Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Usaha Zahra


__ADS_3

Dua Minggu kemudian.


"Ma, aku bantu pakai baju ya! Nanti, Mama kedinginan," ucap Zahra pada ibu mertuanya.


"Emm ... Emm ... Emm." Bu Silvi bergumam, dia mengusir Zahra yang sedang membantunya mandi.


Bu Silvi sudah dua minggu di rumah sejak kepergian Rizal dan Viona. Dia begitu shock ketika mengetahui Rizal telah meninggal. Hal itulah yang membuatnya semakin membenci Zahra. Bahkan dia tidak ingin Zahra merawatnya. Bu Silvi terus marah dan menolak bantuan yang diberikan.


Zahra menghela napasnya, dia sudah sangat sabar dan telaten meski mertuanya sangat benci. Segala bantuan yang diberikan, ditolak mentah-mentah. Tidak dihargai sama sekali. Padahal bu Silvi sendiri sangat membutuhkan bantuan, karena pak Roni sedang sibuk urusan kantor.


Zahra meletakkan baju yang dibawanya. Setelah itu dia keluar karena sudah capek membujuk ibu mertuanya. Sesampainya di luar, Zahra mendengar suara Keynara menangis. Dia segera ke kamar untuk menghampirinya.


"Bi, ada apa? Kenapa Key menangis?" seru Zahra.


"Tidak tahu, Non. Tadi setelah Bibi memberinya susu, tiba-tiba saja langsung menangis," jawab pengasuh itu.


Zahra langsung menggendong Keynara untuk meredakan tangisannya. "Key, diam ya Nak. Bunda ada di sini! Key anak Bunda yang paling manis."


Zahra terus menimang Keynara dengan penuh kasih sayang. Tak lama kemudian, tangisan itu mereda dan Keynara pun tertidur. Zahra meletakkan putri angkatnya itu di ranjang bayi. Setelah itu dia keluar untuk beristirahat.


"Bi, jaga Key dengan baik. Aku mau ke kamar dulu!" ucap Zahra dengan suara lirih.


"Iya, Non. Saya mengerti !" jawab pengasuh itu.


Zahra keluar dari kamar itu dan langsung menuju ke kamarnya. Dia masuk merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Maafkan Bunda, Sayang! Sekarang kita istirahat ya!" Setelah itu Zahra memejamkan matanya karena perutnya terasa kram.


Satu jam kemudian, Reza pulang dari kantor. Dia membawa susu dan juga makanan untuk dia berikan pada Zahra. Reza meletakkan barang bawaannya di meja.


"Di mana Zahra, Bi?" tanya Reza pada Bi Ani


"Non Zahra ada di kamarnya, Den!" jawab pembantunya

__ADS_1


"Kamar, tumben sekali jam segini berada di kamar?" gumam Reza.


Setelah itu Reza langsung menuju ke kamar Zahra. Setibanya di sana, dia langsung mengetuk pintu. "Zahra, apa kau sedang tidur? Bangunlah! Tidak baik tidur di sore hari," panggil Reza dari luar.


Tak ada jawaban membuat Reza sangat khawatir. Dia mencoba masuk dan ternyata pintunya tidak terkunci. Dia melihat Zahra sedang tidur di ranjang.


"Zahra, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Reza.


Zara pun terbangun, dia mengerjapkan mata dan langsung duduk. "Kamu sudah pulang, Mas. Maaf aku tidur, karena sangat lelah sekali," ucap Zahra.


Reza ikut duduk di pinggiran ranjang."Kamu tidak bisa terus-terusan begini. Kamu sedang hamil, menjaga Keynara saja sudah sangat melelahkan. Di tambah lagi kamu juga ikut merawat Mama. Sedangkan dia sama sekali tidak menganggapmu. Berhentilah, Zahra! Aku akan mendatangkan perawat untuk mengurus Mama. Jadi kamu tidak perlu capek!"


Zahra terdiam. Dia membenarkan apa yang dikatakan Reza. "Baiklah Mas, terserah kamu saja. Aku akan merawat Keynara saja kalau begitu. Mama sangat membenciku, bahkan dia tidak mau aku sentuh," ujar Zahra sedih.


