Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Awal Kebahagiaan


__ADS_3

"Selamat Bu bayi anda lahir berjenis kelamin perempuan," kata dokter tersebut.


Zahra mengucap syukur karena berhasil melahirkan buah hatinya. Dia sudah bisa bernapas lega sekarang. Bi Ani pun turut senang melihat rona kebahagiaan di wajah Zahra.


"Selamat ya Neng Zahra, akhirnya Neng punya seorang putri sekarang," ucap Bi Ani.


Zahra mengangguk sembari tersenyum. Dia mengucap syukur dalam hati. "Alhamdulillah Terima kasih ya Allah. Engkau telah memberikan kekuatan pada hambamu ini," ucap Zahra dalam hati.


Tangisan bayi terus memenuhi ruang persalinan itu. Di luar, Reza juga terus mondar mandir menunggu dokter yang keluar dari dalam ruangan.


"Kenapa belum ada yang keluar sama sekali? Bagaimana kondisi Zahra? Aku berharap semuanya baik-baik saja," ucap Reza dalam hati.


Setengah jam menunggu akhirnya ada salah satu suster yang keluar dari dalam ruangan tersebut. Reza segera menghampiri suster itu. "Sus, bagaimana keadaan pasien yang ada di dalam. Proses persalinannya lancar 'kan?" tanya Reza.


"Proses persalinannya lancar, Pak. Lalu, jenis kelamin bayinya adalah perempuan," jawab suster itu.


"Alhamdulillah, kapan boleh menjenguk Sus?"


"Sebentar lagi kalau pasien sudah dipindah ke ruang perawatan. Kalau begitu saya permisi dulu, Pak!"


Reza mengangguk dan berkata, "Terima kasih atas informasinya."


Perasaan lega merasuki lubuk hati Reza. Dia ikut bahagia dengan berita itu. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk masuk ke dalam dan bertemu dengan Zahra.

__ADS_1


Setengah jam menunggu, Zahra sudah pindah dalam ruang perawatan. Reza pun langsung masuk untuk menjenguknya. "Assalamualaikum," ucap Reza dengan senyum sumringah.


"Waalaikumsalam, Mas!" jawab Zahra.


Reza mendekat ke tempat Zahra berbaring. "Bagaimana keadaanmu? Aku ikut behagia kamu bisa melahirkan secara normal tanpa ada halangan, Zahra," ujar Reza.


"Alhamdulillah Mas, aku bisa melahirkan dan bayiku lahir normal. Aku sangat takut kalau dia prematur,"balas Zahra. "Mas, maukah kamu melakukan sesuatu untukku?" tanya Zahra dengan penuh harap.


"Apapun akan aku lakukan untukmu, Zahra," sahut Reza.


"Aku ingin kamu adzani bayiku Mas. Lalu, kasih dia nama yang bagus."


Reza terdiam sejenak lalu tersenyum."Baiklah, kalau begitu aku akan memberikan nama 'Sazhia'. Bagaimana menurutmu?" tanya Reza.


"Sazhia, nama yang bagus Mas. Sazhia ...." Zahra tampak senang dengan nama yang diberikan oleh Reza.


Reza pun mengadzani Sazhia dengan penuh keseriusan. Air mata Zahra menetes melihat momen itu. "Mas Rizal, semoga kamu melihat dari sana. Aku akan merawat bayi kita hingga tumbuh besar. Aku akan mendidiknya agar menjadi anak yang Sholihah dan berbakti," ucap Zahra dalam hatinya.


Beberapa menit kemudian, Reza telah selesai mengadzani Sazhia. Dia menggendong keponakannya itu ke samping Zahra. "Lihat, wajahnya mirip kamu. Sangat cantik dan lemah lembut. Bibirnya mirip Rizal, andaikan dia melihat pasti sangat senang sekali," ucap Reza pada Zahra yang terharu.


"Mas, terima kasih sudah memberikan dukungan dan juga semangat padaku selama ini. Terima kasih sudah menjadi sumber kekuatanku. Mas, aku ingin berbicara sesuatu padamu. Mungkin ini waktu yang tepat. Aku ingin menikah denganmu. Aku ingin menjadi istrimu, dan aku juga kamu menjadi ayah dari kedua anakku. Sazhia dan Keynara," ucap Zahra penuh dengan air mata.


