Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Awal Yang Baru


__ADS_3

Viona terperanjat tatkala Rizal menyebut nama wanita lain saat bercinta dengannya. Bahkan, di saat peluh masih membasahi tubuh dan polos. Viona bangun dengan rasa sakit di hatinya. Dia ingin marah, tapi percuma. Rizal yang masih pengaruh alkohol pun tidak akan mengerti.


"Jadi, sampai saat ini kamu belum bisa memberikan perasaamu padaku Rizal. Parahnya lagi kamu menyebut namanya di saat bercinta denganku. Sampai kapanpun juga hatiku tidak akan pernah rela. Jangan salahkan aku jika berbuat kejam, karena kamu sudah membuat lubang dalam hati ini. Zahra, tunggu saja pembalasan dariku," gumam Viona dalam hati. Kedua tangannya mengepal penuh dendam.


Viona turun dari ranjangnya dengan penuh kekesalan. Dia tidak habis pikir, jika selama ini hanya memiliki raga suaminya. Viona tidak bersedih atas apa yang terjadi. Rasa sedih itu telah kalah dengan rasa benci yang sudah mendarah daging.


Keesokan Pagi.


Efek alkohol membuat Rizal belum terbangun di pagi hari. Bahkan sehabis bercinta pun dia belum turun dari ranjang. Berbeda dengan Viona sejak kejadian semalam membuatnya tidak bisa tidur. Dia masih syok mendengar Rizal menyebut nama wanita lain yang sangat dibencinya.


Kini Viona sedang bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Dia ingin memastikan sesuatu karena sangat penasaran. Viona keluar rumah dan sedang menunggu kedatangan ibu mertuanya. Beberapa menit kemudian, Bu Silvi datang.


"Pagi Sayang, apa Mama telat?" tanya Bu Silvi.


Viona mengunci pintu dan menjawab, "Tidak Ma. Aku baru saja keluar kok, ayo kita berangkat sekarang!"


Viona berjalan menuju ke mobil lalu diikuti oleh ibu mertuanya dari belakang. Setelah itu mereka masuk ke dalam dan berangkat menuju ke rumah sakit. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Viona dan ibu mertuanya telah sampai di tujuan.


Mereka segera keluar dari dalam mobil. Lalu, mereka segera masuk menuju ke resepsionis untuk menanyakan informasi.


"Maaf Sus, saya mau bertanya. Pasien atas nama Zahra Verlita masih dirawat atau sudah pulang?" ucap Viona.


"Sebentar saya cek dulu ya, Mbak!" jawab Suster itu. Tak lama kemudian Suster itu menjawab, "Pasien atas nama Zahra Verlita sudah keluar dari kemarin siang, Mbak."


"Kalau begitu terima kasih informasinya, "ucap Viona. Setelah itu dia keluar dari rumah sakit untuk menuju ke mobil.


Sesampainya di mobil, Viona marah dan sangat kesal. Dia meluapkan semua amarahnya terhadap ibu mertuanya. "Ma, ternyata benar yang menolong Rizal adalah Zahra. Kenapa bisa kebetulan sekali? Tidak mungkin kalau Rizal yang menghubungi Zahra," ucap Viona, dia terus mengeluarkan emosinya.

__ADS_1


"Sayang, kamu tenang saja. Paling penting Zahra itu sudah keluar dari rumah kita, dan Reza akan segera menceraikannya," sahut Bu Silvi menghibur menantunya.


"Mama, Mama tahu tidak. Rizal menyebut nama Zahra saat kemi berhubungan. Asal Mama tahu, sejak pindah rumah, Rizal jarang menyentuhku. Semalam aku sangat senang, Ma. Melihat wajah Rizal yang penuh cinta, tapi saat itu selesai dia menyebut nama 'Zahra' bahkan dia berkata kalau sangat mencintainya. Aku membenci Zahra, Ma. Sangat membencinya, aku ingin dia menghilang dari bumi ini selamanya."


Viona terus berbicara dan meluapkan semua amarahnya yang tertuju pada Zahra. Hal itu membuat Bu Silvi ikut kesal dan juga marah.


"Iya pastikan kamu tenang, Sayang. "Ingat dengan kandunganmu. Nanti, Mama pasti akan berbicara pada Rizal. Mama akan tegur dia, kamu tahu sendiri 'kan kalau anak itu tidak bisa membantah. Mama akan menyuruh Rizal segera meresmikan perpisahannya," ujar Bu Silvi sangat yakin.


