Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Merahasiakan Kehamilan


__ADS_3

Setelah beberapa saat beristirahat di rumah sakit, Zahra pulang ke rumah. Meski agak sedikit ragu, namun dia tidak ada pilihan lain selain kembali. Dia turun dari taksi dan berjalan masuk ke dalam.


Sesampainya di dalam, Zahra disambut oleh madu dan juga ibu mertuanya. Mereka melihat dengan tatapan sinis. "Ingat pulang ternyata, aku kira kamu ingin pergi dari sini," cibir Viona.


"Assalamualaikum, maaf aku mau langsung ke kamar," jawab Zahra tanpa menoleh ke arah mereka.


Viona langsung berdiri mencegah Zahra masuk ke dalam kamar. "Tunggu aku mau memastikan sesuatu. Tanda apa di leher kamu? Bukankah ini bekas kecupan?" tanya Viona mengintimidasi.


Zahra terkejut dia langsung memegangi lehernya. Lalu dia mengambil kaca kecil di tas dan melihat tanda itu. Zahra diam tak bisa berkata apa-apa.


"Kenapa kamu tidak menyadarinya? Bagaimana itu bisa terjadi? kamu sedang melakukan apa Zahra?" ucap Viona dengan memojokkan Zahra.


Cara mundur beberapa langkah ke belakang, kakinya kembali gemetar. Sikap Zahra yang seperti itu membuat Viona sangat senang. Dia tersenyum bangga di dalam hati.


"Kamu membuatku berfikir yang tidak-tidak Zahra. Aku harap kamu tidak mengkhianati Rizal. Bagaimana kalau Rizal tahu, sikapmu yang sebenarnya. Aku yakin dia akan murka," ucap Viona.


"Apakah tanda itu bekas kecupan? Jadi kamu sudah berani bermain di belakang Rizal. Dasar wanita tidak tahu diri, harusnya kamu tuh bersyukur Rizal masih mau menampungmu," sahut Bu Silvi, sehingga membuat Zahra semakin tersudut.


"Aku tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku tidak pernah mengkhianati Mas Rizal. Terserah kalian akan berpikiran seperti apa, yang pasti aku tidak pernah melakukan hal-hal yang berdosa. Permisi!"


Zahra melangkahkan kakinya naik ke tangga. Tak lama kemudian ponsel Viona berdering. Ternyata panggilan tersebut dari Rizal. Viana mengangkat panggilan itu lalu dia me-loadspeakers ponselnya.


"Halo, Sayang! Akhirnya kamu meneleponku juga," seru Viona dengan keras. Dia sengaja melakukan itu untuk pamer pada Zahra.


Langkah Zahra berhenti ketika mendengar suara suaminya. Hatinya sangat sakit karena Rizal tidak pernah menghubunginya.


"Sayang, kapan kamu pulang aku sudah kangen? Kamu tahu anak kita sudah merindukan Papanya. Dia ingin kamu mengantar check up ke dokter," ucap Viona dengan manja.


Mendengar percakapan Viona membuat Zahra mengelus perutnya. Setelah itu dia melanjutkan langkahnya untuk menuju ke kamar. Dia mengabaikan percakapan antara Viona dan Rizal.


Viona merasa senang karena dia berhasil memanasi Zahra. Satu persatu rencananya sepertinya akan terlaksana. Di dalam Kamar, Zahra langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia mengelus perutnya dengan menitikkan air mata.


"Sayang, semoga kamu bertahan di rahim Bunda. Bunda berjanji akan menjaga dan menyayangimu sepenuh hati. Tumbuh sehatlah di dalam rahim Bunda. Bunda akan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untukmu, Nak!" ucap Zahra lirih.


"Mas, apakah kamu tidak merasakan kerinduanku ini? Aku hamil, Mas. Tapi aku belum berani berterus terang pada semua. Aku takut kalau mereka tidak suka dan menjahatiku," gumam Zahra.


Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Nama Rizal terpampang di layar. Zahra segera mengangkat panggilan video call itu. "Assalamualaikum, Mas!" sapa Zahra dengan wajah yang berbinar.


[Waalaikumsalam, bagaimana kabarmu Zahra? Apa kamu baik-baik saja?]


