Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Fitnah Yang Kejam


__ADS_3

Reza mengantar Zahra pulang ke rumah. Di dalam mobil, Zahra selalu diam. Dia memalingkan wajahnya ke luar jendela. Reza selalu melirik Zahra yang terlihat sangat sedih.


"Zahra apa yang kamu pikirkan?" tanya Reza memecah keheningan.


Zahra mendengar, namun enggan menjawab. Dia bingung dengan kondisinya sendiri. Hal itu membuat hati Reza gelisah.


"Zahra, aku berharap kamu besok libur kerja. Kamu harus banyak istirahat untuk menjaga kesehatan kandunganmu. Kamu tidak usah memiliki tentang Mama ataupun Viona. Kalau mereka jahat, kamu bisa menghubungiku," ucap Reza, dia masih berusaha untuk mengalihkan perhatian Zahra.


"Iya, Mas. Aku akan berhenti kerja. Aku akan menjaga kandungan ini agar tetap sehat. Aku sedang memikirkan Mas Rizal, kenapa dia sama sekali tidak menghubungiku? Nomornya juga tidak aktif," jawab Zahra pelan.


Reza menghela nafas panjang dia tidak bisa berkata-kata lagi untuk menyadarkan adik iparnya itu. "Kamu terlalu baik, Zahra. Aku berharap semoga kamu mendapatkan kebahagiaan," gumam Reza dalam hati.


Beberapa saat kemudian, Zahra sampai di rumah. Dia turun dan keluar dari mobil. "Terima kasih sudah mengantarku pulang Mas!"


"Zahra langsung istirahat ya, jangan terlalu berpikir yang berat-berat," seru Reza dalam mobil, dia akan kembali bekerja.


Zahra menganggukkan kepalanya. Setelah itu Reza pun pergi dari menuju ke kantornya. Zahra langsung masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah tampak sepi sekali. Sepertinya Ibu mertua dan Viona sedang tidak ada di rumah, kemudian Zahra masuk ke dalam kamar.


Di Tempat Lain.


Viona pergi setelah mendapatkan foto Reza dan Zahra di rumah sakit. Dia sudah selesai cek up kandungannya. Setelah itu Viona langsung pulang ke rumahnya karena Rizal bilang dia sudah tiba di Indonesia. Seharusnya besok, akan tetapi jadwal kerjaanya sudah selesai. Hanya Pak Roni lah yang masih berada di sana.


Sesampainya di rumah, Viona langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin mengumpulkan semua bukti untuk memfitnah Zahra.


"Semua bukti ini akan mampu memberikan tamparan buat Rizal. Aku jadi tidak sabar untuk melihat sebuah pertunjukan seru," ucap Viona sembari menatap ponselnya. Setelah itu Viona bersiap-siap untuk menyambut kedatangan suaminya. Dia akan berdandan agar terlihat cantik.


Beberapa jam kemudian, Rizal sampai juga di rumah. Viona keluar untuk menyambut suaminya. "Sayang akhirnya kamu sampai rumah juga. Aku kangen sekali sama kamu," seru Viona memeluk Rizal.


Pelukan itu juga disambut hangat oleh Rizal. "Bagaimana kondisi kandunganmu? Apa kata dokter tadi?" tanya Rizal pada Viona.


"Dokter berkata kalau kandungan ku sehat dan baby kita juga sudah terlihat di layar besar waktu USG tadi," jawab Viona dengan bergelayut manja.


"Syukurlah, kalau begitu! Aku ingin cepat mandi, nanti kita ke rumah Mama!"


Viona berhenti berjalan, mendengar ucapan Rizal. "Maksudnya kamu ingin cepat-cepat bertemu Zahra?"


"Iya Viona, karena aku juga sangat merindukannya," jawab Rizal dan membuat Viona tidak senang.


Viona melepaskan tangannya dari lengan Rizal, dia kesal karena suaminya yang lebih merindukan Zahra.


"Sayang, sepertinya kamu harus berpikir dua kali jika ingin menemui istri kamu itu," ucap Viona mulai memprovokasi.

__ADS_1


Rizal menghentikan langkahnya. "Ada apa memangnya?" tanyanya penasaran.


"Mama yang bilang sama aku, dia sering melihat Zahra bermesraan dengan Mas Reza," jawab Viona, dia mulai memfitnah Zahra.


