Demi Ibumu, Kau Khianati Aku

Demi Ibumu, Kau Khianati Aku
Balasan Yang Setimpal


__ADS_3

Prankk!!!


Suara gelas terjatuh tersenggol dari meja samping ranjang Zahra. "Astagfirullah, ada apa ini? Perasaanku tiba-tiba menjadi tidak enak," ucap Zahra dalam hati.


Zahra langsung membersihkan pecahan gelas itu. Dia mengambil kertas dan memunguti serpihan kaca tersebut dengan hati-hati. Tiba-tiba Reza masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu hingga membuat Zahra terkejut.


"Awww," seru Zahra. Jarinya tertancap serpihan gelas tersebut.


"Zahra, kamu kenapa?" Reza langsung berlari menghampiri adik iparnya.


"Jarimu berdarah. Sekarang letakkan pecahan itu, biar Bi Ani yang membersihkannya. Sekarang ikut aku, untuk mengobati tanganmu," ucap Reza. Dia menarik tangan Zahra keluar kamar.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Hanya luka kecil saja."


"Luka kecil juga harus di obati, Zahra. Kalau terjadi infeksi, bagaimana?" sahut Reza. Dia selalu mengutamakan perhatiannya pada Zahra.


Sesampainya di ruang tamu, Reza langsung mengambil kotak p3k. Dia memberi obat merah di ujung jari Zahra. Setelah itu Reza membalutnya dengan plaster.


"Sudah, sekarang istirahat lah. Di luar hujan sangat deras. Kalau ada sesuatu, aku ada di kamar," ucap Reza pada Zahra. Hari ini pertama kalinya dia menginap di villanya sendiri.


"Terima kasih, Mas. Aku ke kamar dulu." Zahra langsung menuju ke kamarnya. Dia tidak lagi memikirkan kejadian tadi. Akan tetapi tetap saja perasaannya tidak enak.


Satu jam berlalu, Zahra tidak bisa tidur. Dia sudah mencoba untuk memejamkan mata, tetapi tak kunjung tidur. "Ada apa ini? Kenapa aku tidak bisa tidur?" gumam Zahra.


Zahra tampak gelisah sekali. Dia bangun dan duduk, tak lama kemudian suara Reza membuyarkan lamunannya. "Zahra, apa kamu sudah tidur? Ada kabar buruk terjadi," seru Reza dari luar pintu.


"Belum, Mas. Sebentar aku bukakan pintu." Zahra beranjak dan langsung membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Mas?"


"Rizal mengalami kecelakaan, dan kini dia sedang ada di rumah sakit," ucap Reza membuat Zahra terkejut.

__ADS_1


"Mas Rizal kecelakaan? Lalu bagaimana keadaannya, Mas?" tanya Zahra sangat panik.


"Belum tahu, karena yang memberitahu adalah Papa. Sekarang dia ada di rumah sakit dekat sini. Aku ingin ke sana, apa kamu ikut?"


"Iya, Mas aku ikut. Tunggu aku ganti baju dulu."


"Aku tunggu di bawah," sahut Reza.


Zahra langsung masuk ke dalam kamar, dan segera berganti baju. Dia tampak tegang dan gemetar. Meski Zahra membenci perilaku Rizal terhadapnya, tidak membuat Zahra tega begitu saja.


Selesai berganti baju, Zahra langsung keluar dan menuju ke lantai bawah menemui Reza. "Aku sudah siap, Mas! Ayo kita pergi," ucap Zahra.


Setelah itu mereka pergi menuju ke rumah sakit. Hujan terus mengguyur malam itu hingga menambah kondisi semakin dramatis. Tak ada pembicaraan apapun dalam mobil. Reza dan Zahra larut dalam pikirannya masing-masing.


Dua puluh menit berkendara, Reza sampai juga di rumah sakit. Dia turun dan segera membukakan pintu untuk Zahra, kemudian mereka masuk ke dalam bersama-sama.


Reza langsung menuju ke resepsionis untuk bertanya dimana ruang rawat Rizal, "Sus, mau tanya ruang rawat pasien kecelakaan bernama Rizal Narendra."


"Terima kasih." Reza langsung menuju ke ruang IGD bersama dengan Zahra. Sesampainya di sana. Reza langsung masuk ke dalam, akan tetapi tidak jadi ketika Zahra berhenti di depan pintu.


"Kamu kenapa? Kamu takut? Kalau takut, kamu tunggu di sini saja. Biar aku yang masuk," ucap Reza menenangkan Zahra.


