Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Mencoba Kembali


__ADS_3

Zahra terisak melihat kepergian Rizal. Lelaki yang selama 5 tahun mendampinginya itu telah pergi untuk selamanya. Meski telah hilang rasa karena perlakuan kejam Rizal, tak membuat Zahra membencinya. Dia justru kasihan karena bayi yang dikandungnya telah menjadi yatim sebelum lahir ke dunia.


"Sudah, Zahra. Kamu sudah mengikhlaskan dan juga memaafkan Rizal. Jadi itu akan mempermudah jalannya," ucap Reza pada Zahra yang syok.


"Aku hanya tidak menyangka akan secepat ini, Mas," jawab Zahra.


"Kita keluar dulu, aku mau hubungi Papa," ajak Reza.


Zahra ikut keluar dari ruangan itu. Dia meninggalkan Rizal yang sudah terbujur kaku. Sesampainya di luar, Zahra duduk di ruang tunggu. Kakinya masih gemetar dengan kenyataan yang ada di depannya.


Setelah itu, Reza datang menghampiri dan berkata, "Zahra, aku harus mengurus pemakaman Rizal dulu. Papa memintamu untuk menjaga Mama. Kamu tidak keberatan 'kan?"


Zahra menjawab, "Tidak Mas. Aku akan ke ruangan Mama sekarang. Kamu hati-hati ya!"


Zahra langsung menuju ke ruangan ibu mertuanya. Dia masuk ke dalam dengan perasaan ragu. Bu Silvi langsung menoleh ke arah pintu. Wajahnya tampak murka ketika melihat Zahra datang menjenguknya.


"Emm ... Emm ... Emm," ucap Bu Silvi, dia tidak bisa berbicara karena mengalami stroke.


"Emm ... Emm ... Emm."


"Ma, Papa memintaku untuk menunggui Mama di sini," ucap Zahra, dia duduk di sebelah ibu mertuanya.


Bu Silvi menggeleng keras. Dia ingin menolak kehadiran Zahra.


Zahra mendekati ibu mertuanya. "Mama, kalau butuh apa-apa panggil saja aku. Papa sedang sibuk sekarang," ucap Zahra pelan.


Mata Bu Silvi melotot dan terus melihat ke arah Zahra. Ingin sekali Zahra memberitahukan berita tentang Rizal dan Viona. Akan tetapi dia takut kalau Ibu mertuanya shock.

__ADS_1


Zahra duduk tanpa mempedulikan ibu mertuanya. Dia mencoba untuk tenang, meski hatinya sedang tidak baik-baik saja.


Di tempat lain Reza juga sedang sibuk untuk mengurus pemakaman Rizal. Dia membantu ayahnya untuk membawa jenazah Rizal dan Viona ke Jakarta. Sehingga proses itu memakan banyak waktu dan cukup lama hingga keesokan harinya.


Keesokan Harinya.


Reza kembali ke rumah sakit di mana ibu tirinya dirawat. Dia mendapatkan tugas dari sang ayah untuk membawa kembali ibunya ke Jakarta.


Sesampainya di rumah sakit Reza langsung masuk ke ruangan ibunya. "Assalamualaikum," sapa Reza kepada Zahra.


" Waalaikumsalam," jawab Zahra. Dia sedang mengompres wajah Ibu mertuanya. " Mas, bagaimana? Apakah semuanya sudah selesai?" tanya Zahra dengan raut wajah cemas.


Reza mengangguk dan menjawab," Sudah Papa memintaku untuk memindahkan perawatan Mama ke rumah sakit Jakarta. Bisa kita keluar sebentar, aku ingin berbicara sesuatu padamu."


Zahra langsung mengikuti Reza keluar dari ruangan itu. " Ada apa, Mas? Sepertinya kamu sangat serius sekali," ucap Zahra.