"Kamu jangan mengarang cerita palsu Viona. Zahra tidak mungkin melakukan hal seperti itu," sahut Rizal, dia menyangkal ucapan Viona.


Viona tersenyum remeh, dia sudah menduga kalau Rizal tidak akan percaya dengan kata-katanya, "Aku mempunyai bukti kok, kalau kamu tidak percaya dengan kata-kataku. Semua bukti ada di sini." Viona mengambil ponsel dan memberikannya pada Rizal.


Rizal menerima ponsel itu dan melihat semua foto dan juga video kebersamaan Reza dengan Zahra. Mata Rizal tidak berkedip menggeser foto itu satu persatu dari ponsel Viona.


"Kenapa? Apa yang sedang mereka lakukan di belakangku? Kenapa harus dengan kakakku sendiri? Zahra ... Aku tidak menyangka kamu sehina itu," gumam Rizal sangat geram.


Viona tersenyum ketika Rizal masuk ke dalam provokasinya. Dia terus memanasi hati suaminya sehingga timbullah rasa benci dalam pikiran Rizal. Rasa benci bertambah ketika Rizal melihat video Reza ingin memperkosa Zahra. Dia langsung menutup ponsel Viona dan Rizal beranjak untuk pergi ke rumah orang tuanya.


Viona tersenyum senang melihat Rizal yang terbakar emosi, dia berpura-pura polos untuk mencegah Rizal pergi. "Sayang kamu mau kemana? Aku tidak ingin jika orang-orang berpikir aku yang memfitnah Zahra," seru Viona dari belakang.


"Aku ingin memberi pelajaran pada Zahra. Beraninya dia berselingkuh dengan Kakakku sendiri. Benar-benar tidak akan aku ampuni."


"Sayang, tunggu dulu aku belum selesai bicara. Saat aku periksa tadi juga melihat Zahra sedang ada di rumah sakit bersama Mas Reza. Aku tanya sama suster ia berkata kalau mereka baru saja keluar dari ruang dokter kandungan." Viona terus berbicara untuk membuat Rizal marah.


"Dokter kandungan? Zahra hamil? Kenapa dia tidak memberitahuku? Atau jangan-jangan dia hamil ...."


Viona tersenyum puas, dia segera menghubungi ibu mertuanya lewat telepon. "Halo, Ma. Aku ada informasi penting. Mama segera pulang karena pertunjukan segera dimulai. Rizal sekarang menuju ke rumah Mama dengan emosi yang meledak. Cepetan ya Ma. Jangan sampai, Mama ketinggalan," ucap Viona tanpa bersalah sedikitpun.


Setelah menghubungi ibu mertuanya, Viona segera pergi menyusul Rizal dengan naik taksi.


Di perjalanan, Rizal mengemudi dengan amarah yang memuncak. Emosinya tidak terkendali lagi. "Zahra, aku tidak menyangka kamu melakukan hal segila itu. Ahhh, sial! Kenapa harus dengan kakakku," teriak Rizal dalam mobilnya.


Rizal terus berbicara sendiri dalam mobilnya. Hingga beberapa saat kemudian, Rizal sampai di rumahnya. Dia turun dari mobil dan segera masuk ke dalam mencari istrinya.


Di dalam kamar Zahra selesai sholat ashar. Dia melipat sajadah dan beranjak dari tempatnya. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan kasar dan teriakan Rizal yang keras penuh amarah.


"Zahra ...." panggil Rizal dengan raut wajah emosi.


Zahra menoleh, dan dia masih mengenakan mukenanya. "Mas, kamu sudah pulang. Aku kangen sama kamu!" seru Zahra berlari ke arah Rizal.


Rizal langsung mencengkeram kuat kedua lengan Zahra, hingga istrinya merasa kesakitan. "Jangan menyentuhku, karena aku tidak sudi disentuh oleh wanita yang tak tahu diri sepertimu," ucap Rizal dengan emosi yang menggebu.


"Mas kamu kenapa? Lenganku sakit, Mas. Kamu kenapa marah sekali?" tanya Zahra ketakutan.


Rizal terus mencengkeram lengan Zahra. Dia tidak menjawab pertanyaan istrinya. "Apa yang membuatmu berbuat sehina itu, Zahra? Katakan! Kenapa?"

