
Sore hari tepat jam 17.00, Zahra menyelesaikan pekerjaannya. Dia membereskan dan juga memasukkan bunga ke dalam toko.
"Terima kasih semuanya atas kerja sama hari ini," ucap Zahra kepada teman kerjanya.
"Sama-sama Zahra, kami juga senang kok. Kamu orangnya ramah sekali dan cepat juga beradaptasi," sahut teman yang lain.
Zahra tersenyum senang setelah itu dia keluar dari toko bunga untuk pulang ke rumah. Dia berjalan menuju ke minimarket terdekat. Zahra ingin membeli roti untuk sarapan besok pagi.
Selesai membeli, Zahra langsung menunggu ojek yang di pesannya secara online. Dia harus berhemat karena uang tabungannya menipis.
Zahra menunggu dengan sabar, sesekali dia menarik napas untuk meredakan rasa penatnya. "Sayang, terima kasih sudah kuat di perut Bunda. Maafkan Bunda jika harus bekerja terlalu lelah. Kamu harus tetap sehat di dalam rahim Bunda." Zahra bergumam dengan mengelus perutnya.
Lima belas menit menit menunggu ojek yang dipesan secara online tidak kunjung datang. Zahra sudah sangat capek berdiri, akhirnya dia memesan ojek online yang baru dan harus menunggu beberapa menit lagi.
Adzan maghrib berkumandang, ojek yang dipesan Zahra pun datang. Setelah itu Zahra pulang menuju ke kontrakannya. 20 menit berlalu Zahra sampai juga di gang kontrakannya. Dia berjalan dengan sangat lesu. Sesampainya di depan rumah Bu Romlah langkah Zahra terhenti.
"Neng Zahra berhenti, Ibu ada sesuatu untukmu," seru Bu Romlah dari dalam rumah. Dia sudah menunggu Zahra sejak tadi.
"Iya, Bu ada apa?" tanya Zahra menunggu di depan pintu.
Dari dalam Bu Romlah membawa rantang yang berisi makanan. "Ini Ibu tadi masak dan sengaja Ibu lebihkan untuk Neng Zahra," ucap Bu Romlah, dia memberikan rantang itu pada Zahra.
"Ibu, saya tidak ingin terlalu merepotkan. Ibu setiap hari sudah memberi makanan gratis untuk saya," ucap Zahra melas, dia sangat sungkan menerima semua itu.
"Tidak apa-apa, terima Neng. Ini rezeki namanya," ucap Bu Romlah sedikit memaksa. Setelah itu Bu Romlah mengambil paper bag yang ada di atas meja. "Neng, tadi Ibu 'kan dititipi oleh tetangga buat beli susu orang hamil. Sudah Ibu beli, eh taunya salah merk. Tetangga tidak mau, terus Ibu ingat kalau kamu juga hamil. Jadi susu ini buat Neng, saja," jelas Bu Romlah.
Zahra menerima paper bag itu dan timbul banyak pertanyaan dalam kepalanya. "Terima kasih, Bu. Atas kebaikan Ibu kepada saya," ucap Zahra dengan senyum ramah.
"Sama-sama."
Setelah itu Zahra pergi dari rumah Bu Romlah. Dia berjalan sembari berpikir," Terlalu kebetulan jika ini salah beli. Terus dari pertama kali juga sangat aneh. Perubahan sikap Bu Romlah waktu itu sangat cepat."
__ADS_1
Zahra menghentikan langkahnya, lalu dia melihat ke sekeliling untuk memastikan sesuatu. "Tidak ada apapun," pikirnya. Kemudian dia berjalan lagi.
Saat beberapa langkah, Zahra kembali menoleh ke belakang. Dia melihat mobil lewat di ujung gang. "Seperti mobil Mas Reza. Atau jangan-jangan semua ini darinya. Ya aku yakin ini pasti darinya," ucap Zahra.
Zahra mengambil handphonenya, lalu dia menelepon Reza. Panggilan itu terjawab dengan cepat. "Hentikan mobilmu, Mas," ucap Zahra.
"Berbaliklah karena aku butuh penjelasan," sambungnya cepat.
Zahra masih berdiri di tempat. Lalu beberapa menit kemudian terlihat Reza berjalan dari ujung gang menuju ke arahnya. Zahra masih kesal jika mengingat ucapan Reza saat di rumah sakit. Reza berjalan dengan tenang, dia sudah siap jika Zahra akan memarahinya.
"Assalamualaikum," sapa Reza dengan seulas senyum.
"Waalaikumsalam," jawab Zahra.
"Kenapa diam? apa tidak ingin menjelaskan semuanya padaku? atau kamu sedang membohongiku lagi," sindir Zahra kepada kakak iparnya.
