
Kurang lebih 20 menit, Zahra sampai di rumah kontrakan. Dia keluar dan turun setelah membayar ongkos taksi. Zahra berjalan dengan tertunduk lesu, hingga sampai di depan rumah ibu pemilik kontrakan.
Bu Romlah melihat Zahra, kemudian dia langsung keluar untuk bertanya, "Neng, dari mana? Tadi Ibu lihat seperti sangat terburu-buru," tanya Bu Romlah.
"Saya dari swalayan Bu, mencari sesuatu tetapi tidak ada," jawab Zahra berbohong.
"Kamu mencari apa, Neng. Siapa tahu Ibu bisa bantu," tanya Bu Romlah, penasaran.
"Bukan apa-apa Bu. Lain kali saja belinya, kalau begitu saya pamit Bu. Assalamualaikum," balas Zahra.
"Waalaikumsalam, " jawab Bu Romlah. Setelah itu dia melaporkan kepada Reza, karena sejak tadi Reza selalu menanyakan keberadaan Zahra.
"Halo, Mas Reza. Itu Neng Zahra sudah kembali ke kontrakan. Ibu tanya tadi katanya dari swalayan, tetapi kayak ada yang aneh gitu," ucap Bu Romlah.
Di seberang sana Reza meminta pada Bu Romlah untuk terus mengawasi Zahra.
"Baik, Mas. Saya akan selalu melaporkan jika ada yang mencurigakan," sahut Bu Romlah. Setelah itu percakapan pun berakhir.
Sesampainya di dalam kontrakan, Zahra langsung masuk dan segera membersihkan badannya. Selesai bersih-bersih, lalu dia bersiap untuk ibadah sholat isya'. Hanya dengan berdoa lah hatinya bisa tenang serta mempunyai kekuatan.
Zahra bersimpuh di hadapan penciptanya. Dia bersujud lalu berdoa berharap dimudahkan semua masalahnya. Zahra berdoa dengan berlinang air mata. Dia pasrah menyerahkan hidupnya dihadapan Sang Pencipta.
Selesai berdoa, Zahra melipat kembali sajadahnya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang di ketuk. Zahra keluar dari kamar dan segera membukakan pintu.
"Neng sudah tidur? Ini ada sedikit makanan untuk, Neng," ucap Bu Romlah dengan menyodorkan rantang makanan.
"Oh terima kasih, Bu. Maaf merepotkan," ucap Zahra dengan menerima rantang tersebut.
"Sama-sama, kalau begitu Ibu permisi dulu, Neng." Bu Romlah pun pamit.
__ADS_1
Zahra menatap rantang itu sejenak, setelah itu dia masuk ke dalam. Dari kejauhan, tampak Reza yang sedang mengamati kontrakan Zahra.
"Apa lagi yang terjadi, Zahra? Bahkan, kamu terlihat habis menangis. Ingin sekali aku ke sana menghampirimu," ucap Reza pelan. Dia terus menahan diri.
Setelah itu, Reza kembali ke rumah ibu pemilik kontrakan untuk menanyakan lagi keadaan Zahra. "Assalamualaikum, Bu. Bagaimana tadi?"
"Dari penglihatan Ibu sepertinya Neng Zahra sedang sedih Mas. Soalnya, matanya merah dan sembab, "jawab Bu Romlah.
Reza mengangguk mencoba mengerti. "Kalau begitu saya pamit, Bu. Terima kasih sudah membantu," ucap Reza. Setelah itu dia pergi dari rumah Bu Romlah.
Kini Reza sudah sampai di mobil. Setelah itu, dia melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.
Di Tempat Lain.
Viona dan ibu mertuanya telah sampai di bar tempat Rizal mabuk. Dia langsung menuju ke mobil yang terparkir di depan bar.
"Ma, lihat! Rizal babak belur, Ma! Ada apa lagi?" ucap Viona pada ibu mertuanya.
"Apa perlu Mama masuk ke dalam menanyakan apa yang terjadi, Vio?" tanya Bu Silvi.
Viona menjawab, "Tidak usah, Ma. Kita langsung pulang saja. Tapi yang bikin aku heran, siapa yang kirim pesan ke aku ya, Ma. Dia memakai handphone Rizal loh."
