Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Kehangatan


__ADS_3

Satu jam berlangsung, Reza telah mengakhiri aksi perjuangannya dengan sang istri. Kini dia tidur dengan memeluk Zahra dalam satu selimut. Penyatuan ini adalah pertama kalinya untuk Reza. Jadi dia begitu bersemangat dan membuat Zahra kelelahan.


Hari masih sore, kedua pengantin baru itu masih enggan beranjak dari ranjang. Hingga Zahra terbangun duluan, dia membuka mata dan merasakan tangan Reza melingkar kuat di pinggangnya.


Zahra dengan pelan-pelan menyingkirkan tangan suaminya. Akan tetapi tangan itu kembali melingkar dan justru semakin erat. "Mas, biarkan aku turun. Aku ingin pergi ke kamar mandi. Kamu tahu badanku terasa sangat lengket sekali," ucap Zahra protes.


"Nanti saja mandinya, Sayang. Temani aku dulu, jangan bergerak! Aku ingin memelukmu lebih lama," ucap Reza dengan menahan istrinya.


Zahra tidak bisa berbuat apa-apa. Dia terus bergerak hingga Reza kembali menegurnya. "Sayang, diam lah. Jika kamu terus bergerak nanti dia bisa bangun lagi, dan ketika dia bangun kamu harus menjinakkannya kembali," ucap Reza pelan, tetapi mampu membuat Zahra langsung diam tidak bergerak.


"Kenapa diam, Sayang? Bergeraklah, aku suka jika kamu banyak bergerak." Reza terus menggoda istrinya.


Zahra menarik napas dalam. "Mas, ternyata kamu mesum juga. Kenapa bisa kamu menyembunyikannya dengan begitu rapi?"


Reza semakin bersemangat menggoda istrinya. Dia mencium lembut punggung Zahra dari belakang. "Aku juga lelaki normal, Sayang. Apalagi sekarang kita sudah halal untuk melakukan apapun. Jadi tidak ada salahnya jika aku mesum kepadamu," jawab Reza dengan santai.


"Iya, Mas. Aku tidak masalah, tapi izinkan aku ke kamar mandi dulu. Aku juga mau ambil minum."


"Baiklah, kamu boleh pergi. Tapi jangan lama-lama, karena aku tidak bisa berjauhan denganmu walau sedetik saja," ucap Reza hingga membuat Zahra gemas.


"Iya-iya, kenapa berubah menjadi manja sekali? Apa kamu mau saingan dengan Sazhia, Mas?" seru Zahra, dia bangun dan memakai kimono.


Reza menggeliatkan badan lalu menjawab, "Tentu saja tidak, Sayang. Mana mungkin aku saingan dengan anakku sendiri. Cepat sana pergi ke kamar mandi, sebelum aku berubah pikiran untuk menerkammu lagi."


Zahra langsung bergegas pergi dari hadapan suaminya. Dia benar-benar menemukan sosok lain dari diri Reza. 20 menit kemudian, Zahra selesai mandi. Dia keluar dengan rambutnya yang basah.


Reza sendiri masih berbaring di ranjang. Zahra menghampirinya dan ikut naik. "Mas, kamu tidak bangun mandi?" ucap Zahra pelan.


"Aku masih ngantuk, mandinya nanti saja," jawab Reza. Dia memindahkan kepalanya di atas pangkuan Zahra.


"Sayang, kamu wangi sekali. Membuatku ingin ...."


Zahra melotot. "Ingin apa? Aku baru saja mandi Mas dan perutku sangat lapar sekali. Aku ingin makan, terus aku kangen sama Sazhia, Mas," ucap Zahra dengan bibir mengerucut.

__ADS_1


"Ya aku tahu besok kita pulang, ya. Aku ingin meluangkan waktuku bersamamu sehari saja," balas Reza.


"Mas aku lapar."


"Kamu ingin makan apa? biar aku pesan sekarang kita delivery saja ya!" ujar Reza, dia mengambil handphonenya dan segera melakukan delivery.


"Kamu pesan terserah, apa saja yang penting aku bisa makan. Tapi kamu mendingan mandi deh Mas, bau tahu!" sindir Zahra karena suaminya yang terus menempel.


Reza mendongak ke arah istrinya lalu tersenyum penuh arti.


"Apa senyum-senyum? Tidak pernah melihat wanita cantik, Hem?" Zahra membalas tatapan mata suaminya.


