Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Menjadi Yang Terbaik


__ADS_3

Setiap hari Reza mendengar semua pertengkaran yang terjadi di keluarganya. Kekacauan itu terjadi sejak Reza memutuskan untuk menyembunyikan Zahra dari mereka semua. Reza bersandiwara seolah-olah tidak tahu apapun. Dia tidak membeberkan rahasianya kepada orang lain walaupun dengan ayahnya sendiri.


Di dalam rumah itu hanya ada ketegangan dan adu mulut. Akan tetapi Reza tidak mempedulikan semua itu. Dia selalu terlihat tenang tanpa menunjukkan kerisauan sedikitpun. Reza hanya menikmati penyesalan adiknya yang masih berusaha untuk mencari Zahra.


Pernah suatu hari Rizal mengikuti kakaknya keluar kota. Untung saja, Reza cepat mengetahui hal itu. Jadi rahasianya tetap aman. Dia berhasil mengalihkan kecurigaan Rizal terhadapnya.


Reza menjenguk Zahra di setiap akhir pekan. Apalagi kandungan Zahra sudah mulai membesar. Usia kandungan Zahra sudah memasuki 5 bulan. Reza selalu memantau kehamilan adik iparnya itu. Dia selalu memenuhi apa yang Zahra perlukan.


Reza keluar dari kamar dan turun menuju ke lantai bawah. Pak Roni menyapa dan bertanya kepadanya, "Mau kemana kamu, Reza? Ap kamu tida pergi ke kantor hari ini?"


"Tidak Pa, aku hari ini mau bertemu teman," jawab Reza.


"Reza apa kamu masih tidak ingin membantu Rizal? Dia sudah sangat kesulitan menangani perusahaannya.


Reza terdiam sejenak, sudah berulang kali sang ayah memintanya untuk membantu Rizal yang sedang kesulitan. Akan tetapi Reza tidak mau dan dengan tegas menolak.


"Meski beberapa kali Papa memohon, keputusanku tetap sama. Aku tidak akan pernah membantu Rizal dalam hal apapun. Jadi Papa jangan paksa aku," ucap Reza dengan tetap sopan.


"Maaf, Pa aku harus segera pergi." Setelah menjawab pertanyaan ayahnya, Reza langsung pergi. Dia tidak


ingin emosi lagi.


Sesampainya di luar, Reza langsung melajukan mobilnya. Dia sudah tidak sabar bertemu dengan Zahra. Meski belum bisa memilikinya, membuat Reza tetap bersabar untuk menunggu sampai Zahra benar-benar dilepaskan oleh Rizal. Paling tidak Reza menunggu sampai Zahra melahirkan bayinya nanti.


Setiap akhir pekan Reza selalu menghabiskan waktunya di villa. Dia tidak pernah menginap sekalipun. Reza tetap menghargai Zahra yang masih berstatus sebagai istri orang. Perjalanan 8 jam pulang pergi rela ditempuh. Itu Reza tunjukkan sebagai rasa perhatiannya terhadap seseorang yang sangat penting dalam hatinya.

__ADS_1


Reza datang membawa baju hamil untuk Zahra. "Semoga Zahra suka dengan baju yang kubawa ini. Ya meski dia selalu menolak, tak akan membuat aku berhenti untuk membelikannya," gumam Reza. Kini dia sudah sampai di area halaman villanya.


Reza turun dari mobil sembari membawa 2 paper bag yang berisi pakaian. Dia berjalan masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum," seru Reza mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam," sahut Zahra dari dalam.


Reza meletakkan paper bag itu di meja dan segera menuju ke dapur untuk melihat Zahra.


"Kamu sedang apa Zahra?" tanya Reza.


"Aku sedang memasak makan siang buat kamu, Mas," jawab Zahra dengan tersenyum.


Reza sangat bahagia meski belum memiliki sepenuhnya. Dia sudah bersyukur sekali diberi kesempatan untuk membuat wanita pujaannya itu tersenyum.


"Berkali-kali aku sudah bilang padamu, Zahra. Jangan terlalu capek, ingat kalau kamu kecapean efeknya bagaimana?" seru Reza. Dia kesal karena Zahra selalu keras kepala jika dilarang untuk beraktivitas.


"Sudah kamu duduk sana, biar aku siapkan untukmu. Sana duduk di meja makan." Zahra mendorong pelan punggung kakak iparnya itu untuk keluar dari dapur.


