
Rizal pergi dari ruangan Zahra. Dia tidak jadi untuk masuk ke dalam. Rasa pedulinya telah di kalahkan oleh fitnah kejam itu. Kini dia telah sampai di parkiran mobil dan memutuskan pergi meninggalkan rumah sakit.
"Apa yang harus aku lakukan? Siapa yang harus aku percaya? Aku bisa menyangkal kalau tidak ada video itu. Tetapi video itu menjelaskan semuanya, dan ada saksi yang melihatnya. Lalu apalagi yang aku pikirkan? Bukankah sudah terlihat sangat jelas kalau Zahra memang bermain di belakangku." Rizal terus bertanya dalam hati. Dia sedikit ragu dengan keputusannya.
Di Tempat Lain.
Bu Silvi sedang berdiskusi dengan Viona. Mereka membicarakan tentang Zahra yang masih mendapatkan pembelaan dari ayah mertuanya.
"Ma, ini tidak boleh terjadi. Zahra harus benar-benar menghilang dari kehidupan Rizal. Paling tidak, Rizal secepatnya menceraikan wanita itu. Hatiku sakit ketika melihat Papa begitu membela Zahra, Ma," ucap Viona dengan penuh kekhawatiran.
Bu Silvi pun menjawab, "Kamu tenang saja serahkan semuanya pada Mama. Nanti kita jenguk Zahra di rumah sakit. Kita buat dia mengaku kalau anak yang dikandungnya itu adalah anak Reza. Tugasmu adalah merekam dan menyerahkan rekaman itu pada Rizal. Setelah itu kamu pasti bisa menebak sendiri reaksi Rizal akan seperti apa?"
Viona tersenyum senang. "Oke Ma. Kalau begitu kita bersiap-siap saja."
Setelah sepakat, Viona dan ibu mertuanya bersiap untuk menjenguk Zahra. Mereka akan datang dengan semua rencana jahat. Kini keduanya berada di dalam taksi sedang perjalanan menuju ke rumah sakit.
Viona sedang sibuk memainkan handphone dan ibu mertuanya sibuk membalas chat di grup WhatsAppnya. Dua puluh menit kemudian, mereka sampai juga di rumah sakit. Bu Silvi dan Viona berjalan menuju ke resepsionis untuk bertanya dimana ruang rawat Zahra.
__ADS_1
Setelah mendapatkan informasi, mereka bergegas menuju ke ruangan Zahra. Sesampainya di atas mereka langsung masuk ke dalam dan menyapa Zahra yang sedang duduk melamun.
"Spada, apakah ada orang di sini," seru Viona dari depan pintu.
Zahra menoleh ke sumber suara, dan melihat Viona serta Ibu mertuanya datang. Zahra diam, dia tidak menyambut kedatangan mereka.
"Bagaimana keadaanmu di sini? Sepertinya terlihat sangat menyenangkan," ucap Bu Silvi, dengan nada menyindir.
Zahra tetap dia dia tidak ingin menanggapi ucapan itu. Hal itu membuat Viona dan ibu mertuanya kesal. Mereka terus memprovokasi Zahra agar terpancing emosi.
"Ma, mungkin dia jadi bisu atau mungkin tuli. Lihat saja, duduk sendiri melamun dengan pandangan kosong terlihat sangat menyedihkan sekali," ucap Viona.
Tangan Zahra mencengkram kuat spreinya. Sekuat tenaga dia menahan rasa sakit yang ada dalam hatinya. Sebisa mungkin agar tidak terpancing oleh kata-kata ibu mertuanya.
Bu Silvi terus melontarkan kata-kata pedas untuk Zahra. Dia tidak memikirkan perasaan menantunya itu. Bu Silvi semakin geram karena Zahra tidak terpancing emosinya. Lalu dia berkata lebih pedas lagi.
"Sepertinya perkataanku ini semuanya benar. Diam mu itu menjadi bukti kalau kamu memang melakukannya. Seorang pezina pantas mendapatkan hukuman yang berat," ucap Bu Silvi, dan perkataan itu berhasil menembus ke dalam hati Zahra.