Reza tersenyum, dia sangat senang mendengar ucapan Zahra. Kata-kata yang dia tunggu selama ini telah terucap dari bibir itu. Reza mengelus ujung kepala Zahra. "Aku tidak percaya kamu mengatakan ini, Zahra. Kata-kata ini sudah aku nantikan sejak lama. Pada hari ini kamu memberikan jawaban atas perasaanku selama ini padamu. Terima kasih atas balasan rasa cintaku padamu. Tunggu kamu boleh nanti aku akan melamarmu dan kita menikah secara resmi," jawab Reza. Dia tampak bahagia sekali.

__ADS_1


"Iya Mas aku akan menjaga kesehatan agar cepat pulih. Satu yang aku ragukan, Mas. Aku takut jika kamu berubah suatu hari nanti karena kekurangan yang aku miliki. Jika itu terjadi, mungkin aku tidak sanggup hidup lagi jika harus tersakiti untuk yang kedua kali," balas Zahra.


"Apa yang kamu ragukan, Zahra. Kamu katakan sekarang biar aku bisa memperbaikinya."


"Mas, kamu tahu kandunganku sangat lemah sangat sulit untuk hamil. Setelah kita menikah tentu saja kamu pasti ingin keturunan dariku. Aku takut kalau aku tidak bisa mewujudkan itu, Mas. Aku khawatir kalau kamu meninggalkanku hanya karena ...."


"Ssstt, Jangan bicara lagi! Aku tidak mau mendengar itu. Jangan meragukanku hanya karena masalah itu Zahra. Aku menerimamu apa adanya dengan segala kekuranganmu. Jangan memvonis itu pada dirimu karena kita tidak tahu takdir Allah itu seperti apa? Kalau kamu tidak bisa memberikan keturunan padaku tidak apa-apa karena aku sudah menganggap Keynara dan juga Sazhia sebagai anakku sendiri. Aku akan memberikan kasih sayang tulus kepada mereka berdua seperti anak kandungku. Percaya padaku, karena aku ingin kamu bahagia untuk membina rumah tangga bersamaku. Aku mencintaimu Zahra, lebih dari apapun di dunia ini."


Zahra mengangguk senang, air matanya tidak berhenti mengalir. "Syukurlah Mas. Jadi aku tidak khawatir pada pernikahan kedua ini, jika kamu bisa menerimaku dengan tulus. Aku percaya padamu," balas Zahra.


"Sama-sama. Sudah tidak usah khawatir dan berpikir macam-macam. Sekarang bahagiakan dirimu karena aku akan mewujudkan apapun yang kamu mau. Aku juga akan mencari pengasuh untuk Sazhia. Jadi kamu bisa menghandle semuanya tanpa perlu kecapean. Tidak boleh protes dan tidak boleh menolak, harus mau karena aku ingin yang terbaik untukmu," ucap Reza dengan mencium pipi Sazhia.


Zahra terkekeh. "Belum juga aku bicara, Mas! Kenapa harus dua pengasuh kan sudah ada mbak Lilis? Untuk Sazhia aku ingin lebih dekat dengannya. Agar aku bisa menjadi seorang ibu yang sempurna."


"Kamu tetap bisa menjadi Ibu yang sempurna. Maksudku kamu itu bagian memberikan kasih sayang kepada Sazhia dan juga Keynara. Kalau soal bantu-bantu atau saat jaga malam biar Mbak pengasuh yang menggantikannya. Kamu bisa beristirahat dengan baik."


"Oke oke aku terima kebaikan ini, dan aku hanya bisa mengucapkan terima kasih," balas Zahra.


"Aku tidak meminta apapun darimu, Zahra. Aku hanya membutuhkan kasih sayang dan juga perhatian di saat kita sudah menikah nanti. Bagiamana?"


"Ya, aku sudah paham sekarang. Kalau begitu aku akan menjadi istri yang baik untukmu setelah menikah nanti, karena belum menjadi istrimu saja kamu selalu mengupayakan yang terbaik untukku, Mas. Jadi aku harus membayarnya dengan imbalan yang setimpal," ucap Zahra.


"Bukankah memang harus begitu?"

__ADS_1


Zahra mengangguk dan tersenyum. Tampak kebahagian yang lengkap terlihat dari senyumannya itu.


"Terima kasih Zahra. Senyuman itulah yang aku rindukan selama ini. Senyuman yang aku lihat pertama kali dulu saat kamu berkunjung di hadapan Papa dan Mama. Senyuman yang mampu membuatku tidak bisa melupakanmu. Akhirnya aku bisa melihatnya kembali. Semoga kebahagiaan ini terjalin sampai tua nanti. Amiiin!" ucap Reza dalam hati.


__ADS_2