Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Mencoba Ikhlas


__ADS_3

Ibu pemilik kontrakan itu berlari untuk mengejar Zahra. Tetapi Zahra telah berjalan jauh, sehingga pemilik kontrakan itu tidak menemukannya. "Waduh ke mana perginya Neng tadi ya?" gumam ibu itu.


Lalu dia bertanya kepada orang yang lewat. Orang tersebut memberitahukan bahwa Zahra sedang beristirahat di masjid. Ibu pemilik kontrakan langsung menuju ke masjid itu. Untung saja dia dapat menemukannya.


"Neng, aduh Ibu cariin dari tadi!" ucap pemilik kontrakan itu dengan napas terengah-engah.


"Ada apa Bu?" tanya Zahra.


"Itu, kamu boleh menyewa kontrakan saya. Jadi Neng bayar semua di akhir bulan. Maafin sikap Ibu tadi ya, Neng!"


Zahra tersenyum sumringah sekali. "Beneran Bu? Saya boleh tinggal di kontrakan Ibu?" tanya Zahra sekali lagi.


"Iya, Neng. Ayo kembali bersama Ibu!"


Zahra mengangguk kemudian dia mengikuti ibu pemilik kontrakan tersebut. Letak rumah kontrakan tidak terlalu jauh, jadi sebentar saja sudah sampai.


"Ini kontrakannya, semoga kamu betah ya. Oh ya kalau membutuhkan apa-apa, kamu bisa cari saya. Ini kuncinya," ucap ibu itu.


Zahra merasa bingung dengan perubahan sikap ibu pemilik kontrakan. Dia sangat penasaran, kemudian bertanya, "Ibu kenapa berubannya cepat sekali? Apa yang membuat Ibu berubah pikiran?"


Pemilik kontrakan itu sedikit gugup saat Zahra bertanya kepadanya. "Ini tadi, Ibu ditegur oleh suami. Ia berkata kalau kasih saja gitu. Kasihan," jawab ibu itu.


"Wahh, kalau begitu terima kasih banyak, Bu! Sudah mau membantu saya," sahut Zahra sangat senang.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Zahra.


Setelah ibu pemilik kontrakan itu pergi. Zahra masuk ke dalam kontrakan tersebut. Kontrakan itu cukup rapi karena memang harga sewanya yang lumayan mahal. Zahra tidak memikirkan semua itu, karena yang ada di pikirannya hanyalah bisa mendapatkan tempat tinggal.


Zahra a meletakkan tasnya kemudian dia masuk ke dalam kamar. Kali ini dia harus membersihkan kamar tersebut jika ingin istirahat.

__ADS_1


Ibu pemilik kontrakan tadi sudah sampai di rumahnya. Dia masuk ke dalam dan menemui Reza yang sudah menunggunya. "Saya sudah menemukan 'Neng' tadi, Mas. Dia juga sudah masuk ke dalam kontrakannya," ucap Ibu itu.


"Terima kasih, Bu. Bisa beritahukan nomor rekening Ibu, biar saya transfer sekarang sisa pembayarannya."


Ibu itu langsung memberikan nomor rekeningnya kepada Reza. Setelah itu, Reza mentransfer sejumlah uang kepada ibu pemilik kontrakan.


"Saya transfer 5 juta Bu. Tolong setiap hari Ibu masakin makanan untuknya, karena wanita itu sedang hamil dan dia tidak boleh bekerja terlalu capek. Ibu bisa 'kan bantu saya?" tanya Reza.


Ibu kontrakan itu langsung menjawab,"Baiklah Mas kalau begitu saya bersedia. Ngomong-ngomong, 'Neng' tadi itu siapanya Mas?"


"Dia adik ipar saya, dia ada sedikit masalah dengan suaminya. Jadi saya hanya membantu, karena dia sedang mengandung keponakan saya. Sekali lagi terima kasih Bu, kalau begitu saya permisi dulu. Tolong simpan nomor saya ya, Bu. Kalau terjadi apa-apa langsung telepon saya," pesan Reza sebelum pergi. Dia memberikan kartu namanya pad ibu pemilik kontrakan.


"Iya Mas siap menjalankan tugas," jawab Ibu itu.


Reza bisa bernapas lega karena Zahra sudah mendapatkan tempat tinggal yang aman. Setelah selesai, Reza segera kembali ke kantornya.


Di Tempat Lain.


Perasaan Rizal menjadi tidak menentu. Dia dalam kebimbangan, hatinya tidak dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Akhirnya Rizal memutuskan untuk pergi dari kantor. Dia tidak melanjutkan kerjanya lagi karena tidak bisa berkonsentrasi.


Rizal memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Dia ingin menuju ke sebuah bar untuk melampiaskan amarahnya. Setengah jam kemudian, Rizal telah sampai di sebuah bar. Dia masuk ke dalam bar tersebut dan memesan sebotol minuman beralkohol.


Pelayan bar memberikan satu botol minuman di depannya. Kemudian, Rizal menuang botol itu ke dalam gelas hingga penuh dan meminumnya habis. Rizal melakukannya sampai berulang kali.