"Butuh waktu untuk semua ini! Aku yakin suatu hari nanti dia akan melihat ketulusan hatimu. Bersabarlah! Tetaplah menjadi wanita yang baik dalam segala hal." Reza mencoba untuk menyemangati Zahra.


Zahra mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan Reza.


"Oh, ya! Aku tadi membawa makanan kesukaanmu. Keluar yuk, kita makan bersama!"


"Tentu tidak, aku akan selalu ingat apa yang kamu perintahkan untukku. Sudah, ayo kita keluar!"


Zahra turun dari ranjangnya dan segera keluar bersama Reza menuju ke lantai bawah. Sejak pulang ke rumah, Reza selalu memprioritaskan kebutuhan Zahra. Dia merenovasi semua kamar agar Zahra merasa nyaman untuk tinggal.


Sesampainya di bawah, Zahra terkejut melihat barang belanja Reza. "Kamu yang membeli semua ini, Mas?" tanya Zahra.


"Iya, karena aku pikir kamu membutuhkan semuanya," jawab Reza santai.


"Kamu juga membeli pampers untuk Key," sahut Zahra dengan melihat semua barang belanjaan itu.


"Tentu saja, aku hanya sedang belajar menjadi seorang Papa dan juga suami yang baik," sindir Reza pelan.

__ADS_1


Zahra melirik ke arah Reza. Dia tahu kalau ucapan itu ditujukan untuknya. "Baiklah, silakan belajar yang rajin. Aku ingin tahu seberapa pintar pengetahuanmu, Mas."


Reza tersenyum dan mendekatkan wajahnya. "Aku akan terus belajar, agar cepat lulus. Setelah lulus tentunya akan langsung melamar untuk meminang seseorang," ucap Reza kepada Zahra.


"Semoga berhasil dan tetap semangat!" seru Zahra. Setelah itu mereka makan bersama di meja makan.


Reza senang melihat Zahra ceria lagi. Di setiap melihat Zahra bersedih, Reza terus mencari cara agar bisa membuat wanita pujaannya itu kembali tersenyum.


"Bagaimana apa makanannya enak?" tanya Reza.


Zahra mengangguk. "Ini enak sekali, Mas. Apa ini varian baru?"


"Ya, aku sengaja membeli varian yang lainnya. Aku pikir kamu tidak akan suka. Jadi aku hanya mengira saja tadi," jawab Reza.


"Aku suka kok, ini memang sangat enak sekali."


"Apakah Keynara rewel tadi?" Reza bertanya pada Zahra.


Zahra menelan makanannya dan menjawab, "Iya tadi sempat rewel Mas. Tapi, setelah aku gendong dia menjadi tenang kembali."


Reza terus tersenyum melihat wajah Zahra yang cantik. Dia bersyukur sudah diberi kesempatan untuk menjaganya.


"Zahra, aku bersyukur sekali bisa bertemu dengan wanita sepertimu," ucap Reza memuji.


Zahra hanya bisa menampilkan senyumnya ketika Reza memuji. Dia tidak menanggapi ucapan itu karena mengingat statusnya yang baru dua minggu menjadi seorang janda.


"Sudah Mas, jangan puji aku terus. Lebih baik kamu mandi biar segar! Aku akan menghabiskan makanan ini," ucap Zahra.


"Baiklah aku akan mandi sekarang, karena sang Ratu sudah memberikan perintah," seru Reza membalas ucapan Zahra.


Reza beranjak dari tempatnya, kemudian langsung melesat menuju ke atas untuk mandi.

__ADS_1


"Semoga aku tetap kuat menghadapi ini. Meski terasa sangat capek, aku akan terus berusaha mengambil hati Mama. Akan aku tunjukkan bahwa aku sangat tulus padanya," ucap Zahra pelan.


Zahra sudah menyakinkan hatinya dari awal bahwa dia akan terus berada di keluarga Narendra.


__ADS_2