
Tiga bulan berlalu kehidupan Rizal semakin kacau. Perusahaan yang dikelolanya mengalami kemunduran yang sangat drastis. Semua itu karena dia tidak bisa fokus dalam menjalankan pekerjaannya. Rizal masih belum menemukan Zahra dan membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
Rizal juga sudah tidak tinggal satu rumah bersama dengan Viona. Dia lebih memilih tinggal di rumah orang tuanya, karena di rumah itu semua kenangannya dengan Zahra terukir.
Hal yang sama juga di alami bu Silvi. Dia sering mengalami hipertensi karena pusing memikirkan nasib rumah tangga sang anak. Rizal sering membangkang bahkan tidak lagi mendengarkan nasehatnya.
Kandungan Viona masuk ke 7 bulan. Dia sering mengalami kontraksi karena stres dengan sikap Rizal yang sudah tidak peduli lagi dengannya. Dia benar-benar sudah tidak diprioritaskan lagi. Viona lebih suka marah-marah tidak jelas kepada ibu mertuanya.
Hari ini Rizal pergi ke kantor untuk mengurus masalah perusahaannya. Dia sekarang bertindak seenaknya sendiri. Di dalam kamar Rizal sudah bersiap untuk berangkat. Tetapi, Viona sengaja ingin menghentikan langkahnya.
"Rizal, aku ingin kamu mengantarkanku ke rumah sakit untuk cek kandungan," ucap Viona memohon.
"Kamu pergi dengan Mama saja aku sedang sibuk," jawab Rizal.
__ADS_1
Viona tidak terima ketika Rizal menolaknya. "Rizal kamu sudah keterlaluan sekali akhir-akhir ini. Aku ini istrimu, dan aku mengandung darah dagingmu. Kenapa sikapmu semakin berubah? Apa kamu tidak menyayangi anak ini?"
Rizal mendekati Viona dan berkata,"Kalau aku bilang sudah tidak peduli, kamu mau apa? Aku sudah tidak ada gairah hidup lagi, kebahagiaanku sudah hilang karena kebodohanku sendiri. Aku sangat menyesal telah mendengarkan ucapan palsu kalian. Ternyata kehilangan Zahra lebih menyakitkan. Sampai kapanpun aku tidak akan bisa melupakan perlakuan kalian kepadanya."
"Kamu juga ikut menyakiti Zahra, Rizal. Jadi kesalahan itu tidak sepenuhnya padaku. Kita semua sama-sama salah, buat apa kamu menyesalinya? Lebih baik kita lanjutkan rumah tangga ini. Lagian Zahra juga sudah tidak pernah muncul. Mungkin dia sudah menghilang dari dunia ini," ucap Viona dengan kasar.
Rizal semakin geram, akan tetapi dia tidak ingin melampiaskan amarahnya. Rizal hanya diam, setelah itu keluar dari ruangan itu. Viona hanya bisa berdecak kesal, sudah kerap kali dia diabaikan seperti itu. Dia sudah tidak dianggap sebagai seorang istri.
"Kenapa semua jadi begini? Ini semua gara-gara mertua sialan itu. Akibat ulahnya yang gila, aku jadi ikut terkena masalah. Untuk apa aku mengandung anak ini kalau Rizal saja sudah tidak peduli padaku. Ingin rasanya aku menyerah saja, tapi langkahku sudah sangat jauh." Viona terus bergumam dalam hati. Dia sangat menyesal dalam permainannya sendiri.
"Pa, lihat Rizal! Dia semakin tidak menganggap orang tuanya. Viona juga sekarang lebih berani padaku. Kenapa semuanya menjadi seperti ini?" ucap Bu Silvi kesal.
Pak Roni hanya bisa bersabar tapi drama di dalam keluarganya. Walaupun ikut berbicara sarannya pasti tidak akan didengar oleh sang istri. Jadi Pak Roni memilih bungkam dan diam.
__ADS_1
"Papa sudah tidak ingin berkomentar lagi dengan masalah yang Mama hadapi. Sudah berulang kali Papa bilang sama Mama, kalau semua kekacauan ini kamu sendiri yang buat dan memulainya. Kesalahanmu itu sangat fatal, seharusnya kamu minta maaf dengan Zahra," sahut Pak Roni.
"Cuih, aku tidak akan pernah Sudi meminta maaf dengan wanita itu. Semua ini adalah ulahnya, dia itu wanita pembawa sial. Jadi keluargaku yang terkena getahnya," ucap Bu Silvi kasar. Dia terus membenci Zahra.
Pak Roni diam jika istrinya sudah menunjukkan kesombongan. Semakin hari kebenciannya terhadap Zahra makin bertambah. Dinasehati pun percuma karena Bu Silvi selalu membantah ucapan suaminya.
Setelah kepergian Rizal tak lama kemudian Viona turun juga ke bawah dengan pakaian yang sudah rapi. Dia berjalan keluar tanpa berbicara pada mertuanya. Bu Silvi langsung menegur menantunya itu.
"Viona mau pergi ke mana kamu? Bukankah hari ini kamu ada cek kandungan ke dokter?" seru Bu Silvi menghentikan langkah Viona.
"Aku sudah tidak peduli lagi dengan cek kandungan atau sebangsanya. Tidak ada gunanya juga mempertahankan anak yang aku kandung ini. Aku merasa rugi saja karena telah mengorbankan kebahagiaanku di keluarga ini. Kalau saja aku tahu akan sesial ini, pasti aku tidak akan pernah terjebak di sini. Menyebalkan!" sahut Viona berlalu pergi.
"Viona, jangan kurang ajar kamu ya. Hari ini kamu harus periksa ke dokter, kamu harus melahirkan anak itu dalam keadaan selamat!" seru Bu Silvi. Dia menahan emosinya setiap berbicara dengan Viona.
__ADS_1
"Jadi, menantu yang seperti itulah yang Mama banggakan? Bagi Papa Zahra lah yang terbaik. Mama sudah menyia-nyiakan sebuah berlian hanya demi orang yang seperti itu. Sungguh sangat disayangkan sekali." Pak Roni terus mengungkapkan kekecewaannya. Dia ingin membuat sadar istrinya. Akan tetapi dia masih belum tahu caranya.
"Sudahlah Papa diam saja tidak usah ikut campur. Membuatku tambah emosi saja," balas Bu Silvi. Dia membanting sendok di atas piringnya. Setelah itu dia pergi ke kamar untuk meredam amarahnya.