Rizal pun mulai mabuk, dia bicara dan mengumpat dirinya sendiri. "Zahra ... Reza ... Kalian brengsek semuanya," ucap Rizal meracau.


Setelah itu dia mengambil handphonenya dan ingin menelepon seseorang. Kemudian panggilan itu tersambung dan seseorang mengangkatnya di seberang sana.


"Halo Zahra, bisakah kamu ke sini sekarang. Kepalaku pusing sekali, kamu ke sini ya jemput aku. Jangan lama-lama, aku tunggu!" ucap Rizal tanpa sadar.


Di Tempat Lain.

__ADS_1


Zahra langsung panik ketika Rizal meneleponnya. "Mas, kamu mabuk? Kamu sekarang ada di mana?" tanya Zahra dengan cemas.


Tiba-tiba saja panggilan itu terputus. Zahra beranjak dari tempat duduknya. Dia bingung harus berbuat apa?


"Apa aku harus ke sana? Hanya satu bar yang aku tahu. Tapi, bagaimana nanti kalau dia marah dan hilang kendali? Mas Rizal tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Apakah hatinya benar-benar sangat kacau? Kenapa kamu tidak percaya padaku, Mas? Kalau kamu percaya pasti kita tidak akan terpisah seperti ini."


Zahra terus berpikir dalam hati. Dia bingung harus menghampiri atau mengabaikannya. Akhirnya setelah berpikir panjang, Zahra memutuskan untuk pergi ke bar tersebut. Dia mengambil tas lalu keluar dari kontrakannya dengan terburu-buru.


Dari kejauhan, Bu Romlah melihat Zahra yang pergi dengan wajah panik. Dia langsung menghubungi Reza untuk memberikan informasi. Bu Romlah selesai menelepon Reza, kemudian dia masuk ke dalam rumahnya.


Kini Zahra sudah sampai di jalan raya, dia menghentikan taksi kemudian masuk ke dalamnya. Zahra tidak bisa duduk dengan tenang. Perasaannya berubah menjadi tidak enak. Beberapa saat kemudian, Zahra sampai di bar tersebut. Dia turun dari taksi lalu masuk ke dalam.


Di dalam bar, Rizal sedang berkelahi dengan pengunjung lainnya. Zahra syok melihat Rizal dipukuli oleh orang lain. "Kalian berhenti, jangan memukuli suamiku," teriak Zahra, lalu dia berlari untuk menolong Rizal.


Orang itu mundur, dan Zahra langsung memapah suaminya untuk keluar dari bar itu. "Ayo bangun, Mas!" Zahra menahan berat tubuh suaminya itu.


Sesampainya di luar, Zahra langsung menuju ke dalam mobil yang terparkir di depan bar. "Astagfirullah, Mas! Kenapa kamu semakin berubah seperti ini," ucap Zahra, dia mengelap darah yang keluar dari sudut bibir suaminya.


"Zahra, aku mencintaimu. Tapi kenapa kamu mengkhianati aku?" Rizal meracau tanpa sadar.


Mata Zahra mulai berkaca-kaca. Dia sangat menyayangkan sikap Rizal yang lebih percaya pada ibunya. Zahra membelai wajah suaminya. "Harus berapa kali ku bilang, Mas. Aku tidak pernah mengkhianati cinta ini. Aku selalu setia padamu, justru kamulah yang menduakan hati ini, Mas. Kamulah yang menyakiti hatiku."


"Kini di antara kita sudah tidak ada kepercayaan lagi. Aku tidak bisa berbuat banyak karena tidak ada dukungan dan tidak ada seseorang di pihakku. Aku akan melepaskan cinta ini perlahan, Mas. Semoga kamu bahagia dengan jalan yang kamu pilih. Aku berjanji akan membesarkan anak kita, walaupun tanpa kamu di samping aku. Terima kasih sudah pernah hadir dalam hidupku, Mas!" ucap Zahra dengan air mata berlinang.


Zahra mengambil handphone suaminya. Lalu, dia mengirim pesan ke Viona. Zahra memberitahu keberadaan Rizal pada Viona. Air matanya semakin deras mengalir ketika melihat wallpaper di handphone itu. Rizal masih memasang foto pertama kali mereka bertemu di waktu dulu.


Setelah itu Zahra kembali meletakkan handphone Rizal. Dia harus segera pergi sebelum Viona datang. "Mas, aku pulang dulu. Viona sudah ke sini untuk menjemputmu. Aku pergi!"


Zahra keluar dari mobil Rizal dan segera menjauh dari bar itu. Langkah kakinya sangat berat tetapi dia harus kuat untuk memulai kehidupan yang baru.


"Ya Allah, semoga engkau memberkahi keputusan yang hamba ambil ini. Hamba selalu pasrahkan semua masalah hamba kepadamu ya Allah. Hamba akan menjalaninya dengan ikhlas dan sabar. Hamba yakin engkau telah menyiapkan sesuatu yang baik untuk hamba di masa nanti." Zahra berdoa dalam hati. Lalu, dia memberhentikan taksi kemudian pulang menuju ke kontrakan.

__ADS_1


__ADS_2