Zahra tersenyum dan mengangguk. "Aku baik-baik saja, Mas. Ya meski terkadang ada yang membuat hatiku sedih," jawab Zahra.

__ADS_1


[Apa kamu habis menangis? Maaf, jika aku belum bisa pulang. Pekerjaanku banyak sekali di sini]


Air mata Zahra jatuh menetes. Dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. "Aku merindukanmu, Mas! Sepi sekali tanpamu," ucap Zahra dengan menyeka air matanya.


[Aku tahu, keadaanmu sangat sulit. Sebagai suami aku tidak bisa berbuat banyak. Maafkan aku, Zahra.]


"Tidak apa-apa, Mas. Kamu fokus saja bekerja, insyaallah aku selalu bertahan. Aku hanya membutuhkan semangat darimu. Agar hati tetap kuat dan sabar," jawab Zahra lirih.


[Terima kasih istriku, kalau begitu sampai di sini dulu ya! Nanti kalau ada waktu luang akan aku telepon lagi. Assalamualaikum.]


"Iya, Mas. Waalaikumsalam. Kamu jaga kesehatan ya, jangan banyak begadang," ucap Zahra.


[Iya istriku.]


Setelah itu panggilan pun berakhir. Zahra meletakkan ponselnya, dalam hati terasa sedikit lega. Dia menghirup nafas dalam dan menghembuskan pelan-pelan. Kemudian, dia beranjak untuk mandi kemudian melaksanakan ibadah sholat.


Jam makan malam Zahra keluar dari kamar. Dia menuju ke dapur untuk membuat segelas susu. Di meja makan tidak terlihat Viona dan juga Ibu mertuanya. Zahra tidak memperdulikan semua itu. Kini dia akan berusaha untuk melindungi diri agar tidak tertindas oleh ibu mertuanya.


Zahra duduk sendiri di meja makan. Perutnya terasa sedikit sakit, dia mencoba untuk menenangkan hati agar tidak mempengaruhi kandungannya. Tak lama kemudian Reza datang, dia baru saja pulang dari kantor.


Melihat Risa datang Zahra langsung beranjak dari meja makan. Lalu secepat mungkin Reza menghentikannya. "Zahra tunggu! Apa kamu masih tidak mempercayaiku?"


"Maaf Mas, sebaiknya kita tidak saling berdekatan dulu. Aku takut timbul fitnah di antara kita. Sebaiknya kita saling jaga jarak, Mas Rizal tidak ada di rumah," ucap Zahra ketakutan.


Zahra mengembalikan gelas di dapur. Di saat dia melangkah tiba-tiba perutnya terasa kram. "Astaghfirullahaalladzim, perutku," rintih Zahra.


Zahra duduk dan menenangkan diri. "Sayang kamu baik-baik dalam rahim Bunda ya. Biarkan Bunda melihatmu ke dunia, Nak! Berikan Bunda kesempatan untuk menjagamu," ucap Zahra dengan mengelus perutnya.


Setelah tenang jarak mencoba untuk istirahat di kamarnya. Dia berjalan menaiki anak tangga.


Keesokan harinya.


Perut Zahra masih terasa sakit. Di hari ini dia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Zahra ingin memeriksakan kandungannya ke dokter. Tepat jam 07.00 Zahra keluar dari kamar. Dia sudah berpakaian rapi. Namun, wajahnya terlihat sangat pucat sekali. Cara berjalan melewati Viona dan ibu mertuanya yang sedang berada di meja makan.


"Heh menantu tak tahu diri, enak ya sekarang keluar masuk rumah seenaknya. Mentang-mentang ada Bi Surti di rumah kamu jadi malas-malasan," cibir Bu Silvi pada Zahra.


Zahra berhenti dan menjawab, "Maaf Ma, tapi Zahra harus pergi bekerja. Bukankah uang bulananku sudah Mama sita. Jadi biarkan aku pergi bekerja untuk mencukupi kebutuhanku."


"Ya kamu memang harus sadar diri, agar tidak menjadi benalu di rumah ini. Salah sendiri jadi wanita tidak berguna." Bu Silvi terus menghujat Zahra.


