Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Ronde Terakhir


__ADS_3

Makan malam selesai, Zahra memberesi piring yang kotor. Akan tetapi Reza langsung melarangnya. "Biar aku saja yang membereskan, Sayang. Kamu istirahat sana dulu," ucap Reza pada istrinya.


Zahra melirik Reza sembari tersenyum, setelah itu dia menuju ke ruang santai untuk menonton televisi. Lika belas menit kemudian, Reza datang dengan membawa 2 gelas coklat panas. Dia meletakkan minuman itu di meja.


Setelah itu, Reza langsung duduk di samping Zahra yang sedang menonton televisi. "Sayang, minum dulu coklatnya, selagi panas. Nanti kalau adem tidak nikmat," ucap Reza pada istrinya.


"Mas, aku baru selesai makan. Sudah kamu buatin coklat panas. Nanti aku bisa gemuk," protes Zahra.


"Memang kenapa kalau gemuk? Aku sengaja ingin membuatmu gemuk, gemoy, dan menggemaskan," sahut Reza dengan santai.


"Mas, seharusnya yang gemuk, gemoy, dan menggemaskan itu Sazhia sama Keynara. Jadi mereka bisa tambah lucu dan imut. Kalau ibunya yang gemuk ya tidak lucu lah Mas. Kamu ini ada-ada saja," balas Zahra.


Reza tetap kukuh dalam keinginanya untuk membuat Zahra menambah berat badan. "Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus menambah berat badanmu sedkit. Oke! Makan yang banyak dan bergizi tinggi, jaga mood jangan sampai marah atau kesal. Aku ingin muncul keajaiban dalam rahimmu ini," ucap Reza penuh perhatian.


Mendengar itu membuat Zahra langsung menoleh ke arah suaminya. Dia memeluk Reza dengan erat. "Mas, aku takut saat kamu bicara seperti ini. Aku khawatir kalau ...."


"Ssstt, jangan teruskan! Aku tidak ingin kamu menjawab yang tidak-tidak." Reza memotong jawaban istrinya.


"Dengar, aku tidak munafik Zahra. Aku memang menginginkan keturunan darimu, tapi aku menyerahkan semuanya pada Allah. Tugasku hanya berusaha dan berdoa agar Allah senantiasa memberkahi pernikahan kita. Aku tidak akan meninggalkanmu sampai akhir hayat ini," jelas Reza dan membuat Zahra terharu.


"Terima kasih, Mas. Aku bahagia mendengarnya. Membuatku yakin kalau kita akan hidup bahagia," ujar Zahra.


"Ya sudah, sekarang minum dulu. Habis ini lanjut ke ronde selanjutnya."


Zahra terdiam dia melepas pelukannya. "Ronde apaaan, Mas. Ini 'kan coklat panas, bukan wedang ronde," ucap Zahra pura-pura tidak tahu.


"Sayang, jangan bermain teka-teki denganku ya. Aku tidak bisa mengendalikan diri jika sudah terjadi sesuatu," sahut Reza.


Zahra menelan salivanya, dia teringat kejadian siang tadi. Begitu perkasa dan gagahnya Reza ketika bermain cinta.


"Kenapa diam, apa kamu sedang membayangkan pesonaku tadi saat berada diatasmu? Ayo mengakulah! Aku ingin mendengarkan pujianmu," ucap Reza meminta jawaban.


Zahra duduk dan meletakkan gelas di meja. Setelah itu dia berdiri dan beralih duduk dipangkuan suaminya. Zahra menatap wajah Reza dengan penuh arti. Dia membelai wajah itu lalu mengecup tipis bibir Reza.


"Kamu ingin tahu penilaianku tadi terhadapmu, Mas?" bisik Zahra sangat pelan.


Melihat istrinya yang berinisiatif membuat Reza semakin gemas. Dia mengeratkan pelukannya agar tubuh Zahra semakin dekat.


"Katakanlah, aku mendengarnya," jawab Reza tepat di depan istrinya.


"Jujur, aku terpesona saat kamu berada diatasku Mas. Kenapa aku baru sadar? kalau suamiku ini berwajah ganteng. Bukankah itu sangat lucu, aku suka ketika kamu menyentuhku di bagian sini. Kamu tahu bagaimana sensasinya. Seperti tersengat aliran listrik, ya meski aku belum pernah kesetrum sebelumnya. Tapi, kurang lebih seperti itu."

__ADS_1


Reza semakin berhasrat ketika Zahra mengucapkan kata-kata yang memancing gairahnya. "Apa kamu sengaja memancingku, hem?"


"Memancing apa? Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan Mas. Aku suka saat kamu berbisik pelan di telingaku. Kamu berkata, bahwa sangat mencintaiku. Kamu tahu, Mas! Aku bahagia mendengarnya. Suara ******* mu membuatku semakin bersemangat untuk memandang wajahmu," ucap Zahra dengan tersenyum manis.


Reza juga ikut tersenyum. "Aku baru tahu, kalau istriku yang lemah lembut ini ternyata nakal juga. Aku suka melihat sisimu yang satu ini. Jangan perlihatkan pada orang lain sisi nakalmu ini. Oke!"


"Menggoda suami sendiri itu juga termasuk pahala Mas. Jadi ini sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang istri."


Reza menatap mata Zahra dengan sangat lekat. Dia meraih dagu istrinya, kemudian mengecupnya lembut. Kecupan lembut itu berubah semakin dalam. Zahra juga membalas kecupan itu dengan penuh semangat.


Reza melepaskan tautan bibirnya dan kecupan itu beralih di tengkuk leher Zahra. Dia terus menyusuri bagian itu hingga membuat Zahra mengeluarkan suara.


