
Lama berjalan membuat Zahra lelah. Dia beristirahat di halte bus dan merenung di tempat itu hingga larut malam. Zahra tidak tahu harus pergi ke mana lagi. Orang berlalu lalang melewatinya yang duduk sendirian.
Di kembali mengelus perutnya yang mulai terasa sakit. Dia terus berdoa untuk diberi ketabahan dan juga kemudahan. Adzan magrib berkumandang, Zahra segera berdiri meninggalkan halte bis itu untuk menuju ke masjid yang ada di seberang jalan.
Zahra ingin menunaikan ibadah sholat magrib di masjid itu. Hal yang bisa dia lakukan hanyalah berserah diri pada Yang Kuasa. Segala cobaan yang menghampiri hidupnya, dia jadikan sebagai acuan untuk memperbaiki diri agar lebih bertakwa pada penciptanya.
Zahra meletakkan kopernya dan segera pergi berwudhu di tengah kerumunan orang yang ingin sholat berjamaah. Selesai berwudhu, Zahra langsung masuk ke dalam masjid dan segera melaksanakan sholat bersama yang lainnya.
Zahra sholat dengan sangat khusyuk. Dia membuang semua beban di hatinya. Zahra berserah diri kepada Yang Kuasa. Setelah tiga rakaat selesai, Zahra duduk bersimpuh dan berdoa dengan bersungguh-sungguh.
"Ya, Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Hamba berserah kepadamu dengan segala kekuranganku. Selalu berikanlah hamba kekuatan untuk menghadapi ujianmu, Ya Allah. Mungkin ini jalan terbaik yang engkau berikan pada hamba. Hamba menerimanya dengan ikhlas, Ya Allah. Apapun bentuknya ujian yang engkau berikan, hamba akan menjalaninya dengan sabar. Semoga engkau selalu memberikan kesehatan pada diri hamba yang sangat lemah ini. Berilah hamba kesempatan untuk menjaga amanah yang engkau titipkan dalam rahim ini. Dengarlah doaku, Ya Allah. Amiinn, Amiinn, ya robalalamin."
Zahra selesai berdoa, setelah itu dia melepaskan mukenanya dan segera mundur dari tempatnya berada. Zahra keluar dari masjid itu dengan raut wajah lesu. Dia harus mencari penginapan sebelum malam mulai larut.
"Aku harus pergi sekarang," gumam Zahra dalam hati.
Zahra berjalan kembali, dia menoleh ke sana kemari mencari taksi. Namun, tidak ada satu pun taksi yang lewat. Bahkan Zahra lupa membawa handphonenya saat dia memutuskan untuk pergi.
Lama berjalan, Zahra memutuskan untuk beristirahat sebentar. Kakinya sudah tidak kuat berjalan lagi. Dia ingin menuju ke kompleks yang menyediakan kontrakan. Namun, kompleks tersebut lumayan jauh tempatnya.
"Capek sekali," ucap Zahra dengan mengatur pernapasan.
Dari kejauhan terlihat segerombolan orang yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Orang-orang itu saling berbisik dengan pandangan aneh. Merasa takut, Zahra memilih melanjutkan lagi langkahnya. Namun, segerombolan orang itu justru mengejar Zahra.
Zahra berjalan cepat sekali dengan tangan memegangi perutnya. "Ya Allah, lindungilah aku! Jauhkan hamba dari orang-orang jahat itu," ucap Zahra dalam hati.
__ADS_1
Orang-orang itu semakin cepat mengejar Zahra. Bahkan mereka berteriak untuk mencoba untuk memberhentikan Zahra.
"Hei, tunggu kamu jangan lari," teriak segerombolan orang itu.
Zahra mempercepatnya langkahnya, akan tetapi tetap saja tidak kuat. Hingga akhirnya, orang-orang itu semakin dekat dan berhasil menangkap Zahra.
"Hei, mau kabur kemana kamu? Kenapa kamu lari, ha?" teriak orang itu.