Zahra tersenyum. " Aku mau kembali ,Mas. Aku ingin membantu Papa untuk merawat mama dan juga bayi Viona. Bukankah bayi lucu itu sangat membutuhkan aku? Aku akan menjadi Ibu untuknya dan aku sudah memantapkan hati untuk mengangkatnya sebagai anakku. Aku akan memberikan kasih sayang kepada bayi itu seperti aku menyayangi bayi yang aku lahirkan nanti. Sikapku sudah benar 'kan, Mas?"


Reza meraih tubuh Zahra ke dalam pelukannya. "Sungguh mulia hatimu, Zahra. Itulah yang membuatku sangat kagum padamu. Kamu tunggu ya biar aku urus semuanya," ucap Reza.


Zahra kembali ke dalam ruangan Ibu mertuanya untuk membereskan barang-barang. Sikapnya tadi sudah dipikirkan semalaman. Dia sudah memantapkan hati merawat di bayi Viona dan juga Ibu mertuanya yang sedang lumpuh.


Satu jam kemudian, Bu Silvi keluar dari ruang rawatnya untuk pindah rumah sakit. Zahra berada dalam satu mobil dengan Reza. Membutuhkan perjalanan yang cukup lama untuk sampai di rumah.


"Kira-kira anak Mas Rizal, bisa keluar kapan ya Mas dari inkubator?" tanya Zahra penasaran.


"Ada apa kamu tanyakan itu? Apa kamu sudah tidak sabar untuk menggendongnya?" sahut Reza.

__ADS_1


Zahra mengelus perutnya. "Anak yang ada di dalam kandunganku ini sudah mempunyai seorang kakak. Jadi aku harus membiasakan diri, agar nantinya aku tidak kaget kalau bayiku lahir," jawab Zahra.


"Apa kamu pikir aku akan membiarkanmu terlalu capek? Tentu saja tidak, aku akan menyewa pengasuh untuk merawat bayi Viona. Jadi kamu bisa fokus dengan kandunganmu sendiri. Ingat jangan terlalu capek!" ucap Reza, dia menunjukkan sikap posesifnya.


"Sudah tidak usah berpikiran terlalu banyak. Sekarang kamu istirahat karena perjalanan kita masih jauh," sambung Reza.


Zahra mengangguk tanpa menjawab ucapan Reza. Dia langsung memejamkan matanya karena memang semalam tidak bisa tidur.


Kurang lebih 4 jam perjalanan, Reza sampai juga di rumahnya. Dia membangunkan Zahra yang masih tertidur. "Zahra, bangun kita sudah sampai!"


Zahra terbangun dan segera melihat ke sekitar. Dadanya bergemuruh, Zahra mengingat semua kenangan yang terjadi dalam rumah itu.


"Kamu sudah siap?" tanya Reza.


Zahra menarik napas dalam, dia mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk masuk ke dalam rumah. " Insyaallah aku kuat, Mas!"


Setelah itu Reza dan Zahra turun dari dalam mobil, mereka langsung masuk ke dalam.


"Nanti malam tidurlah di kamarku biar aku tidur di luar. Aku tidak ingin kamu mengingat kenangan pahitmu di rumah ini. Mulai sekarang akulah yang akan mengatur semuanya. Jadi kalau ada sesuatu bilanglah padaku. Aku tidak akan membiarkan kejadian pahit itu terulang kembali," ucap Reza menyakinkan Zahra.


"Terima kasih, Mas. Selalu memberiku semangat dan juga menumbuhkan kekuatanku. Seandainya tidak ada kamu, mungkin aku sudah tidak bisa bertahan lagi pada kehidupan ini," jawab Zahra.


"Sama-sama. Sekarang masuklah ke dalam, karena aku ingin ke rumah sakit untuk menemui Papa. Kalau butuh sesuatu telepon aku ya!" sambung Reza.


Zahra mengangguk. "Ya Mas hati-hati!"


Reza pun langsung pergi untuk menuju ke rumah sakit. Dia harus mengurus perpindahan ibu tiri dan juga keponakannya.

__ADS_1


__ADS_2