Reza hanya bisa diam dan menuruti perkataan bumil itu. Dia tidak bisa mengelak atau protes jika Zahra sudah mengeluarkan ultimatumnya. Di dapur Zahra mengeluarkan semua masakannya itu. Di usia kehamilan yang semakin berkembang membuatnya lebih sehat. Tentu saja Zahra sangat bersyukur karena Reza selalu memberikan suport dan semangat untuknya.


"Ini buat kamu, Mas. Semoga suka!" ucap Zahra sembari menyodorkan piring yang berisi nasi dan juga lauk pauknya.


"Aku akan selalu menyukai masakan calon istriku!" celetuk Reza.


Zahra tersenyum tipis. "Statusku masih istri adikmu, Mas. Ingat itu!" sahut Zahra.

__ADS_1


"Bagiku kamu sudah berpisah dari Rizal, karena dia sudah mengatakan kata cerai berkali-kali untukmu," jelas Reza. Dia selalu panas ketika mengingat tentang adiknya.


"Bagaimana kabarnya, Mas? Apa dia baik-baik saja?"


Reza yang mulai makan meletakkan kembali sendoknya. "Aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu?" jawab Reza singkat.


"Aku tahu kalau kamu masih merindukannya. Bi Ani pernah bilang, kalau kamu sering melamun di dekat jendela dengan pandangan kosong. Aku tahu kalau kalau kamu sedang memikirkannya," ucap Reza dengan hati yang penuh sesak.


"Maaf, Mas. Jujur terkadang timbul dasar rindu di hati ini. Aku tidak tahu ini perasaan apa? Tapi di saat perasaan itu muncul, dalam lubuk hatiku yang terdalam tiba-tiba teringat bagaimana perlakuannya padaku? Terkadang, aku menginginkan dia berada di sisiku, mengelus perut ini dengan penuh kasih sayang. Tapi perasaan itu dikalahkan oleh perlakuan buruknya terhadapku. Aku sangat kasihan dengan anak ini, dia tidak tahu apa-apa. Bahkan saat kehadirannya justru kebahagiaan itu menghilang," ucap Zahra penuh dengan kepiluan.


"Zahra, cari awal aku sudah siap untuk menjadi ayah dari anak yang kamu kandung. Aku akan menikahimu setelah kamu melahirkan nanti. Di saat kamu sudah resmi bercerai dengan Rizal, aku akan mengambil alih posisi itu. Jadi aku mohon lepaskan belenggu masa lalumu itu. Agar tidak menunda kebahagiaanmu, karena kamu pantas untuk bahagia. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan dan akulah yang akan mewujudkan itu," balas Reza dari lubuk hati yang paling dalam.


"Sekarang aku tanya, bagaimana perasaanmu padaku? Sudahkah perasaan itu muncul walaupun hanya sedikit saja? Aku hanya ingin tahu agar hati ini sedikit tenang," sambung Reza.


Zahra terdiam, dia menunduk dan tak tahu harus memberi jawaban apa. Dia tidak bisa menjawab karena belum yakin dengan perasaannya sendiri. Zahra sangat tenang ketika Reza memberikan perhatiannya. Akan tetapi jauh dalam lubuk hatinya masih menyimpan sedikit kerinduan pada Rizal.


"Maaf Mas, aku belum yakin dengan perasaan ini. Jadi aku belum bisa menjawab pertanyaanmu. Aku masih sadar dengan statusku yang masih belum jelas ini. Bersabarlah! Serahkan semuanya pada Allah, bagaimana kedepannya nanti?" jawab Zahra.


Reza tersenyum dan mengangguk dia mengerti apa yang ada di dalam pikiran Zahra. "Ya tentu saja aku akan lebih bersabar lagi, karena aku tahu mendapatkanmu itu tidak akan mudah," sahut Reza.


"Makan dulu, Mas. Nanti masakan aku sia-sia kalau kamu terus bicara seperti itu."


"Iya aku akan makan. Aku akan menghabiskan semua makanan ini. Jadi kamu tidak perlu merasa mubazir lagi," sahut Reza. Dia mulai makan dengan lahapnya.


Zahra menanggapinya dengan senyuman manis. Reza sangat tahu bagaimana cara membuat wanita pujaannya itu tersenyum.

__ADS_1


"Aku akan terus bersabar dan bersabar untukmu Zahra. Aku akan terus meyakinkan hatimu agar yakin terhadap perasaanku ini," ucap Reza dalam hati.


__ADS_2