"Ahhh, Mas pelan-pelan," ucap Zahra lirih.


"Sayang aku sudah tidak tahan, ayo kita pindah tempat!"


Zahra tersenyum dan mengangguk. Lalu Reza berdiri dan menggendong Zahra untuk menuju ke kamar.


Sesampainya di kamar, Reza langsung membawa Zahra ke tempat tidur. Tanpa melepaskan tautan bibirnya, dengan cepat Reza membuka pakaiannya dan juga pakaian istrinya.


Kini mereka berdua dalam keadaan saling polos satu sama lain. Reza terus mencium bu Zahra yang sudah mabuk karena sentuhan lembut suaminya.


"Zahra ... aku mencintaimu istriku!" bisik Reza pelan dengan gerakan maju mundurnya. Zahra hanya bisa diam dan merasakan aksi suaminya.


Kurang lebih setengah jam, Zahra sudah mulai kelelahan. Dia merintih dan memohon pada suaminya agar segera menyelesaikan aksi itu.


"Mas, aku sudah lelah!"


"Sebentar lagi, Sayang! Bertahanlah ini tidak akan lama!" sahut Reza dengan suara parau.


Aksi itu terus berlangsung, hingga mereka saling bersahutan mengeluarkan suara de Sahan yang memacu gai rah masing-masing.


Deru napas Reza semakin berat ketika dia sampai pada puncaknya. Reza mempercepat ritme dan akhirnya dia mengakhiri aksinya dengan menyemburkan benih cintanya ke rahim suci milik Zahra.


"Sayang, maaf membuatmu kelelahan. Jangan tidur dulu, tunggu sebentar. Lalu bersih-bersih, baru kita tidur," ucap Reza dengan mengatur pernapasannya.


Zahra mengangguk dengan mata terpejam. Dia terlihat sangat lelah sekali. Selang beberapa menit, Zahra bangun dan segera membersihkan badannya. Setelah selesai, dia beranjak tidur.


Reza menarik Zahra dalam pelukannya. "Tidurlah, besok Papa dan Mama akan ke sini membawa Sazhia dan Keynara. Semua barang-barang kita juga akan sampai besok."


"Hem apa kita mulai tinggal di sini, Mas?" tanya Zahra dalam keadaan mengantuk.

__ADS_1


"Iya mulai besok kita tinggal di sini. Kamu setuju 'kan, Sayang?"


"Apapun itu aku setuju, Mas. Sekarang aku ingin tidur ngantuk sekali."


"Tidurlah istriku, mimpi yang indah," jawab Reza dengan mengecup lembut wajah Zahra. Setelah itu mereka tidur bersama dalam keadaan bahagia.


Keesokan harinya.


Reza sudah bangun lebih awal. Dia sengaja tidak membangunkan istrinya karena kasihan. Lalu, dia memberikan kejutan dengan membawa Sazhia dan Keynara ke dalam kamarnya. Reza menidurkan kedua bayi itu di samping Zahra yang masih tertidur.


"Sayang, lihatlah Bundamu terlihat sangat kelelahan sekali. Itu semua gara-gara Papa tentunya," ucap Reza pada kedua bayinya.


Keynara dan Sazhia saling berceloteh masing-masing. Hingga suara celotehan itu membangunkan Zahra dari tidurnya.


"Mas, kenapa aku mendengar suara Sazhia di sini? Apa ku sedang bermimpi?" ucap Zahra dengan suara khas bangun tidur.


Reza hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Zahra. Justru Reza semakin membuat Sazhia dan Keynara mengeluarkan suara lagi.


Reza bermain ciluk ba dengan kedua bayinya. Lalu suara tawa Keynara membuat mata Zahra terbuka sempurna. Dalam gerak cepat Zahra membalikkan badan dan melihat kedua putrinya itu berada di atas tempat tidur.


"Sayang, Bunda kangen Nak!" seru Zahra ingin memeluk Sazhia. Akan tetapi Reza menghentikannya.


"Stop ... Bunda jangan cium kalau belum sikat gigi. Bunda bau tahu," celetuk Reza menirukan ucapan Sazhia.


"Mas, apa-apaan, kenapa kamu tidak membangunkan ku?"


"Bukanya kau sudah bangun sendiri, ini juga atas persetujuan Key dan Sazhia kok, iya 'kan, Sayang!"


Zahra semakin gemas, dia langsung turun dari kasur dan menuju ke kamar mandi. Zahra menggosok gigi, setelah selesai dengan cepat dia berlari menuju ke tempat tidur.


"Sazhia, Bunda kangen sama kamu. Apa kamu juga kangen, Bunda? Pasti kangen ya 'kan Sayang," seru Zahra sangat bahagia.


"Terima kasih, Mas. Selalu mengerti apa yang aku mau. Terima kasih untuk semuanya, karena tidak bisa aku ucapkan satu per satu."


"Sama-sama istriku, sudah menjadi kewajibanku untuk membahagiakanmu. Mulai sekarang kita tinggal di sini. Kita akan berbagi suka, duka, sedih, dan bahagia di rumah ini. Aku akan menjaga kalian dengan seluruh jiwa dan ragaku. Aku mencintaimu dan juga kedua putri kita. I Love You, istriku."


"Love you too, suamiku!"


Reza dan Zahra saling berpelukan dengan penuh bahagia. Mereka mencurahkan semuanya tanpa ada rahasia lagi. Saling menyayangi dan menerima kekurangan pasangan adalah kunci hubungan langgeng mereka. Semoga kita semua selalu di beri kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga kita.


❤️ **TAMAT**❤️

__ADS_1


__ADS_2