Zahra mengangguk lalu duduk di kursi tunggu. Dia tidak berani masuk ke dalam karena hatinya sudah bergemuruh hingga membuat kakinya gemetar.


Sepuluh menit di dalam, Reza keluar dengan penuh kepanikan. Raut wajahnya tampak tegang dan sangat sibuk sekali.


"Bagiamana keadaannya, Mas?" tanya Zahra sedikit khawatir.


"Rizal terluka parah di bagian kepala dan sekujur tubuhnya. Kaki dan tangannya patah dan harus segera di operasi. Kalau untuk Viona, sekarang dia ada di ruang bersalin untuk melakukan operasi caesar. Dia tidak sadarkan diri karena terluka sangat parah juga. Kamu tunggu di sini, aku mau mengurus biaya administrasinya dulu. Agar operasi bisa dijalankan," jelas Reza.


Zahra hanya mengangguk, dia tidak bisa berkata apa-apa. Zahra hanya mengelus perutnya yang membuncit itu. Dia terus istighfar untuk menenangkan hatinya.

__ADS_1


Jam berlalu dan Zahra masih menunggu di depan ruang operasi dengan penuh rasa khawatir. Reza juga sedang sibuk mengurusi kasus kecelakaan Rizal di kantor polisi. Zahra menunggu dengan sangat cemas karena ruang operasi belum juga terbuka.


Zahra berjalan sebentar untuk menghilangkan rasa capek karena terlalu lama duduk. Tiba-tiba ada suara yang sudah lama tidak didengarnya. Zahra menoleh ke arah suara tersebut. Dia melihat ibu mertuanya berjalan dengan penuh emosi ke arahnya.


"Ternyata kamu wanita pembawa sial. Kenapa kamu masih hidup, seharusnya kamu yang mati. Kenapa kamu muncul lagi dihadapanku, seharusnya kamu yang mati, kamu yang mati." Bu Silvi terus memukuli Zahra dengan penuh amarah.


"Ma, stop! Jangan membuat kekacauan. Ini rumah sakit Ma," seru Pak Roni menghalangi sang istri yang terus memukuli Zahra.


Zahra hanya diam, dia tidak menjawab semua ucapan ibu mertuanya. Dia pergi untuk berjaga jarak karena tidak ingin sesuatu terjadi.


Bu Silvi terus mengumpatnya kasar. "Kenapa kamu masih di sini sana pergi. Dasar pembawa sial, kalau terjadi apa-apa dengan anakku. Awas kamu ya, aku tidak akan memaafkanmu. Dengar itu!"


Bu Silvi terus memberontak, hingga akhirnya dia terlepas dan langsung menyerang Zahra. Dia menarik rambut menantunya itu dengan kasar.


"Ma, sakit Ma! Bukan aku yang membuat Mas Rizal kecelakaan!" teriak Zahra kesakitan.


Pak Roni juga berusaha menyelamatkan Zahra. "Ma, lepaskan Zahra. Dia tidak bersalah, kamu bisa dilaporkan ke polisi jika terus begini."


"Aku tidak akan pernah melepaskan wanita ini. Dia itu pembawa sial, biar aku memberinya pelajaran. Sini kamu, sini!" Bu Silvi terus berteriak hingga membuatnya menjadi pusat perhatian banyak orang.


Lalu, kejadian buruk terjadi. Bu Silvi mengalami sakit di bagian jantungnya saat dia menjambak rambut Zahra. Dia melepaskan tangannya dan menekan keras ke arah dada.


"Aduh, jantungku! Ahh ...." Bu Silvi jatuh lalu pingsan di tempat.


"Ma, Mama kenapa?" seru Pak Roni.


Tak lama kemudian Reza datang, dia melihat Zahra yang sangat ketakutan. "Ada apa, Pa?"


"Reza cepat tolong Papa membawa Mamamu ke ruang IGD," seru pak Roni. Dia sangat panik sekali.


Reza langsung mengangkat tubuh ibu tirinya itu menuju ke IGD. Melihat kekacauan itu membuat Zahra pergi ke tempat lain untuk menenangkan hatinya.

__ADS_1


"Apa salahku sehingga Mama begitu membenciku. Padahal aku selalu menurut dan tidak pernah membantahnya. Tapi, kenapa aku selalu di perlakukan secara buruk. Atau memang aku seburuk itu?" Zahra berucap dalam hati. Dia sangat prihatin dengan nasib hidupnya yang terus menderita.


__ADS_2