"Jangan sakiti aku, tolong lepaskan aku!"
Orang-orang itu tertawa keras. "Kamu pikir akan semudah itu kabur dari kita semua. Sekarang berikan uangmu, cepat!" teriak orang-orang itu semakin kasar.
Zahra ketakutan tubuhnya gemetar hebat. "Ba-baik, akan a-aku berikan uangku. Tetapi, kalian harus melepaskan aku," ucap Zahra tergagap-gagap. Dia memberikan seluruh uangnya pada orang itu.
Salah satu begal pun merampas tas Zahra. Namun, salah satu dari mereka memandangi Zahra dengan tatapan aneh.
Zahra terkejut, dia berjalan mundur ingin menghindar. Namun, para begal itu mencegahnya untuk kabur. "Mau kemana kamu, cantik? Ayo temani Abang malam ini. Tenang, kami tidak akan menyakitimu!" seru salah satu begal itu dengan memegangi kedua tangan Zahra.
"Tidak, jangan mendekat! Aku sudah memberikan uangnya pada kalian. Jadi lepaskan aku, atau kalian pergi dari sini." Zahra berteriak sekuat tenaga, berharap para begal itu mau melepaskan dirinya.
"Oke, kami akan melepaskanmu. Tetapi kamu harus melayani kami semua!" Begal itu langsung menarik Zahra untuk dibawanya ke tempat yang sepi.
Zahra berteriak minta tolong, namun kondisi yang sepi tak ada satu pun orang mendengar suaranya.
"Tolong, Tolong ...." Zahra terus berteriak. Dia terus memberontak ketika para begal itu ingin membawanya.
__ADS_1
Salah satu begal itu kesal mendengar teriakan Zahra. Dia membentak Zahra dengan keras, "kamu bisa diam tidak, jangan membuat kita kehilangan kesabaran."
"Kalian lepaskan aku!"
Tibalah Zahra di tempat yang sepi. Para begal itu menghempaskan tubuh Zahra di atas tanah. Zahra meringis kesakitan karena perutnya mengalami kontraksi.
Para begal itu mulai memegangi tangan dan juga kaki Zahra. Salah satu begal itu mulai bersiap untuk memperkosanya. Zahra terus berteriak meminta tolong, dia terus menghindar dari jamahan tangan begal itu.
Tangan jahat itu mulai memaksa untuk membuka kemeja yang dikenakan Zahra. Mereka menarik kasar kancing itu hingga terlepas.
"Lepas, kalian pergi dari sini! Tolong ... Tolong ...." Zahra terus berteriak sekuatnya.
Salah satu begal itu geram, karena Zahra yang tidak menurut. Ia menampar pipi Zahra agar mau melayaninya. "Plaaak!! Diam atau kubunuh kamu!" seru begal itu dengan nada emosi.
Zahra menyerah dia merasakan sakit luar biasa di perutnya. Dia tak lagi memberontak, air matanya mengalir deras. "Tolong jangan lakukan itu, aku lagi hamil! Aku mohon sama kalian," ucap Zahra lirih. Dia mulai lemas tak berdaya.
Lalu salah satu begal itu melihat kaki Zahra berdarah. "Bro, dia benar-benar hamil. Lihat ada darah mengalir di kakinya," serunya.
"Ahhh, sial. Gagal bersenang-senang kita. Ayo kita tinggalkan dia di sini sebelum ada orang yang melihat. Kalau mati bisa bahaya kita," seru begal satunya.
Setelah itu mereka meninggalkan Zahra yang sudah lemas karena kesakitan. Zahra mencoba bangkit dan duduk. Dia ingin mencari pertolongan. Zahra berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Di Tempat Lain.
Reza sedang mencoba untuk menghubungi handphone Zahra. Namun, panggilan itu tak terjawab meski telah berulang kali.
__ADS_1
"Zahra kemana ya? Tumben panggilanku tak terjawab," gumam Reza dalam hati. Setelah itu dia beranjak dari tempat duduknya dan pulang kerja.