"Kalau begitu aku pergi dulu Ma. Assalamualaikum!"

__ADS_1


Bu Silvi tidak menjawab salam dari menantunya, kemudian Zahra keluar dari rumah dengan terus memegangi perutnya. Setelah itu, dia berangkat dengan naik taksi yang sudah dipesannya lewat online.


Percakapan tadi didengar oleh Reza. Dia sedikit curiga dengan wajah Zahra yang terlihat sangat pucat. Setelah Zahra pergi, Reza langsung keluar. Dia ingin mengikuti Zahra dengan diam-diam.


Zahra duduk tenang di dalam taksi. Ya sudah membuat janji dengan dokter yang menangani kandungannya. Kurang lebih setengah jam Zahra telah sampai di rumah sakit. Dia turun dari taksi dan langsung masuk ke dalam rumah sakit.


Beberapa menit kemudian, Reza pun tiba. Dia cepat keluar dari mobilnya dan segera mengikuti Zahra dari belakang. Reza penasaran dan sangat khawatir dengan adik iparnya itu.


Reza mengamati Zahra dari kejauhan. Tak menunggu lama Zahra masuk di ruangan dokter kandungan. Reza mendekat di ruangan tersebut. "Apa Zahra hamil? Sebaiknya aku menunggunya di sini!"


Di dalam ruangan Zahra sedang berkonsultasi dengan dokter. Zahra tampak khawatir sekali dengan penjelasan yang diberikan dokter.


"Selalu tenang dan jangan stres, itu sedikit cara untuk mempertahankan kandunganmu," ucap sang Dokter.


Zahra menundukkan kepalanya, kali ini dia harus benar-benar menjaga hati dan juga pikirannya. "Saya akan berusaha untuk menjaga emosi, Dok" jawab Zahra.


"Nanti saya akan memberikan vitamin dan kamu harus meminumnya tepat waktu," ucap Dokter.


Setelah itu dokter memberikan resep kepada Zahra. Kemudian cara Zahra keluar dari ruangan tersebut karena konsultasi sudah selesai. "Terima kasih Dok, kalau begitu saya permisi dulu."


Sesampainya di luar Zahra terkejut. Dia melihat Reza sedang menunggu di kursi tunggu. "Mas Reza, kamu sedang mengikuti aku," tanya Zahra.


"Maaf aku mengikutimu secara diam-diam. Aku melihat wajahmu pucat, jadi aku sangat khawatir sekali. Apa kamu sedang hamil, Zahra?" tanya Reza.


Zahra mengangguk. "Ya Mas aku hamil. Aku mohon sama kamu untuk merahasiakan kehamilanku ini. Aku takut kalau mereka jahat sama aku, Mas."


"Aku paham maksudmu, aku akan tutup mulut! Aku minta maaf sama kamu, Zahra. Aku belum tenang sebelum kamu mengatakan iya," ucap Reza penuh harap.


"Baiklah Mas, aku memaafkanmu. Aku tidak mau membahas masalah ini. Jujur aku sangat ketakutan dan syok. Aku takut kalau ada orang melihat dan salah paham."


"Kamu jangan khawatir, aku akan selalu melindungimu dari kejahatan mereka. Sekarang kamu mau pergi kemana? Apa kamu mau pergi bekerja? Sebaiknya kamu jangan terlalu lelah Zahra," ucap Reza.


Zahra menarik napas panjang. "Aku akan tetap bekerja untuk menghindari mereka, Mas. Kalau aku di rumah, nanti mereka pasti akan menindasku."


"Baiklah pilihan ada di tanganmu. Aku hanya mengingatkan saja. Jangan terlalu capek agar kandunganmu tetap sehat dan terjaga," ujar Reza.


"Apa kamu mau aku antarkan ke butik?" sambungnya.


"Tidak usah, Mas aku akan pergi naik taksi saja. Kalau begitu kita berpisah di sini. Kamu hati-hati di jalan mas! Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam," jawab Reza. Dia menatap kepergian Zahra.

__ADS_1


Setelah itu, Zahra keluar dari rumah sakit untuk menuju ke butik tempatnya bekerja. Reza sedikit tenang setelah mendapat maaf dari adik iparnya.


__ADS_2