Viona mengangguk, hatinya sedikit tenang kali ini. "Baiklah, kita pulang saja, Ma. Mungkin saja Rizal sudah bangun dari tidurnya."


Akhirnya mereka memutuskan pulang setelah mendapatkan informasi yang mereka ingin tahu.


Di Tempat Lain.


Zahra sedang bersiap untuk pergi melakukan aktivitas. Dia ingin melamar pekerjaan di sebuah toko bunga. Lowongan itu dia dapatkan dari media sosial. Untuk saat ini Zahra tidak ingin pekerjaan yang melelahkan. Tetapi untuk menunjang kebutuhan hidup, Zahra masih menerima pesanan desain baju dengan bayaran lumayan per gambarnya.


Setelah itu dia keluar dari kontrakannya dan berangkat. Zahra berjalan lewat depan rumah ibu pemilik kontrakan. "Assalamualaikum, Bu Romlah. Selamat pagi!" sapa Zahra.


"Eh, Neng Zahra mau pergi ke mana?" tanya Bu Romlah penasaran.


"Saya mau melamar pekerjaan, Bu! Minta doa restunya, semoga saya diterima," jawab Zahra ramah.


"Iya , Ibu turut berdoa semoga dilancarkan niatnya hari ini. Oh ya, Neng sudah sarapan? Kalau belum ayo masuk ke dalam kita sarapan, Neng," ajak Bu Romlah.


"Tidak Bu, terima kasih. Saya harus sampai tepat waktu. Tidak enak jika sampai terlambat," ucap Zahra menolak.


"Baiklah, Ibu tidak akan memaksa. Hati-hati di jalan ya, Neng!"

__ADS_1


Zahra mengangguk dan menjawab, "Iya, Bu. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


Setelah itu saya berjalan menuju ke jalan raya untuk mencari angkutan umum. Tak membutuhkan waktu lama Zahra sudah sampai di pinggir jalan. Dia sedang menunggu angkutan umum di salah satu halte bus.


Lima menit menunggu angkutan pun tiba. Zahra langsung masuk ke dalam dan menuju ke alamat yang akan menjadi tujuannya. Di dalam angkot Zahra membuka handphonenya. Dia masih berhubungan dengan butik yang pernah jadi tempatnya bekerja dulu.


Sebenarnya pemilik butik meminta Zahra untuk kembali. Akan tetapi, Zahra menolaknya dengan alasan tidak ingin bekerja terlalu capek. Sebenarnya bukan itu masalahnya, dia hanya tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga yang telah menghancurkan kebahagiaannya itu.


Saya sudah memantapkan diri untuk bangkit dan tegar menghadapi semua ujian yang diberikan Tuhan untuknya. Jadi bagaimanapun keadaannya Zahra harus tetap ikhlas.


Hanya dalam waktu 15 menit angkutan itu sudah sampai di sebuah toko bunga. Toko itu tambah kecil namun penuh dengan bunga-bunga yang indah. Zahra masuk ke dalam toko bunga tersebut. "Assalamualaikum," sapa Bunga kepada semua orang yang ada di dalam.


"Waalaikumsalam," jawab semua orang.


"Perkenalkan, nama saya Zahra. Saya yang melamar pekerjaan pada hari ini," ucap Zahra.


Lalu keluarlah manajer toko yang bertanggung jawab dengan perekrutan karyawan baru. "Zahra Verlita, mulai hari ini kamu diterima bekerja dan tugasmu hanyalah melayani para pembeli dengan ramah dan nyaman. Kalau kamu mempunyai skill, kamu bisa menjelaskan arti setiap bunga yang ada di sini dan kamu bisa mencarinya di laman website. Saya yakin kamu mempunyai skill itu," ucap manajer toko tersebut.


"Terima kasih, Pak. Saya sudah diizinkan untuk bekerja di sini. Saya akan melakukan pekerjaan secara profesional," ucap Zahra dengan semangat.


Manajer itu tersenyum senang. "Terkadang ada pembeli yang ingin bunganya diantar ke rumah ataupun kantor ataupun tempat pertemuan yang lainnya. Semisal ada yang memesan secara online, apa kamu bisa mengantarkannya?" tanya Manajer itu.


"Saya bersedia, Pak."


"Bagus kalau begitu, sekarang bulan apa kerja dan tugasmu yang pertama akan diarahkan teman-temanmu yang ada di sana. Silakan bergabung!"

__ADS_1


Zahra membungkukkan badan setelah itu bergabung dengan teman-temannya untuk memilih dan memilah bunga yang akan dijual dan juga dipajang.


__ADS_2