__ADS_1
"Aku tidak pernah berzina dengan siapapun, Ma. Meski aku tidak mempunyai orang tua yang mengajariku. Aku masih bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Aku tidak mungkin melakukan hal sehina itu, karena aku masih takut dosa. Aku masih takut dilaknat oleh sang pencipta. Apa Mama tidak pernah berpikir dengan semua yang Mama lakukan itu?"
"Mama memfitnah aku di depan Mas Rizal. Mama mengatakan kalau aku berselingkuh bahkan berzina dengan kakak iparku sendiri, sehingga Mas Rizal percaya dan tidak mengakui anak yang aku kandung sekarang. Apakah Mama pantas disebut seorang ibu? Menghancurkan kebahagiaan anaknya sendiri demi tujuan yang tidak masuk akal. Kita sama-sama perempuan, sama-sama mempunyai perasaan. Sebegitu teganya kalian padaku, memfitnahku dengan cara yang sekeji itu. Semoga Allah membalas semua yang kalian lakukan padaku. Silakan kalian berbuat sesuka hati. Aku tidak akan membalasnya, biarlah alam yang bekerja untuk membalas semua perbuatan kalian," ucap Zahra dengan air mata yang berlinang.
"Diam tutup mulutmu, sumpahmu itu tidak akan terjadi. Siapa yang memfitnahmu, kalau pada kenyataannya memang anak yang kamu kandung itu adalah anaknya Reza. Mengakulah, karena tidak ada salahnya untuk mengaku," teriak Bu Silvi sangat emosi.
"Aku tidak akan pernah mengakui kesalahan yang tidak pernah ku perbuat. Aku tahu rencana licik kalian, aku juga tahu tujuan kalian ke sini untuk apa? Sekarang Viona pasti sedang memasang sebuah alat perekam atau sedang membuka video recorder untuk merekam semua ucapanku. Kalian pikir aku tidak tahu, atau kalian pikir aku sebodoh itu. Mama tidak akan mendapatkan apapun di sini, karena aku tidak akan pernah mengakuinya. Saat ini, bahkan sampai nanti anak yang aku kandung adalah anaknya Mas Rizal. Berpuas-puaslah kalian melakukan kesalahan demi kesalahan. Hingga suatu hari azab itu akan datang sendirinya menimpa kalian semua. Allah tidak tidur, Allah selalu membantu orang yang sedang berada dalam kesusahan. Jadi aku tidak takut pada siapapun. Lebih baik kalian pergi dari sini, sebelum aku mengatakan hal-hal yang mengerikan," seru Zahra dengan sekuat tenaga. Dia meluapkan emosinya pada Viona dan Ibu mertuanya.
"Kamu berani-beraninya ...." Bu Silvi mengangkut tangannya untuk menampar Zahra. Namun hal itu tidak terjadi karena Reza datang tepat waktu.
"Berhenti! Kalau Mama berani menyentuh Zahra. Aku tidak akan segan melaporkan hal ini pada pihak berwajib. Sikap kalian sudah sangat keterlaluan, aku bisa melaporkan dengan gugatan kekerasan dalam rumah tangga," Reza berteriak menghentikan emosi ibu tirinya.
Viona langsung menarik tangan ibu mertuanya untuk mundur. Bu Silvi pun langsung mengurungkan niatnya untuk menggertak Zahra.
"Ingat, aku tidak akan pernah menyerah untuk membuatmu pisah dengan Rizal. Aku tidak akan pernah sudi menerimamu lagi di keluarga Narendra," seru Bu Silvi.
"Sudah Ma, ayo kita keluar dari sini." Viona terus menarik tangan ibu mertuanya untuk keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Setelah mereka keluar, Zahra menangis sejadi-jadinya. Hatinya benar-benar sakit, dia merasa kalau sudah tidak mempunyai siapa-siapa. Saat ini Zahra sangat membutuhkan sandaran untuk menenangkan hati. Namun, nasib berkata lain. Sepertinya dia harus menjalani semua ujian itu sendiri.