__ADS_1


Zahra mencoba untuk melepaskan diri dengan menarik paksa tubuhnya sendiri. Akhirnya tubuh Zahra terlepas dan dia menatap bingung suaminya. "Kamu belum menjawab pertanyaanku, Mas? Ada apa denganmu? Aku tidak mengerti?"


Rizal terus menatap tajam istrinya. Emosinya semakin memuncak ketika Zahra tidak mau mengakui kesalahan yang dituduhkannya. "Kenapa kamu berselingkuh di belakangku Zahra? Kenapa harus dengan Mas Reza ... dia adalah kakak iparmu sendiri."


Zahra terkejut mendengar ucapan suaminya. Dia tidak menyangka kalau Rizal bisa menuduh hal yang tidak dilakukannya.


"Aku tidak berselingkuh Mas. Siapa yang memprovokasi mu? Aku selalu menjaga keutuhan rumah tangga kita. Aku tidak seperti yang kamu tuduhkan Mas. Aku tidak melakukan itu, karena aku sangat mencintaimu!" ucap Zahra dengan mata yang berkaca-kaca.


"BOHONG! Lalu, ini apa?" Rizal melemparkan sebuah amplop ke dada Zahra.


"Buka dan lihatlah amplop itu." Rizal terus berteriak keras di hadapan istrinya.


Tubuh Zahra gemetar mendengar amarah Rizal. Dia membungkuk dan mengambil amplop itu. Pelan-pelan Zahra membuka, dan dia mengambil foto yang ada di dalam amplop. Betapa terkejutnya dia melihat semua foto itu.


Di dalam foto itu adalah potret kebersamaan Zahra dengan kakak iparnya. "I-ini tidak be- benar, Mas. Ini memang aku, tapi aku tidak berselingkuh dengan Mas Reza. Ini tidak benar Mas, percaya sama aku!"


Rizal tersenyum sinis, dia mengambil ponsel Viona dalam sakunya. Lalu dia memperlihatkan video yang merekam Reza ketika akan memperkosa Zahra.


"Lalu apa artinya video ini? Apa kamu masih mau mengelak? Kamu menjijikkan Zahra, sangat menjijikan! Aku tidak menyangka kamu melakukan hal sehina itu." Rizal terus berteriak memaki istrinya.


"Aku tidak melakukannya, Mas. Aku tidak berbohong sama kamu. Mas Reza juga tidak melakukannya padaku. Percaya sama aku, Mas! Aku tidak berbohong sama kamu." Zahra berjalan mendekati Rizal, dia mencoba untuk menjelaskan semuanya.


"Stop, jangan mendekat! Kenapa kamu tidak mengakui kesalahanmu Zahra?" teriak Rizal.


Zahra terisak karena Rizal terus menuduhnya. "Karena aku tidak melakukannya, Mas. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Demi Allah, Mas! Aku tidak berbohong," ucap Zahra dengan air mata yang berlinang.


"Lantas kamu hamil anak siapa? Kamu hamil kenapa tidak memberitahuku Zahra? Kenapa?"


"Aku ingin memberikan kejutan untukmu, Mas! Aku juga menyembunyikan kehamilan ku dari Viona dan Mama. Aku tidak ingin mereka tahu. Aku tidak ingin dicelakai oleh mereka, Mas. Mama dan Viona selalu jahat kepadaku."


"Jangan menuduh Mama sembarangan, Zahra. Mama sangat menginginkan cucu darimu. Sangat mustahil jika dia ingin mencelakakanmu. Kamu jangan keterlaluan," teriak Rizal semakin marah.


"Aku tidak berbohong, Mas. Mereka ...."


"Awww!" pekik Zahra dengan memegangi perutnya. Ternyata Rizal mendorong tubuh Zahra hingga terjatuh dilantai.


Rizal mencengkeram pipi Zahra dengan kuat. "Kamu jangan menuduh Mama sembarangan, Zahra. Dia tidak mungkin melakukan hal sejahat itu. Justru kamulah yang bersalah."


"Lepas, Mas. Lepaskan tanganmu! Aku tidak menyangka kamu bakal seperti ini sama aku. Sakit, Mas!"


Rizal terus emosi pada Zahra, bahkan dia tega berbuat kasar pada istrinya.

__ADS_1


__ADS_2