Reza menarik napas dalam, dan mengembuskannya kasar. "Meski kamu bertanya ribuan kali, jawabanku akan tetap sama, Zahra. Aku hanya ingin membantumu. Lihatlah wajahmu itu, terlihat sangat pucat sekali. Bukan kah ibu hamil harus mendapatkan nutrisi yang sehat. Lalu, kalau keadaanmu seperti ini, bagaimana kamu akan mendapatkan nutrisi untuk bayimu? Aku yakin kamu belum makan sekarang," jelas Reza.
Reza kembali tersenyum dia masih sabar menghadapi kekesalan Zahra. "Lantas kewajiban siapa? Rizal? Jadi kamu masih mengharapkan dia untuk melakukan kewajiban ini? Bahkan dia tidak ingin mendengarkan penjelasanmu. Lebih parahnya lagi, dia sudah berbicara kata cerai berulang kali kepadamu Zahra. Itu artinya pernikahan kalian sudah berakhir. Berbahagialah meskipun tanpa dia, Zahra. Tidakkah kamu menginginkan itu?"
Zahra menitikkan air matanya, setiap berbicara dengan Reza. Kata-kata itu mampu membuka hati Zahra yang tertutup.
Risa menghapus air mata Zahra. "Jangan lagi kamu teteskan air matamu. Berhenti menangis di hadapanku. Aku ingin melihatmu tersenyum Zahra dan aku sangat ingin melihatmu bahagia. Bisakah kamu melakukan itu? Sekarang mulailah hidupmu dari nol lagi. Aku siap membantu mu kapanpun dan dimanapun."
" Stop jangan menangis ...!"
"Apakah kamu senang melihat pernikahanku berakhir? Apakah ini yang kamu inginkan?" Zahra bertanya kepada kakak iparnya.
"Apa yang kamu bicarakan? Ya, aku mengakui kalau perasaan ini tidak bisa aku hilangkan walau sedikit saja. Tetapi aku masih mempunyai hati nurani, aku mencintaimu tapi bukan berarti aku ingin merebutmu dari Rizal. Karena hubungannya seperti itu tidak akan pernah berlangsung lama dan tidak akan ada kebahagiaan. Sekarang aku tanya sama kamu,selama kamu menikah dengan Rizal. Apakah kamu merasakan kebahagiaan?"
Zahra terdiam dan tak menjawab.
__ADS_1
"Kenapa diam? Oke aku akan membantumu menjawabnya. Menurut penglihatan ku, kamu tidak pernah berbahagia sejak memutuskan menikah dengan Rizal. Perasaanmu ke Rizal itu hanya perasaan yang tertekan. Kenapa kamu menyia-nyiakan hidupmu selama ini, Zahra. Kamu layak mendapatkan kebahagiaan dan kamu layak untuk diratukan. Sayangi dirimu tanpa harus memikirkan orang yang telah menyakiti dan menghancurkan perasaanmu."
Reza mengusap ujung kepala Zahra. "Sudah sekarang masuk ke dalam. Nanti, kamu capek berdiri di sini dan tidak enak juga dilihat ibu-ibu kompleks."
"Apa kamu juga sudah makan, Mas? Kalau belum ayo makan bersama," ucap Zahra tanpa memandang ke arah Reza.
"Baiklah, karena aku telah diundang maka aku akan mampir. Aku tadi beli makanan kesukaanmu. Untuk susu itu aku juga berputar-putar swalayan untuk mencarinya, karena merk itu sangat sulit didapatkan," ucap Reza. Dia berjalan di belakang Zahra.
"Lain kali tidak usah repot-repot, Mas!"
Reza terkekeh. "Aku suka kok direpotkan apalagi direpotin oleh kamu. Suatu kewajiban untukku," sahut Reza.
"Bagaimana pekerjaanmu? Apakah sangat berat?" tanya Reza pelan.
Zahra menarik napas dalam-dalam. "Jadi sejak kapan kamu membuntutiku, Mas?"
"Sejak kamu kabur dari rumah sakit. Tahukah kamu sejak saat itu aku tidak bisa tidur nyenyak. Aku terbayang-bayang dengan kata-katamu yang sangat menakutkan itu," jawab Reza.
"Kata-kata yang mana?" tanya Zahra penasaran.
Reza menjawab, "Aku takut jika kamu membenciku."
Zahra tersenyum tipis. "Seharusnya kamu tahu karakterku, Mas. Aku tidak bisa membenci seseorang, bahkan orang yang menyakitiku sekalipun."
"Seharusnya kamu merubah sifat itu, janganlah terlalu baik. Sekali-sekali kamu itu harus berubah menjadi seseorang yang galak untuk menjaga diri."
"Sampai kapanpun aku tidak bisa, Mas. Aku ya seperti ini dan akan tetap begini. Tidak ada yang bisa merubah sifatku karena aku juga tidak mampu untuk merubahnya."
"Baiklah, aku mengerti. Tunggu aku memilikimu, maka aku akan merubah sifat itu," gumam Reza pelan.
"Kamu bilang apa, Mas?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa, ternyata jauh juga kontrakanmu," jawab Reza mengalihkan pembicaraan.