
Zahra meninggalkan Rizal dengan penuh amarah. Dia tidak menyangka kalau Rizal akan terus menghinanya seperti tadi. Hatinya hancur karena terus direndahkan. Zahra berjalan dengan cepat hingga kakinya tersandung lalu terjatuh.
"Awww, ssshh!" Zahra memegangi perutnya dan mencoba untuk berdiri lagi. Dia berjalan tertatih-tatih menahan nyeri di perutnya.
Air mata terus mengalir dengan rasa sakit yang sulit dijelaskan. Akhirnya dia berhenti dan duduk di kursi pinggir jalan. Dia menangis sejadi-jadinya, Zahra meluapkan semua tangisannya.
"Apa salahku ya Allah? Kenapa cobaan ini begitu berat? Bagaimana lagi aku harus bertahan, aku sudah merelakan dan mengikhlaskan semuanya. Tetapi mengapa dia terus menyakiti aku. Kuatkan aku ya Allah, kuatkan hamba!"
Zahra yang berlarut dalam kesedihannya pun merasa lemas. Dia tidak ada lagi semangat untuk kembali bekerja, tetapi bagaimanapun juga dia harus tetap kembali ke sana. Zahra berdiri kemudian dia berjalan lagi untuk mencari taksi. Tak lama kemudian taksi datang dan dia pun masuk ke dalam.
Di dalam taksi, Zahra mencoba untuk meredakan kesedihannya. Dia tidak mungkin kembali dengan raut wajah habis menangis. Tak lama kemudian Zahra sampai juga di tempatnya bekerja. Dia turun dan langsung masuk ke dalam toko bunga.
"Assalamualaikum," sapa Zahra dengan suara lemas.
"Waalaikumsalam," jawab semuanya.
"Zahra kamu kenapa? Wajah kamu? kamu habis nangis, ya?" tanya salah satu teman.
Zahra tersenyum getir. "Aku tidak apa-apa. Tadi mataku kelilipan waktu ada angin kencang," jawab Zahra.
"Kamu langsung ke ruangan manager saja, Ra. Tadi Pak Faisal mencarimu," ucap teman Zahra.
Zahra mengangguk, setelah itu dia menuju ke ruangan manager. Sesampainya di sana Zahra langsung mengetuk pintu. "Assalamualaikum," ucap Zahra.
"Waalaikumsalam. Silakan masuk," sahut sang manager dari dalam.
Setelah itu Zahra masuk ke dalam dan duduk di depan manajernya. "Bapak memanggil saya?" tanya Zahra.
__ADS_1
"Iya ada tugas untukmu. Sebelumnya saya mau bertanya dulu, apakah kamu pernah bekerja di salah satu butik?" tanya sang manager kepada Zahra.
"Iya Pak. Saya pernah bekerja di butik tidak lama kok sekitar dua minggu saja. Tetapi saya sudah resign dari sana," jawab Zahra.
"Kenapa kamu resign dari sana? Dan memilih kerja di tempat yang kecil seperti ini?"
Zahra tersenyum dan menjawab. "Bagi saya kerja di manapun itu yang penting kenyamanan, Pak. Meski gaji saya lumayan, tetapi hati saya tidak nyaman bekerja di sana. Jadi saya lebih memilih untuk resign daripada tertekan. Bukan karena pekerjaannya yang berat, akan tetapi ada masalah di dalam keluarga saya. Jadi sedikit mengganggu," jelas Zahra.
"Bagus kalau gitu. Begini, saya mau menawarkan ke kamu untuk menggantikan salah satu karyawan yang baru saja kecelakaan. Satu jam lagi, kamu datang ke acara pesta mengantarkan bunga untuk hiasan pada acara pesta ulang tahun. Mereka ini adalah pelanggan tetap saya jadi saya tidak ingin membuatnya kecewa," ucap manager itu.
"Apa yang harus saya lakukan, Pak?" tanya Zahra.
"Kamu hanya meletakkan dan menata bunga-bunga itu saja di tempat yang sudah disediakan. Kamu harus selesaikan itu 1 jam sebelum pesta dimulai. Nanti saya akan mengirimkan tiga orang untuk menemanimu ke sana. Bagiamana? Apa kamu bersedia?"
"Baik Pak, saya bersedia asal ada temannya," jawab Zahra.
Zahra langsung keluar dari ruangan itu. Meski sedang tidak bersemangat Zahra harus tetap melakukan tugasnya dengan baik. Hati dan pikirannya sedang tidak sinkron sekarang. Jadi dia harus menggunakan pikiran yang lebih untuk mengerjakan tugas itu agar selesai dengan baik.
