Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Terpuruk


__ADS_3

Hampir setengah jam dokter memeriksa Zahra. Sesaat kemudian, dokter keluar dan menginformasikan untuk memindahkan Zahra di ruang rawat intensif. "Pasien akan di pindahkan ke ruang rawat intensif. Kondisi janin sangat lemah dan perlu penanganan khusus. Anda bisa langsung mengurus administrasinya untuk pemeriksaan lebih lanjut," ujar dokter itu pada Reza.


"Baik Dok, saya ingin menempatkannya di ruangan khusus dan lakukan yang terbaik untuk adik saya. Kalau begitu saya pergi sekarang untuk mengurusnya," jawab Reza, setelah itu dia langsung pergi ke bagian administrasi untuk melakukan pembayaran.


Tak lama kemudian, Zahra keluar dari IGD dan langsung menuju ke ruangan VIP yang sudah disiapkan oleh Reza. Dia mengupayakan hal terbaik, agar Zahra bisa mempertahankan kandungannya. Malam itu Reza sangat sibuk sekali, dia harus kesana kemari untuk memenuhi semua persyaratan yang dibutuhkan.


Malam semakin larut, Reza tetap menunggu Zahra yang masih belum bisa dijenguk. Reza menunggu di luar ruangan, dia sangat lelah sekali karena seharian sibuk bekerja. Ditambah lagi harus membantu Zahra yang tengah kesulitannya. Wajahnya yang bengkak pun tidak dirasakan, karena melihat Zahra yang kesakitan sudah cukup menyiksa hatinya.


Reza membuka handphonenya, dia melihat foto Zahra yang dijadikan wallpaper. "Zahra, aku benar-benar tidak bisa mengabaikanmu. Aku berjanji akan membawamu pergi jauh, setelah kamu sadar nanti. Kamu harus bahagia Zahra, kamu harus bahagia," gumam Reza dalam hati.


Reza menundukkan kepalanya, dia terlihat sangat lelah. Dia berpikir sejenak, setelah itu dia memutuskan untuk pulang ke rumah. "Aku harus pulang, agar Rizal tidak tahu keberadaan Zahra. Ya, aku harus pulang dulu!" ucap Reza beranjak dari tempatnya. Setelah itu dia mencari suster agar terus memberikan informasi ketika terjadi sesuatu.


Di Tempat Lain.


Setelah perkelahiannya dengan Reza tadi, membuat Rizal merenung di kamarnya. Dia terlihat sangat terpuruk melihat rumah tangganya dengan Zahra hancur. Dia masih berpikir kalau Zahra lah yang bersalah.


"Zahra kenapa harus dengan Mas Reza? Aku mencintaimu, tapi kenapa kamu melakukan itu di belakangku?" gumam Rizal dengan melihat foto pernikahannya dengan Zahra.


Rizal membolak-balikkan foto-foto itu dan kembali emosi ketika mengingat foto Zahra bersama dengan kakaknya.

__ADS_1


"Ahhhh, kalian memang brengsek! Zahra aku membencimu ...." Rizal terus berteriak dalam kamarnya. Dia membuang semua barang-barang yang ada di kamar itu.


Di luar tampak Viona sedang berusaha untuk membujuk suaminya. Dia mengetuk pintu kamar sejak tadi, namun tidak dihiraukan oleh Rizal.


"Sayang, kamu keluar dong! Jangan kayak gini terus! Sudahlah lupakan Zahra, dia memang tidak pantas jadi istrimu. Kamu keluar ya, kita pulang ke rumah agar hatimu bisa tenang." Viona terus membujuk Rizal agar keluar dari kamarnya.


Bu Silvi datang menghampiri, dia membujuk menantunya untuk membiarkan Rizal sementara waktu. "Viona sudahlah, Rizal tidak akan mendengarkanmu! Lebih baik kamu istirahat karena malam semakin larut. Kamu juga harus tetap menjaga kandunganmu agar tetap sehat."


"Tapi, Ma. Di dalam sana Rizal membanting semua barang. Aku takut kalau dia berbuat nekat," sahut Viona dengan penuh kekhawatiran.


"Kamu percaya sama Mama ya, Rizal tidak akan melakukan apapun yang membahayakan. Sudah, sekarang kamu masuk ke dalam kamar untuk istirahat," balas Bu Silvi.


