafkan. Kalian semua keterlaluan, aku tidak akan memaafkan kepada siapapun yang menyakiti Zahra. Jika kamu tidak becus membahagiakannya, maka cepatlah lepaskan dia. Agar aku bisa memberinya kebahagian," ucap Reza, dengan menghina Rizal.
"Jangan mimpi kamu bisa memiliki Zahra, karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskannya. Dia hanya akan menjadi milikku," teriak Rizal penuh emosi.
"Terserah apa katamu, yang pasti aku tidak tahu dimana Zahra. Silakan kamu cari sendiri, aku tidak akan ikut campur. Semuanya tidak akan menjadi seperti ini jika dulu kamu mendengarkan penjelasanku. Tapi semua terlambat, nasi telah menjadi bubur. Kamu lebih memercayai orang baru daripada istrimu sendiri," seru Reza. Setelah itu dia langsung naik ke atas menuju kamarnya.
"Brengsek, sial! Ahhh, Zahra kamu dimana? Aku ingin kamu Zahra, aku ingin kamu ada di sini." Rizal menangis terisak. Dia mengingat semua perlakuan buruknya ke Zahra.
Pak Roni muncul dari atas, di berpapasan dengan Reza yang juga memilih bungkam. Lalu, dia turun dan berbicara kepada Rizal.
"Rizal, kamu harus menerima semua ini. Bukankah ini yang kamu mau? Dari awal kamu sudah kehilangan Zahra. Jadi sebaiknya kamu introspeksi diri dan jangan lakukan lagi kesalahan yang sama," tegur Pak Roni.
"Aku akan menemukan Zahra, Pa. Aku tidak akan membiarkannya dia pergi. Zahra hanya lah milikku, hanya milikku seorang," ucap Rizal penuh percaya diri.
"Papa sarankan sebaiknya kamu pulang ke rumahmu. Viona sedang membutuhkanmu sekarang. Kamu harus ingat kata-kata Papa. Jangan mengulangi kesalahan yang sama Rizal, karena itu akan menjadi bumerang untukmu sendiri," tegas pak Roni.
Rizal diam merenungi perkataan ayahnya. Dia menyadari kalau sikapnya memang sudah sangat keterlaluan. Itulah yang membuatnya menyesal. Rizal memandangi kedua tangannya.
Tangan itu pernah dia gunakan untuk menampar wajah Zahra. Mengingat itu membuatnya sangat terpukul. Dia semakin bersalah jika mengingat Zahra menangis tak berdaya.
__ADS_1
"Zahra maafkan aku! Aku menyesal, aku salah. Kembalilah padaku, Zahra. Aku ingin kamu kembali. Ke mana lagi aku harus mencarimu. Aku ingin sekali bertemu denganmu Zahra." Rizal kembali terisak. Dia sangat frustasi sekali. Di dalam hati dan pikirannya sekarang hanya ada Zahra. Rizal berpikir keras, bagaimana caranya untuk menemukan Zahra lagi.
Dari lantai atas Reza memperhatikan sikap Rizal yang telah menyesali perbuatannya. "Meski kamu telah menyesal. Aku tidak akan pernah memberitahumu, dimana Zahra? Akulah yang akan membahagiakan Zahra. Aku tidak akan membiarkan dia kembali padamu Rizal. Kesalahan terbesarmu adalah menyia-nyiakannya," gumam Reza dalam hati. Dia sangat lah membenci adiknya itu.