Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Anugerah Terindah


__ADS_3

Zahra berpamitan pada ibu mertuanya karena merasakan sesuatu terjadi pada kandungannya. "Ma, aku pamit pulang dulu ya. Besok akan aku sempatkan datang," ucap Zahra.


"Emm ... Emm," jawab ibu mertuanya.


Zahra tersenyum lalu mencium tangan Ibu mertuanya. "Assalamualaikum Ma, aku pulang," ucap Zahra.


Setelah itu, Zahra keluar dari ruangan. Dia berjalan dengan menahan perutnya yang sedikit sakit.


"Ibu ada apa? Apa ada masalah?" tanya pengasuhnya.


"Tidak apa-apa, hanya sedikit sakit saja perutku, Mbak! Ayo kita cepat pulang," jawab Zahra.


Mereka langsung mencari taksi dan segera pergi dari panti jompo itu. Di dalam taksi Zahra sudah menahan keringat dingin yang terus mengucur. Hal itu membuat asistennya khawatir. Dia terus melihat Zahra menyeka keringat yang keluar.


Sesampainya di rumah, Zahra langsung masuk ke dalam. Dia diam dan tanpa kata-kata. Hal itu membuat asistennya sedikit curiga. "Bu Zahra kenapa ya? Kok aneh sekali, apa jangan-jangan terjadi sesuatu pada kandungannya," gumam sang asisten. Lalu, dia masuk ke dalam untuk menidurkan Keynara.


Di kamar lain, Zahra merebahkan tubuhnya ke ranjang. Dia terus memegang perutnya yang terasa mulas. "Sakit sekali, apa aku mau melahirkan ya? Tapi, hari perkiraan lahir masih 3 minggu lagi. Ahh, sakit sekali," rintih Zahra.


Zahra terus rebahan dia atas kasur untuk meredakan nyeri di perutnya. Hal itu berlangsung sampai sore. Zahra berjalan mondar-mandir sembari menahan perutnya yang terus kontraksi. Akhirnya dia keluar kamar dan meminta tolong pada asistennya untuk ke rumah sakit.


"Bi, Bi Ani ... tolong Bi ... Perutku sakit sekali," seru Zahra dengan lirih.


"Astagfirullah, Neng Zahra mau melahirkan? Duduk dulu, Neng biar Bibi telepon Den Reza dulu," ucap Bi Ani.


"Handphone Mas Reza tidak aktif, Bi. Aku sudah mencoba meneleponnya tadi. Ayo Bi, antar aku ke rumah sakit. Tolong ambil tas dalam kamar yang berisi baju bayi, Bi," ucap Zahra dengan menahan sakit.

__ADS_1


"Ba-baik Neng." Bi Ani langsung menuju ke lantai atas untuk mengambil tas yang berisi baju bayi.


Zahra masih berdiri, terkadang dia menundukkan badan dengan tangan berpegangan di meja. Tak lama kemudian, Bi Ani turun dengan membawa tas yang berisi baju bayi tersebut.


"Lilis, nanti kalau Den Reza pulang bilang saja kalau ibu melahirkan," pesan Bi Ani pada pengasuh Keynara.


"Iya, Mbok!" jawab Lilis.


Setelah itu Bi Ani menuntun Zahra keluar dari rumah. Di depan sudah ada taksi yang menunggu karena sebelum itu saya sudah memesannya terlebih dulu.


"Ayo, Neng masuk ke dalam pelan-pelan," ucap Bi Ani. Setelah itu taksi pun berangkat menuju ke rumah sakit.


Zahra terus berdesis menahan sakit di perutnya. Dia terus beristighfar untuk menetralkan rasa sakit yang dirasakannya.


"Sabar Neng sebentar lagi kita sampai," ucap Bi Ani.


"Iya, nanti bibi akan temani Neng Zahra di dalam," jawab bi Ani.


Beberapa menit kemudian, taksi itu sampai juga di rumah sakit. Bi Ani ni keluar dan langsung memanggil para petugas di IGD. "Suster tolong ada yang mau melahirkan," seru Bi Ani panik.


Tak lama kemudian datanglah petugas IGD dengan mendorong brankar menuju ke taksi. Mereka membantu secara keluar dari taxi dan mintanya untuk naik ke brankar.


Bi Ani langsung menuju ke tempat pendaftaran untuk mengisi formulir. Dia sangat gugup sekali hingga kakinya gemetar.


"Den Reza cepatlah datang! Bibi bingung harus bagaimana?" ucap Bi Ani dalam hati.

__ADS_1


Di Tempat Lain.


Reza tengah berkemas, karena dia tadi rapat dengan klien. Dia mau mengaktifkan kembali handphonenya. Lalu mendapati panggilan tak terjawab dari Zahra. Reza segera menelepon balik nomor Zahra akan tetapi tidak terjawab.


"Ada apa ya? Perasaanku tidak enak," gumam Reza. Setelah itu dia menghubungi telepon rumah dan diangkat oleh pengasuh Keynara.


"Halo," ucap Reza.


[Halo, Pak Reza. Itu Bu Zahra mau melahirkan, tadi Bu Zahra sudah berangkat dengan Mbok Ani.]


Tanpa Kata Reza langsung mematikan telepon. Dia segera berlari keluar dari ruangannya untuk menuju ke parkiran.


"Zahra, semoga kamu tidak apa-apa. Aku datang Zahra," ucap Reza dalam hati.


Reza langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit. Dia tidak akan melewatkan momen berharga dengan wanita yang sangat dicintainya itu.


Di Rumah Sakit.


Zahra sudah berada di dalam ruang persalinan. Di dalam sana sudah ada dokter dan juga Bi Ani yang menemaninya. Karena pembukaan sudah lengkap maka dokter segera memberikan aba-aba kepada Zahra untuk mengejan.


Zahra terus mengejan sesuai dengan arahan dokter. Sesekali dia menarik nafas dan mengembuskannya keluar mengikuti perintah dokter. Dalam hatinya dia juga terus berdoa agar persalinannya lancar. Dia harus berjuang untuk melahirkan bayi ya sudah dinantikannya selama ini.


Hingga setengah jam berlalu. Akhirnya Zahra melahirkan buah hatinya dengan keadaan yang sehat dan selamat. Ruang persalinan itu menjadi ramai karena tangis bayi Zahra yang terdengar sangat melengking.


Pada saat yang bersamaan rasa sampai juga di depan ruang persalinan itu. Dia mendengar tangis bayi yang sangat keras. "Syukurlah kamu lahir dengan selamat. Zahra kamu pasti bahagia sekali dengan anugerah ini aku juga merasakan kebahagiaan mu," gumam Reza. Dia tengah menunggu di depan pintu.

__ADS_1


Ingin sekali Reza masuk ke dalam. Akan tetapi dia sadar kalau belum mempunyai hak itu. Dia harus bersabar sampai dokter menyatakan boleh untuk menjenguk.


__ADS_2