Bu Silvi terdiam dan ikut berpikir. "Iya juga ya, kalau orang lain tidak mungkin bisa tahu kode sandi handphonenya Rizal."
"Atau jangan-jangan, Zahra ...! Aku yakin pasti dia, Ma," seru Viona penuh curiga.
"Wanita itu 'kan masih ada di rumah sakit, Vio. Mama rasa tidak mungkin kalau dia," sanggah Bu Silvi.
Viona tetap mengelak, dia tetap yakin dengan dugaannya. "Ma, siapa lagi kalau bukan dia. Aku saja tidak tahu kode sandi handphone Rizal. Besok kita ke rumah sakit. Kalau Zahra sudah tidak ada, berarti dugaanku benar Ma!" ucap Viona.
__ADS_1
Bu Silvi mengangguk, dia membenarkan semua ucapan Viona. Setelah itu mereka pulang dan Viona yang menyetir mobilnya. Rizal terus menyebut nama Zahra dari bawah alam sadarnya. Hal itu membuat Viona sangat kesal sekali. Ternyata jauh dalam lubuk hati Rizal masih mencintai istrinya.
Bu Silvi hanya bisa diam di jok belakang bersama dengan Rizal. Dia tidak bisa mencegah Rizal karena anaknya sedang dalam keadaan mabuk.
"Sudah Vio kamu tidak usah dengarkan ucapan Rizal ini. Dia 'kan sedang mabuk jadi wajar saja. Besok Mama akan tegur Rizal," ucap Bu Silvi.
"Aku sangat kesal Ma, jika mendengar Rizal menyebut nama Zahra. Aku ingin Zahra menghilang dari dunia ini agar Rizal tidak lagi mengingatnya," balas Viona.
Viona menyetir mobil dengan penuh rasa emosi. Dia ingin marah kepada Zahra. Hingga beberapa menit kemudian, sampailah Viona di rumah barunya. Dia tidak tinggal di rumah Ibu mertuanya karena khawatir Rizal akan terus bertengkar dengan Reza.
Rizal keluar dari mobil dibantu oleh satpam. Dia sudah tidak tahu apa-apa lagi. Sesampainya di dalam, Rizal langsung masuk ke kamarnya. Viona segera melepaskan sepatu dan juga kemeja suaminya.
"Vio, Mama pulang dulu. Papa sudah menelepon Mama," seru Bu Silvi dari luar.
"Iya, Ma. Hati-hati di jalan," sahut Viona dari dalam kamar.
Viona telah melepas kemeja Rizal. Dia ingin mengambil kaos ganti untuk suaminya. Akan tetapi, tangannya dicekal oleh Rizal. Viona jatuh dalam pelukan Rizal. Untung saja Viona sempat menghindar, jadi perutnya tidak tertindih.
Rizal menatap dalam wajah Viona. Dia membeli lembut wajah itu, lalu mengecup lembut bibir Viona. Tentu saja hal itu membuat Viona luluh. Dia membalas ciuman suaminya dengan penuh gairah. Bahkan ciuman itu semakin dalam hingga Rizal merasakan sesuatu sudah menjalar ke tubuhnya.
Rizal mencoba bangun dia membalikkan tubuh Viona hingga berganti posisi. Kini Rizal sudah dikuasai oleh napsu. Dia terus menciumi bibir dan seluruh wajah Viona. Hingga hal itu berlanjut ke bagian intim.
Rizal terus menggauli istrinya. Hal sama juga dirasakan oleh Viona. Dia menikmati permainan itu. Memang Rizal jarang sekali berhubungan badan dengannya semenjak pindah. Rizal terus beralasan ketika Viona menginginkannya.
Kali ini Rizal melakukannya dengan penuh gairah jadi membuat hati Viona sangat senang. "Sayang aku suka sikapmu yang seperti ini. Pelan-pelan nanti bayi kita kesakitan," ucap Viona pelan. Dia terus memandang wajah Rizal yang terus bekerja keras.
Menit berlalu, Rizal sampai dipuncaknya. Dia mempercepat aksinya dan selesai lah olahraga panas itu. Rizal tergolek lemas di samping Viona, dengan nafas tersengal dia berkata,"Terima kasih, Zahra. Aku mencintaimu."
Bagaikan disambar petir di siang bolong. Viona terkejut karena Rizal menganggap dirinya sebagai Zahra.
__ADS_1