"Kenapa dengan raut wajahmu? Apa kamu tidak berhasil menemukan wanita itu? Ternyata benar ya, kelakuanmu sangat tidak bermoral. Mencintai adik iparnya sendiri, sungguh memalukan. Seharusnya kamu itu tidak tinggal di sini, karena bisa mencoreng nama keluarga saja," cibir Bu Silvi tanpa jeda.


Reza langsung membalikkan badan, dia menatap ibu tirinya itu dengan tatapan penuh kebencian. "Apa Mama lupa? Rumah yang Mama tempati saat ini adalah rumah peninggalan alm. ibuku. Jadi yang menumpang itu adalah Mama, dan sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan rumah ini. Satu lagi, janganlah terus berbuat jahat. Apalagi saat ini menantu kesayanganmu itu sedang hamil besar. Aku khawatir kalau pembalasan jalur langit mengarah ke kalian semua."


"Jadi kamu sedang menyumpahi kami? Sebelum berceramah, lebih baik kamu lihat dirimu sendiri. Jangan seenaknya menasehatiku," jawab Bu Silvi kesal.


Reza tersenyum sinis. "Aku hanya mengingatkan saja, karena sesama manusia perlu saling mengingatkan."

__ADS_1


Viona hanya berdiri dan melihat Reza yang terus berbicara. Tak lama kemudian, Rizal keluar dari kamar itu dan menghampiri Reza yang sedang berbicara.


"Diam kamu brengsek! Kamu seharusnya pergi dari rumah ini. Bajingan sepertimu tidak pantas berada disini," teriak Rizal penuh kebencian. Wajahnya terlihat sangat kejam dengan sorot mata yang bengis.


"Hem, aku memang bajingan. Tapi tidak sebajingan kamu Rizal. Kalau terjadi sesuatu pada Zahra maka aku sendiri yang akan menghajarmu. Kamu tidak pantas untuk mendapatkan Zahra. Dia terlalu berharga untuk lelaki yang lemah sepertimu," balas Reza dengan ucapan yang sangat tegas.


"Kamu ... tidak akan pernah aku maafkan. Sini kamu, kakak keparat." Rizal mencoba menyerang kakaknya lagi. Namun, Reza berhasil dan dia kembali memukul wajah Rizal untuk menyalurkan amarahnya.


"Pukulan itu tidak seberapa dengan penderitaan Zahra di rumah ini. Ingat itu Rizal, aku tidak akan memaafkanmu jika sesuatu yang buruk terjadi pada Zahra." Reza meluapkan seluruh emosi yang dia tahan. Dia benar-benar ingin mengajar adiknya itu.


Viona menolong suaminya yang terjungkal ke lantai. Dia sangat kesal melihat perkelahian antara suami dan kakak iparnya.


"Viona kamu bawa suamimu masuk ke kamarnya. Perseteruan ini tidak akan pernah selesai," ucap Bu Silvi, dia sangatlah membenci Reza karena selalu mencampuri urusannya.


Viona langsung memapah tubuh suaminya untuk masuk ke dalam kamar."Aku kita setelah Zahra pergi, rumah ini akan tenang. Tetapi, kenapa justru semakin menegangkan. Apa perlu aku melenyapkan wanita sialan itu agar Rizal bisa terpisah darinya untuk selama-lamanya," gumam Viona dalam hati.


Sesampainya di kamar, Viona langsung merebahkan tubuh Rizal ke kasur. Rizal seperti orang linglung, dia menangis dan marah seperti orang tidak waras.


"Rizal, kalau kamu seperti ini. Maka aku akan mencari cara agar kamu bisa melupakan wanita sialan itu. Aku senang sudah bisa mengusirnya dari sini. Tinggal memikirkan cara untuk menyingkirkannya dari dunia ini untuk selamanya. Lihat saja nanti, aku tidak akan pernh puas sebelum kamu menjadi milikku sepenuhnya, Rizal Narendra!"

__ADS_1


Viona tersenyum licik, dalam kepalanya muncul berbagai rencana jahat. Sungguh dia ingin melenyapkan Zahra agar tidak ada lagi yang bisa menyaingi posisinya di hati Rizal.


__ADS_2