Di Tempat Lain.
Bu Silvi sedang mengantarkan menantunya ke rumah sakit untuk check up kandungan. Viona mengalami flek semalam karena stress memikirkan Rizal yang tidak pulang ke rumah.
"Apa Mama sudah memarahi Rizal? Dia keterlaluan sekali, Ma. Rizal berubah sekarang, dia tidak lagi mendengarkan kata-kataku," ucap Viona.
"Kamu tenang saja, Mama sudah menegurnya kok. Mungkin dia sedang ada masalah di kantornya. Jadi kamu tidak usah berpikiran aneh," jawab Bu Silvi.
"Ingat kata dokter tadi, kamu jangan terlalu stress. Soalnya kandungan kamu sudah mulai masa pertumbuhan. Jadi harus banyak nutrisi dan juga mood kamu harus baik juga setiap hari," imbuhnya.
__ADS_1
Viona menjawab dengan nada lesu,"Iya Ma, aku akan berusaha sebaik mungkin."
"Jadi kamu masih ingin ikut ke pergi ke acara sama Mama?"
"Iya, Ma. Aku bosen di rumah terus. Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang," ucap Bu Silvi.
Setelah itu mereka pergi dari rumah sakit dan langsung menuju ke suatu tempat. Satu jam kemudian mereka sampai di tempat acara tersebut. Bu Silvi dan Viona turun dari mobil lalu masuk ke dalam.
Bu Silvi langsung bergabung dengan teman-temannya di dalam. Acara itu adalah pesta ulang tahun salah satu teman arisan Bu Silvi. Kebetulan juga di dalam pesta itu ada Zahra yang sedang sibuk menata bunga.
Viona yang tidak ikut mengobrol pun melihat bayangan Zahra. Emosinya pun langsung melunjak, dia mengingat ketika Rizal memanggil nama Zahra saat bercinta dengannya. Dia menggeram kesal lalu menghampiri Zahra.
"Ah, aku tidak menyangka ternyata kamu beralih profesi sebagai penata bunga di sini. Aku heran kenapa dunia ini sangat sempit sekali," seru Viona dari belakang.
Zahra menoleh ke arah suara tersebut. Dia menatap Viona dalam diam, terlalu malas untuk meladeninya. Lalu, Zahra pergi ke tempat lain untuk melanjutkan tugasnya. Tapi, Viona marah dengan hal itu dia menarik tangan Zahra dengan kasar.
"Tunggu, mau pergi kemana kamu? Urusan kita belum selesai."
"Ada apa? kenapa kamu masih menggangguku? Bukankah kamu sudah mendapatkan semua yang kamu inginkan? Aku sudah tidak mempedulikan semua itu. Aku sudah merelakan semuanya untukmu. Silakan kamu memiliki semuanya, aku sudah tidak peduli lagi. Tunggu, Mas Rizal menceraikan aku maka kamu akan menjadi satu-satunya. Bagaimanapun caramu memfitnah aku, semua itu tidak bisa menyembunyikan fakta kalau aku juga mengandung anak dari Mas Rizal,"ucap Zahra.
Viona mengepalkan kedua tangannya. "Jadi kamu bangga meski Rizal tidak mengakui anakmu itu. Sampai saat ini dia masih percaya kalau anak yang kamu kandung itu adalah anaknya Reza. Jadi jangan membanggakan diri dulu Zahra."
"Aku sangat bangga aku sangat senang dengan anak yang aku kandung ini, karena ini memang adalah impian dan doaku. Anak ini tercipta karena rasa cinta dan rasa sayang yang aku torehkan dengan Mas Rizal. Beda jauh denganmu yang memaksakan kehendak. Sekarang aku bertanya sama kamu, apakah kamu sudah mendapatkan cintanya Mas Rizal? Apakah dia sudah memperlakukan kamu dengan romantis dan mesra? Apakah kamu sudah pernah bermanja-manja dengannya? Aku sangat yakin kalau kamu belum merasakan semua itu. Jadi, apa yang kamu banggakan sekarang, tidak ada?"
"Diam kamu, jangan sampai aku berbuat kasar di sini," teriak Viona.
"Jangan mengira aku takut sama kamu, Viona. Aku tidak kalah darimu, melihat sikap Mas Reza yang berubah menjadi temperamental itu adalah pembuktian kalau akulah yang menang. Itu artinya Mas Rizal tidak bisa hidup tanpaku. Apakah kamu bisa mendapatkan kelembutannya tidak 'kan? Lalu, apa yang kamu sombongkan sekarang?" teriak Zahra keras.
__ADS_1