Reza terus tersenyum tanpa menghiraukan ucapan Zahra.


"Mas, kamu kenapa? Jangan membuatku merasa aneh!"


"Cium aku, Zahra! Ayo cepat, nanti aku aka segera mandi!" ucap Reza penuh harap.


Zahra menarik napas dalam. "Duduklah!"


Kecupan pertama di dahi. "Cepatlah mandi."


Kecupan kedua di pipi kanan dan kiri. "Cepatlah mandi!"


Kecupan terakhir di bibir. "Cepatlah mandi," ucap Zahra. Dia mengecup bibir suaminya dengan lembut.


Akan tetapi muncul kejailan Reza sehingga dia menekan ciuman itu sangat dalam. Bahkan sulit bagi Zahra untuk bernapas.


Beberapa detik berlalu, akhirnya Reza melepaskan tautan bibirnya dan membuat Zahra tersengal. "Mas, kamu keterlaluan. Apa kamu ingin membuatku kehabisan oksigen?" dengus Zahra kesal.


"Itu karena kamu sangat menggemaskan melebihi Sazhia," balas Reza.


Zahra cemberut karena ulah suaminya. Dia berpura-pura marah dengan memalingkan wajah.

__ADS_1


"Sayang, kamu marah? Maafkan aku kalau membuatmu kes ...."


Zahra memotong ucapan Reza. Dia langsung menggelitiki perut suaminya, dan setelah itu kabur. "Sayang, berhenti. Geli tahu, Sayang berhenti! Jangan mencoba untuk memancingku!" seru Reza dengan tertawa keras.


"Rasakan itu!" Zahra langsung turun dari ranjang dan segera keluar dari kamar.


"Zahra awas kamu nanti malam! Aku tidak akan mengampunimu," teriak Reza dalam kamarnya.


Zahra turun ke lantai bawah untuk menunggu delivery datang. Sebelum itu dia menanyakan kabar Sazhia dan Keynara pada mertuanya di rumah. Ternyata kedua putrinya sangat tenang dan tidak rewel sama sekali. Tentu saja hal itu membuat Zahra senang dan kekhawatirannya pun hilang.


Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi. Zahra segera membuka pintu dan menerima pesanan makanannya. Dia segera menuju ke dapur untuk mempersiapkan makan malam.


Setelah semua siap, Reza turun dari atas dengan mengenakan baju santai. Dia langsung menuju ke meja makan.


"Sudah siap kenapa kamu tidak memanggilku turun?"


Zahra melirik ke arah suaminya yang terlihat cemberut. "Aku baru saja mau pergi ke atas, Mas. Tapi aku melihat kamu sudah turun ya sudah tidak jadi," ucap Zahra.


"Kalau begitu aku balik ke atas lagi, nanti kamu panggil aku turun."


"Mas, kamu mau melawak kah? Sudah tidak usah seperti anak balita. Sekarang duduk biar aku yang melayanimu."


Reza membalikkan badan lalu segera duduk untuk makan bersama istrinya.


"Ini buat suamiku, dan ini untukku sendiri. Ayo cepat makan, Mas. Apa kamu tidak ingin ronde selanjutnya?" seru Zahra dengan mengunyah makanannya.


Reza berhenti mengunyah ketika mendengar kata ronde. "Baiklah kalau begitu, aku akan segera makan. Aku ingin beberapa ronde sampai pagi," balas Reza dengan penuh semangat.


Zahra menggeleng, dia dibuat heran dengan keinginan Reza yang menurutnya terlalu over. Tapi Zahra memaklumi itu, karena hal ini adalah yang pertama jadi wajar jika Suami menginginkan lebih


"Mas, pelan-pelan makannya, jangan membuatku semakin takut."


Reza menatap mata Zahra. "Takut? Kamu takut apa, Sayang?"

__ADS_1


Zahra menunduk. "Mas sudahlah, aku sangat malu mengatakannya. Cepat makan dan jangan banyak bicara," ucap Zahra pada Reza.


Reza hanya tersenyum, dia sudah tahu apa yang dimaksud Zahra. "Maafkan aku, Sayang. Aku semakin terobsesi setelah kita menikah. Entah kenapa muncul kecemburuan di hatiku ini. Semoga pemikiranmu tidak sama dengan apa yang aku pikirkan, Zahra," gumam Reza dalam hati.


__ADS_2